Melacak Jejak Peradaban Maluku Yang Kosmopolit

by
Forum Webinar yang dihelat oleh Heman Human, Senin (31/8/2020) menghadirkan Dr Rakeeman R.A.M. Jumaan, seorang mubalikh, yang dua tahun tinggal di Ambon dan melakukan riset di kepulauan Maluku serta Dr Abidin Wakanno, Dosen IAIN Ambon. FOTO : ISTIMEWA

BERAPA banyak orang Maluku yang studi filologi, yang bisa membaca naskah-naskah kuno? Berapa yang studi arkeologi sehingga dapat menggali dan meneliti berbagai warisan sejarah Maluku yang sangat kaya dan kompleks? Kita bukan saja perlu studi tentang energi dan migas menyambut Blok Masela, tapi kita juga perlu menghidupkan energi kebudayaan dan peradaban. Kita sudah tidak bisa lagi mengandalkan pendekatan monodispliner melainkan lintasdispliner dan integratif serta kolaborasi multipihak demi kemsalahatan bersama yang menjangkau masa depan.

Demikian secuil gagasan yang mengalir lancar pada forum Webinar yang dihelat oleh Heman Human, Senin (31/8/2020) dengan menghadirkan Dr Rakeeman R.A.M. Jumaan, seorang mubalikh, yang dua tahun tinggal di Ambon dan melakukan riset di kepulauan Maluku serta Dr Abidin Wakanno, dosen IAIN Ambon yang juga pegiat lintas-iman.

Sejarah Maluku sangatlah kaya dan kompleks. Demikian pula sejarah masuknya Islam di kepulauan rempah-rempah ini. Maluku yang kaya dengan rempah-rempah, utamanya cengkeh dan pala. Patut dicatat, seperti disebutkan para narasumber dan juga telah ditulis sejarawan Richard Leirissa, bahwa Maluku kala itu menunjuk pada empat kerajaan utama di Utara yakni Moluku Kie Raha; Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo. Tentu Ternate dan Tidore merupakan dua Kerajaan yang lebih dominan, yang oleh sejarawan Leonard Andaya disebut sebagai dunia Maluku (the world of Maluku).

Ibarat rempah-rempah yang terdiri dari beragam jenis, maka sejarah dan peradaban Maluku juga merupakan sejarah perjumpaan dan perpaduan beragam bangsa, agama, suku, dan peradaban. Bukan saja orang-orang Arab, Persia, Gujarat, India, Cina, tetapi juga bangsa-bangsa Eropa, utamanya Portugis, Spanyol dan Belanda. Demikian pula etnis Jawa, Bugis-Makassar, Padang, Bali, dan sebagainya berbaur dalam sejarah dan membentuk formasi peradaban Maluku yang multibudaya. Oleh sebab itu, adalah sebuah ilusi bahkan ahistoris jika kita hendak memaksakan lensa tunggal dalam membaca sejarah, budaya dan peradaban Maluku. “Maluku sejak awal sudah kosmopolit. Tidak ada identitas tunggal, melainkan plural dan saling berkelindan,” tandas Dr Wakanno.

Loading...

Menurut Dr Rakeeman, perlu dilakukan riset-riset arkeologis dan filologis untuk menelusuri berbagai jejak sejarah yang ada di Maluku. Ia juga menantang generasi muda Maluku untuk berani terjun mempelajari ilmu-ilmu tersebut agar dapat mengkaji kekayaan budaya dan sejarah Maluku, termasuk sejarah penyebaran agama Islam. Di lain sisi, Dr Wakanno melihat pentingnya merumuskan sebuah teologi agama-agama dalam bingkai budaya Orang Basudara. Sebuah teologi kontekstual yang mengakar pada budaya dan sejarah Maluku.

Suara-suara milenial juga terdengar dalam acara ini. Tari Tuasikal, seorang aktivis perempuan yang sedang melakukan riset tentang pariwisata di Maluku misalnya mengatakan bahwa bicara tentang pariwisata jangan sampai terlepas dari sejarah dan budaya masyarakat setempat. Ini bukan semata soal infrastruktur melainkan softstruktur yakni sejarah dan peradaban yang membuat objek wisata itu berjiwa. Lajang kandidat magister Perikanan IPB Bogor yang juga punya ikatan kekerabatan dengan negeri Sawai di Seram Utara ini menantang generasi muda Maluku untuk terlibat aktif dalam merajut budaya dan sejarah Maluku yang kosmopolit itu. Hal senada diaminkan oleh Nur Ibrahim yang bertindak selaku moderator acara ini.

Pikiran-pikiran cerdas juga disampaikan para peserta webinari di antaranya Izak Lattu, Ph.D dosen UKSW Salatiga dan CRCS UGM yang melihat pentingnya tradisi lisan (oral tradition) sebagai sumber-sumber sejarah yang dapat ditelusuri lebih jauh. Demikian pula Dr Ronny Helweldery, dosen STT Fak-Fak yang juga Sekretaris Umum Sinode Gereja Protestan Indonesia di Tanah Papua, yang meneliti tentang “Agama Keluarga” di Fak-Fak Papua.

“Di Fak-Fak, toleransi antar-agama terpelihara dalam keluarga. Di dalam satu keluarga bisa terdapat lebih dari satu agama,” ungkap alumni UKSW Salatiga yang pernah melakukan studi pustaka di Universitas Berkeley Amerika Serikat ini. Kee Enal, seorang peneliti yang juga pegiat ARMC IAIN Ambon memberi masukan tentang perlunya riset-riset yang mendalam terkait sejarah dan budaya Maluku serta manfaatnya untuk masa depan peradaban.

Webinar bertajuk “Jejak Sejarah Islam dan Kebudayaan” ini selain menarik sekaligus menantang. Ada agenda-agenda lanjutan yang mesti dilakukan, utamanya oleh orang muda. Ardiman Kelihu, selaku host menyebutkan kegiatan ini akan berlanjut secara serial. Pria yang sedang melanjutkan studi S2 Ilmu Pemerintahan dan Politik di UGM Yogyakarta ini menegaskan bahwa gairah dan semangat untuk belajar dan riset mesti terus digalakan, khususnya di kalangan generasi muda Maluku. (Rudy Rahabeat, kontributor Terasmaluku.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *