Masih Ada Orang Tua Tolak Imunisasi, MUI Siap Turun Lapangan Lagi

Masih Ada Orang Tua Tolak Imunisasi, MUI Siap Turun Lapangan Lagi

SHARE
Pemberian imunisasi MR bantu putuskan rantai penyebaran virus campak dan rubela. Orang tua masih bisa membawa anaknya untuk divaksin hingga 31 Desember. FOTO: PRISKA BIRAHY

TERASMALUKU.COM – Puskesmas Air Salobar, satu dari empat puskesmas yang masih ada penolakan imunisasi MR. Petugas kesehatan akan kembali lakukan pendekatan ke warga. Bahkan MUI siap turun lagi jika diperlukan.

Beberapa warga yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Air Salobar masih ada yang belum membawa anak-anak mereka untuk diimunisasi. Alasannya beragam. Padahal dinkes telah menggandeng sejumlah pihak untuk menyosialisasi imunisasi. Seperti UNICEF, LSM, tokoh agama hingga MUI untuk bantu memutuskan rantai campak dan rubela.

Kepala Puskesmas Air Salobar, drg Vonny Leatemia membenarkan jika masih terjadi penolakan imuniasi di wilayahnya. “Di sini masih ada beberapa warga yang menolak. Alasannya beragam. Tapi kami sudah coba dekati,” ungkap Vonny kepada Terasmaluku.com saat ditemui di puskesmas siang tadi (9/11).

Para orang tua umumnya beralasan anaknya sakit. Alasan lain mereka ada di rumah keluarga atau pindah. Beberapa juga ada yang mengakui jika sang anak telah mendapat vaksin MR di sekolah.

Namun untuk memastikan itu, petugas imunisasi kembali datang. Sayangnya para orang tua tak bergeming. Mereka tetap pada pendirian untuk tidak membolehkan anaknya diimunisasi.

“Kami sudah datang lagi tapi tetap tidak mau. Lalu kami minta orang tua tanda tangan penolakan, juga tidak mau,” jelasnya. Memang pemerintah melalui dinas kesehatan mengharapkan semua anak menerima imunisasi. Namun apabila orang tua tidak setuju, mereka berhak menandatangani surat penolakan.

Untuk hal itu Vonny tidak bisa berbuat banyak. Sebab sosialisasi hingga pendekatan personal telah rampung dikerjakan. Mulai dari petugas imunisasi pada 19 posyandu, bidan dan kader-kader kesehatan di lapangan. Berdasar data disdukcapil Kota Ambon, ada 3.385 anak dari total 26.762 penduduk di wilayah kerja Puskesmas Air Salobar. Dari jumlah itu capaian imunisasi di puskesmasnya sebesar 86,6 persen.

Dalam waktu dekat pihaknya berencana turun ke lapangan untuk sosialisasi ulang bersaan dengan pembagian obat filariasis atau kaki gajah. “Kami upayakan lakukan pendekatan dan kasih pemahaman lagi buat mereka. Ya semoga bisa,” harapnya.

Sementara itu saat dihubungi, ketua Majelis Ulama Indonesia Provinsi Maluku Abdullah Latuapo yang saat ini berada di Makassar mengatakan pihaknya siap turun ke lapangan jika masih ada masyarakat yang sangsi dengan imunisasi MR. “Katong sebelumnya sudah turun. Bahkan saya sendiiri bawa keterangan fatwa MUI pusat bahwa aman dan tidak ada masalah,” akunya saat dihubungi wartawan siang.

Baginya fokus utama adalah melindungi anak Maluku dari bahaya campak dan rubella. Apalagi Indonesia masuk dalam wilayah yang rawan. Bila suatu wilayah tidak bisa mencapai angka kekebalan kelompok, dikhawatirkan anak-anak rentan dan tidak kebal virus MR.

“Tidak bisa paksa, tapi coba nanti diberikan pengertian lagi buat orang tua,” sarannya. Di lain sisi Abdullah tak menampik jika sebelumya ada dua yayasan pendidikan Islam di Kota Ambon yang menolak.

Namun mereka akhirnya paham usai diberi pemahaman tentang bahaya virus bagi generasi muda. “Sebelumnya itu sekolah di Al-Fatah dan Al-Hilal tapi sudah selesai setelah ada kesepahaman. Ini demi kebaikan anak-anak Maluku,” kata Abudallah.

Menurutnya dengan ada perpanjangan waktu, orang tua bisa berpikir kembali tentang manfaat imunisasi bagi anak mereka. Fatwah dan keputusan dari MUI Pusat dirasa sudan cukup memberi jaminan keamanan bagi warga di Maluku. (PRISKA BIRAHY)

 

loading...