Masih Ada PSK di Tanjung yang Tak Bisa Pulang Kampung

by
Lokalisasi Tanjung Batu Merah Kota Ambon tutup, namun masih ada yang tak bisa kembali karena tak masuk daftar untuk dipulangkan Pemkot, Jumat (7/2/2020). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Pemulangan puluhan pekerja seks komersial (PSK) dari lokalisasi Tanjung Batu Merah menyisakan sedikit cerita. Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon juga pihak Kementerian Sosial RI mengambil kebijakan dengan memulangkan mereka juga memberi sejumlah uang.

Uang senilai Rp 6 juta itu sebagai stimulan juga biaya hidup mereka selama sebulan ke depan setelah. Uang tersebut juga sebagai modal usaha atau pengembangan ekonomi usai penutupan lokalisasi.

BACA JUGA : Akhirnya Lokalisasi Tanjung Tutup

BACA JUGA : Kemensos Pantau Aktifitas Tanjung

Berdasar data dari Pemkot Ambon ada 112 PSK. Namun yang dipulangkan hanya 52 sedang sisanya mandiri. Artinya mereka ada yang memilih pulang sendiri ke kampung halaman. Pemkot Ambon kata Walikota Richard Louhenapessy saat deklarasi penutupan, Kamis (6/2/2020) menyebut, ada tim khusus yang akan menemani mereka.

Sejumlah PSK menerima buku tabungan dari Kemensos RI

Tim itu yang akan mengantar mereka pulang hingga tiba di kampung halaman dan menyerahkan kepada pemda setempat. Itu sebagai salah satu langkah pengawasan juga pembinaan nantinya. Dengan begitu kawasan Tanjung tak lagi jadi hunian mereka.

Sayangnya ada beberapa dari mereka yang tetap bertahan di sana. Bukan karena enggan pulang, melainkan tidak memiliki biaya. Padahal dia termasuk dalam nama PSK yang menunggu fasilitasi Pemkot Ambon untuk dipulangkan. “Saya itu lihat kok nama nggak ada. Padahal saya itu termasuk di situ. Cuma kemarin pulang kampung karena gempa.  Pas kembali baru sebulan di Ambon terus mau ditutup,” aku Ati, kepada wartawan usai deklarasi penutupan lokalisasi, Kamis (6/2/2020).

Perempuan 50 tahun ini memang tidak punya biaya dan memilih untuk dipulangkan oleh Pemkot Ambon. Namun Ati beralasan jika dia sempat mudik lantaran bencana gempa beberapa waktu lalu. Kedua orang tuannya juga sakit saat itu, katanya.

Namun baru saja kembali sekitar sebulan muncul kabar lokalisasi tempatnya kerja selama lebih dari lima tahun itu akan tutup. Meski begitu namanya tidak termasuk dalam daftar penghuni lokalisasi yang akan dipulangkan.

Dia mempertanyakan bantuan pemerintah tersebut. “Saya itu punya utang ke bos sebelum pulang, ada Rp 5 juta. Sekarang mau pulang gimana, nggak tahu mau kerja apa,” tambah perempuan asal Jawa Timur yang tinggal di Ambon selama 10 tahun itu.

Dia berharap ada bantuan serta pengurusan administrasi yang jelas kepadanya juga beberapa rekan lain. Mereka siap pulang, hanya saja tidak mendapat fasilitas dari pemerintah. Menurut Ati, dia mugkin akan bertahan sambil mencari pekerjaan sampingan bakal biaya pulang ke kampung.

Di lain sisi Walikota Ambon memastikan fasilitas kepulangan dengan pesawat bagi pada PSK ke kampung mereka. Kemensos RI juga punya kebijakan memberikan uang melalui rekening bank yang dibagikan usai deklrasi kepada mereka. Tampaknya hal tersebut tidak berjalan mulus. Mesti ada pengecekkan ulang untuk memastikan kebijakan penutupan itu maksimal.  (PRISKA BIRAHY)