Membangun Dari Laut Adalah Membangun Sumber Daya Manusianya, Spirit Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2019

by
Amrullah Usemahu. FOTO : DOK PRIBADI

SUMBER DAYA  manusia adalah kunci keberhasilan pembangunan kelautan dan perikanan. ditengah kekayaan sumberdaya alam kita yang begitu besar, maka harus didukung oleh sumberdaya manusia dari sisi kualitas dan kuantitas. Pendidikan menjadi sangat penting bagi bangsa Indonesia dalam segala sektor, karena pendidikan merupakan bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dari proses penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, tangguh dan terampil sehingga dapat lebih produktif dan berdaya bersaing tinggi. dapat dikatakan bahwa kualitas SDM merupakan salah satu faktor penentu dalam mencapai keberhasilan program pembangunan kelautan dan perikanan yang salah satunya melalui pendidikan Vokasi.

Ingatkah kita ketika Negara Jepang pernah terpuruk dengan hancurnya kota Nagasaki dan Hiroshima oleh serangan bom Amerika? Jepang saat itu lumpuh total, korban meninggal mencapai jutaan, bangunan gedung mewah hangus bagaikan padang pasir putih yang mengkilau di pinggir pantai tanpa halangan apapun, efek radiasi bom yang diperkirakan membutuhkan 50 tahun lamanya untuk menghilangkan semuanya. Jepang saat itu terpaksa menyerah kepada sekutu, dan setelah itu Kaisar Hirohito mengumpulkan semua jenderalnya yang masih hidup dan menanyakan kepada mereka “Berapa jumlah guru yang masih tersisa?“.

Para jenderalnya pun bingung mendengar pertanyaan Kaisar Hirohito dan menegaskan kepada Kaisar bahwa mereka masih bisa menyelamatkan dan melindungi Kaisar walau tanpa guru. Namun, Kaisar Hirohito kembali berkata, “Kita telah jatuh, karena kita tidak belajar. Kita kuat dalam senjata dan strategi perang, akan tetapi kita tidak tahu bagaimana mencetak bom yang sedahsyat itu. Kalau kita semua tidak bisa belajar bagaimana kita akan mengejar mereka? Maka kumpulkan sejumlah guru yang masih tersisa di seluruh pelosok kerajaan ini, karena sekarang kepada mereka kita akan bertumpu, bukan kepada kekuatan pasukan.” (Sumber artikel Kompasiana)

Kita memiliki banyak perguruan tinggi, sekolah vokasi dengan tenaga pendidik yang mumpuni dan professional di bidang kelautan dan Perikanan, kiranya dapat menciptakan SDM yang handal dan berkualiltas di bidangnya. namun harus diingat kita bukan hanya sekedar menciptakan para lulusan saja di bangku studi baik di dalam dan luar negeri namun bagaimana para lulusan ini dapat terdistribusi di semua sektor lapangan kerja khususnya kelautan dan perikanan. Sesuai Visi Presiden Joko Widodo pada periode kedua ini fokus pada peningkatan sumberdaya manusia serta membuka lapangan pekerjaan sebesar-besarnya maka ini harus menjadi catatan dan perhatian khusus dalam implementasi arah dan kebijakan kelautan dan perikanan kedepan.

Jika dikaitkan dengan cerita tentang kaisar Hirohito diatas, maka yang harus kita lakukan dalam memajukan dan mempekuat SDM kelautan dan perikanan kita adalah mendata berapa jumlah lulusan perikanan di perguruan tinggi dan sekolah vokasi di negeri ini kemudian melibatkan mereka dalam program pembangunan kelautan dan perikanan yang sementara berjalan. Kita harus membuat bagaimana membuat sektor kelautan dan perikanan ini menjadi MENARIK bagi para lulusan perikanan dan lainnya untuk terjun bekerja dalam sektor tersebut.

loading...

Sementara ini yang terlihat Upah kerja yang masih rendah dan beban kerja yang begitu besar serta penuh resiko sehingga jangan heran jika banyak lulusan sekolah Vokasi lebih banyak memilih bekerja di kapal luar negeri dengan gaji selangit ataupun melakukan penyetaraan ijazah agar bisa bekerja di kapal-kapal niaga seperti kapal barang,kapal kontainer, kapal tangker dan lainnya atau hingga banting setir cari peluang kerja lain bukan di sektor kelautan perikanan padahal ijazah spesialisasinya adalah ahli nautika kapal perikanan.

Selain itu Ada banyak lulusan SUPM/SMK yang kontrak dan magang di kapal perikanan Jepang selama 3 tahun namun setelah pulang mereka tidak bisa banyak berkonstribusi dengan IPTEK yang telah dipelajari karena ruang kerja yang terbatas dan dari sisi ekonomi dianggap belum kondusif untuk bekerja pada sector ini. belum lagi dampak moratorium eks kapal asing sehingga banyak kapal perikanan tidak melaut, menyebabkan para lulusan perikanan belum bisa terdistribusi dengan baik di lapangan pekerjaan Industri – industri perikanan dari Hulu sampai ke Hilir.

Kebetulan Saya adalah salah satu lulusan sekolah vokasi perikanan (SUPM) yang pernah mengikuti program magang di Jepang dan setelah itu melanjutkan study di perguruan tinggi. antara lulusan perguruan tinggi dan sekolah vokasi pastinya memiliki skill dan kemampuan masing-masing di bidangnya serta akan saling mendukung satu sama lain dalam kegiatan industri perikanan nasional kita. Antara kemampuan manajerial, teknis dan lapangan harus berimbang. Sekarang saatnya bagaimana dibuat sektor ini menjadi menarik untuk semakin digeluti karena memiliki prospek pengembangan yang besar. Apalagi kita sementara ini berada dalam posisi 5 besar Negara produksi perikanan terbesar di dunia.

Sebagai contoh Maluku yang kaya akan sumberdaya lautnya yang tersebar di 3 Wilayah pengelolaan perikanan (WPP) Laut banda, seram dan arafura. Ratusan bahkan Ribuan kapal yang melakukan aktiftas pada wilayah tersebut namun ABKnya pada sektor hulu (perikanan tangkap) sebagian besar masih berasal dari luar Maluku, penyerapan tenaga kerja yang masih rendah yang membuat tingkat pengganguran masih tinggi.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka di Maluku pada Februari 2019 menempati peringkat ketiga secara nasional yaitu sebesar 6,91 persen atau mengalami penurunan dibandingkan periode sama 2018 sebesar 5,13 persen. Tiga provinsi yang mempunyai tingkat pengangguran terbuka paling tinggi diatas rata-rata nasional adalah Jawa Barat sebesar 7,73 persen, Banten 7,58 persen dan Maluku 6,91 persen. Ini PR bagi kita semua untuk bagaimana memecahkan persoalan-pesoalan yang ada, saling sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, pelaku usaha dan masyarakat sangat dibutuhkan.

Semua orang punya mimpi besar untuk Indonesia maju dengan pengelolaan Sektor kelautan dan perikanannya, menjadi Negara penghasil ikan terbesar di dunia, sektor perikanan tangkap dan budidaya berkembang pesat dan menjadi sumber pendapatan Negara, diversifikasi produk perikanan yang meningkat, masyarakat yang hidup di wilayah pesisir dan berprofesi sebagai nelayan semakin sejahtera, sistim logistik dan konsumsi ikan dalam negeri meningkat, industri industri perikanan berkembang pesat dan kemiskinan dapat ditekan serta banyak mimpi besar lainnya, semoga secara perlahan semua itu akan terealisasi. (Penulis : Amrullah Usemahu – Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia / Pemuda Maluku)

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *