Membangun Karakter Budaya Baru di Era Covid 19 Oleh : Dr John Ruhulessin Ketua PMI Maluku

by
Dr John Ruhulessin. FOTO : ISTIMEWA

Sejak merebaknya virus covid 19 hingga saat ini pemahaman dan penyikapan masyarakat terhadap pandemi tersebut masih terbelah, diwarnai pro-kontra. Ada yang makin menyadari pentingnya memperhatikan dan melaksanakan protokol medis dengan disiplin dan konsisten, tapi ada pula yang masih cuek bahkan berdalih pada teori konspirasi. Fenomena ini tentu makin melemahkan soliditas sosial dalam menghadapi bencana non alam yang mengglobal ini. tak bijak untuk saling berpolemik tanpa ujung. Sebab yang diperlukan saat ini ada niat tulus, komitmen, tindakan yang menolong mengatasi wabah ini dalam semangat persaudaraan lintas batas. Berikut saya sertakan tiga catatan terkait bagaimana seharusnya kita menyikapi dan berdamai dengan realitas pandemik Covid 19 saat ini.

Pertama, mengembangkan suatu budaya baru yang peka dan tanggap terhadap realitas pandemi covid 19. Kita tidak sekedar bicara tentang cuci tangan, pakai masker, jaga jarak sebagai persoalan teknis semata. Itu sudah harus menjadi gaya hidup (life styel) dan membudaya dalam keseharian kita kini dan ke depan. Budaya displin dan hidup sehat mesti sudah menyatu (built in) dalam keseluruhan kesadaran dan praktik hidup sehari-hari, dengan atau tanpa adanya virus covid 19 ini. Begitu pula, dengan atau tanpa kebijakan khususnya dari pemerintah/negara namun sudah seharusnya masyarakat membangun dan mengembangkan budaya dan karakter baru yang berorientasi pada kehidupan yang makin terlindungi dan terhindar dari ancaman kematian.

Kedua, masyarakat sebagai garda terdepan. Kita memang membutuhka fasilitas medis seperti rumah sakit, alat-alat pelindung kesehatan, juga peran aktif para tenaga medis. Kita tetap mengapresiasi dan mendukung berbagai upaya dan kerja keras para dokter, tenaga medis dan pihak-pihak yang terus mengupayakan berbagai langkah medis untuk merawat dan mencegah penyebaran virus covid 19, tetapi bersamaan dengan itu kita harus benar-benar memperkuat masyarakat sebagai garda terdepan untuk mengatasi pandemi ini.

Loading...

Masyarakat harus benar-benar tangguh (resiliens) dan dapat mensigerkan berbagai potensi sosial yang dimiliki, sehingga menjadi kluster-kluster peyanggah dan pendorong untuk percepatan pemulihan keadaan saat ini. Saya optimis, ketika kesadaran dan ketahanan masyarakat semakin kuat, maka wabah sebesar apapun pasti dapat diatasi dengan mengaktifkan kekuatan-kekuatan sosial budaya yang ada di tengah-tengah masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat merupakan subjek aktif yang perlu melakukan berbagai prakarsa dan tindakan-tindakan yang menyelamatkan kehidupan bersama.

Ketiga, terkait dengan poin kedua, maka lembaga-lembaga sosial, lembaga-lembaga keagamaan, lembaga-lembaga adat perlu makin intensif mengkonsolidasikan energi positif yang dimilikinya untuk membangun kultur dan karakter baru masyarakat di era kovid ini. Diperlukan gagasan-gagasan yang lebih segar dan tindakan-tindakan yang lebih fundamental dari lembaga-lembaga tersebut dalam membangun kultur baru tersebut.

Pola-pola lama sudah tidak relevan lagi di era yang berubah sangat cepat saat ini. Ibarat anggur baru, maka diperlukan kantong atau wadah baru untuk menampung anggur baru tersebut. Jika tidak, maka anggur itu akan tumbah karena kantong lama telah usang dan robek. Kita membutuhkan terobosan-terobosan baru yang komprehensif dengan membaca tanda-tanda zaman, yakni perubahan-perubahan revolusioner yang sedang terjadi saat ini. Hal ini penting agama lembaga-lembaga dimaksud tidak mengalami stagnasi bahkan kehilangan momentum untuk berkontribusi dalam membangun peradaban baru yang lebih baik lagi.

Dalam menyikapi kondisi yang muncul saat ini, kepanikan, kekalutan bahkan ketakutan bukan merupakan kondisi yang harus diterima dengan pasrah. Sebaliknya, kita harus terus membangun optimisme, rasa percaya diri masyarakat bahwa kita mampu mengatasi wabah ini. Bahwa kita tidak akan terus menerus terombang-ambing oleh berbagai pro-kontra yang muncul, tetapi kita harus memilih jalan baru, sebuah rute peradaban baru yang responsif terhadap realitas masa ini, sambil tetap rendah hati untuk saling belajar dan saling bekerjasama demi kemaslahatan bersama dan keselamatan dunia ini. (JR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *