Menembus Batas Dalam Karya Seni Ambon Art Walk

by
Peserta Ambon Art Walk berpose dengan latar karya fotografi Erzhal Umamit berjudul “friendship” di simpang Tugu Trikora Ambon, Sabtu (28/4). FOTO : BIR (TERSMALUKU.COM)

“Perjalanan ini bikin haru. Saat kerusuhan beta seng di Ambon tinggal terpisah orang tua dan kebayang waktu itu semua hancur e,” ungkap salah seorang peserta Ambon Art Walk (seni berjalan) Sabtu (28/4) sore. Di kawasan Aer Mata Cina, di tembok tengah pemukiman padat sebuah karya seni seperti mengorek kembali memori. Hal duka, kehilangan, perpisahan, ketakutan, curiga tapi juga baku bae, baku sayang, serta perenungan hidup tersirat dalam doodle art.

Vivi Tanamal seorang seniman yang menjadi bagian dari Ambon Art Walk coba mengintepretasi suasana kacau kala kerusuhan dalam karya seninya dari cerita dan kesan. Dia salah satu dari delapan seniman yang mengisi ruang-ruang kosong jadi perjumpaan di Kota Ambon. Puluhan peserta yang ikut diajak menikmati karya-karya apik mereka dalam ruang dan cara yang berbeda.

Morika B Tetelepta dan Joner Lakburlawal penerima hibah kelola perdamaian 2018 dari Yayasan Kelola menggagas kegiatan Art Walk bertemakan perdamaian dengan cara berbeda. Para peserta tak hanya diajak menikmati keindahan tapi menembus batas. Mereka melewati perasaan dan prasangka pribadi menyusuri lokasi-lokasi pameran yang sengaja dibuat acak di tengah Kota Ambon.

Morika Tetelepta dan karya Instalasi Musik di titik 0 KM

Spot spot pamerannya merupakan lokasi yang sempat merekam berbagai memori yang membuat orang Ambon makin baku sayang hingga oras ini. Lokasinya punya korelasi erat dengan perdamaian di Kota Ambon. Tempat-tempat yang mungkin membuat hilang kepercayaan dan penuh curiga, namun kita bakal dibawa menembus batas itu melampaui apa yang dirasa, dipikir dan dilihat.

Peserta Ambon Art Walk juga berpartisipasi dalam karya seni mereka. Lima lokasi yang ditentukan memiliki interaksi yang berbeda. Lokasi pertama, karya lukis Yudha Maghrib berjudul Memory, dibubuhkan pada salah satu sisi dinding kosong di Jalan Fuli atau yang dikenal dengan Lorong Arab atau Lorong Barampas.

Dua orang anak sedang berjalan sambil berpelukan. Di kanan dan kiri mereka terdapat gambar tangan. Di situ satu persatu peserta menuliskan nama sahabat mereka yang lama tak berjumpa atau berpisah dengan harapan suatu saat mereka bisa berjumpa. Sambil menyusuri lorong kecil dekat Pelabuhan Yos Sudarso itu, peserta menuju ke lokasi ke dua.

Simpang Trikora yang menjadi lokasi terpanas kala perang dulu. Pada dinding sebuah bangunan abu abu, terpampang gambar dua orang anak Maluku. Karya Fotografi dari fotografer asal Banda, Erzhal Umamit berjudul ‘Friendship’ bercerita tentang dua anak korban kerusuhan. Kumudian berbelok ke kawasan Pohon Pule masuk ke Aer Mata Cina, dimana Vivi Tanamal menunggu dengan karya doodle art-nya. Untuk mengabadikan moment di situ, peserta diminta berpose layaknya orang memukul tiang listrik.

“Dulu orang pasti panik saat dengar orang toki tiang listrik,” jelas perempuan yang aktif dalam Stand up Comedy Ambon itu. Tiang listrik jadi hal paling penting dan satu yang utama saat kerusuhan 1999 hingga 2004. Semua orang panik, kapan pun siap siaga, menunggu kabar dan komando melalui bunyi tiang listrik.

Dari Aer Mata Cina melintasi Kawasan Diponegoro melewati Paparisa Ambon Bergerak, mereka diajak berinteraksi dengan diri sendiri. Melihat dua sisi hitam putih dalam diri lalu berdamai dengan cara ‘nas’. Joner Lakburlawal dan dua seniman lain membuat karya mix media lukisan dengan patung kayu perbentuk tangan dengan jempol diangkat.

“Ini kaya katong barmaeng nas dalam permainan tradisional. Nas berarti stop, istirahat atau bisa pula bakubae,” jelas seniman lukis yang baru saja duet dengan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrowi menorehkan lukisan di kawasan Batu Merah saat kunjungan acara Fatayat NU itu. Beranjak dari karya berjudul ‘Bakubae’ ke lokasi terakhir.

Jempol yang berarti nas dan cermin mengartikan kita lebih dulu perlu berdamai dengan diri sendiri

Morika B Tetelpta memilih memamerkan karya instalasi musiknya di titik 0 kilometer Kota Ambon. Di area kosong bekas cafe, dia menempatkan 12 pipa berbahan stainless yang dipotong dengan ukuran berbeda. Dengan berbekal spidol dia menyilakan peserta membunyikan satu persatu pipa secara berurutan dari kiri ke kanan.12 pipa mewakili 12 nada dalam lagu Imagine milik John Lenon. Dengan dasar nada kunci F, Morika menyajikan sudut pandang perbeda tetang konsep berdamai. “Semua itu berawal dari titik nol. Hidup berdamai memulai baru dari titik nol,” ungkap penulis Emerging Indonesia 2017, Ubud Writers Festival 2017 itu.

Karya Morika cukup berbeda dengan seniman lain. Musik menjadi media pilihannya yang dinilai mengakar dan lebih dekat dengan kesehariannya. Menjadi seorang Rapper, melahirkan lirik-lirik jenius dan kritis, musik- musik magis menjadi muara karya.
Sambil mengajak peserta membunyikan lagi Imagine, dia menuturkan inspirasi datang dari karya ucapan selamat Natal di Prancis dengan membunyikan pagar rumah “Dalam pikirannya, pagar aja bisa dibunyikan jadi ucapan. Lalu mulai berpikir bikin hal serupa,” terangnya.

Peserta Ambon Art Walk menulis nama kawan pada dinding yang digambari di Lorong Arab

Waktu pengerjaan bel hanya empat hari. Namun proses berpikir menelan waktu sekitar sebulan. Tuning atau menyelaraskan nada agar sesuai yang diinginkan adalah yang cukup sulit. Pria yang pernah menelurkan album musik dari mantra orang Maluku itu bahkan sempat menggunakan rumus resonansi untuk mendapatkan bunyi yang pas. Pemotongan besi harus ekstra hati-hati. Makin pendek ukuran makin tinggi nadanya.

Karya apik Morika serta tujuh seniman lain yang tergabung dalam Komunitas Ambon Bergerak itu masih bisa dinikmati warga Kota Ambon sampai sekitar tiga bulan kedepan. Saat senggang, mainlah ke titik 0 KM lalu coba pukul 12 besi berurutan. Ikutlah bernyanyi dan resapi kalimat dalam lagu tersebut. Atau mengunjungi lorong Indojaya dan Aer Mata Cina dan berpose di situ. Segera ketika anda mengingat kawan atau sahabat karib yang lama tak jumpa atau terpisah karena kerusuhan pergilah ke Lorong Arab. Tulislah nama mereka pada dinding. Yakinlah itu adalah sebuah doa. Suatu saat kalian pasti bertemu.

Persahabatan yang kuat bakal terjalin kembali seperti karya di Trikora. Dua orang yang dulu terlibat perang pada usia yang masih anak anak dan kini bersahabat. Kenangan buruk tak melulu soal kepedihan dan luka lama. Namun keberanian menembus batas diri sendiri. Memasuki ruang ruang kosong yang dulu tak tersentuh lalu menjaganya agar tak jadi wacana klise. Damai itu selalu ada. Yang dibutuhkan adalah keyakinan merawatnya dalam cara cara kreatif dan lebih asyik. (BIR)