Mengapa Angka Bunuh Diri Meningkat di Ambon? Oleh ; Rudy Rahabeat, pembelajar Antropologi

by
Rudy Rahabeat

SEORANG sahabat menginformasikan bahwa dalam waktu dua tahun berturut-turut  delapan orang remaja-pemuda meninggal dunia karena bunuh diri. Ini tentu sebuah realitas urgen yang perlu disikapi semua kalangan, seperti urgensi menyikapi meningkatnya angka perceraian dan praktik pernikahan dini. Berikut lima catatan terkait fenomena praktik bunuh diri di kalangan remaja-pemuda di Ambon yang saya himpun dari beberapa percakapan ringkas dan pandangan di media sosial.

Pertama, bukan faktor tunggal. Sebagian orang yang saya tanyai mengaitkan praktik bunuh diri ini dengan adanya kuasa maghis (istilah orang Ambon, kuasa gelap).  Beredar  cerita bahwa sebelum sang korban meninggal ia didatangi sesosok bayangan yang menyeramkan dan menakutkan. Sosok seram itu yang dituding telah mendorong korban untuk bunuh diri. Hal ini makin dramatis ketika kematian itu datang beruntun. Ada juga yang mengaitkan itu dengan aksi para dukun dan orang-orang yang masih menggunakan kuasa-kuasa gelap tadi untuk mencelakakan orang lain.  Ini tentu pandangan umum di kalangan sebagaian masyarakat. Uniknya, pandangan seperti ini cukup dominan dan praktis diterima seperti tanpa sikap kritis.

Kedua, absennya pembinaan orang tua.  Dari media sosial dan percakapan-percakapan lepas, fakfor peran orang tua menjadi  hal penting. Orang tua mengabaikan perannya untuk bercerita dan berdiskusi dengan anak-anak mereka. Akibatnya  anak-anak memgalami kekosongan dan mencari  jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya. Begitu antara lain komentar Ibu Ketty Renwarin salah seorang tua yang melihat absennya peran orang tua dalam mendampingi anak-anak. Dalam kaitan ini, solusi yang ditawarkan adalah mengoptimalkan kembali peran orang tua dalam pembinaan dan pengawasan kepada anak-anak, termasuk para remaja dan pemuda. Tapi bagaimana dengan lingkungan di luar keluarga?

Ketiga, lingkungan pergaulan. Semalam saya mengamati sekelompok remaja berkumpul di tepi pantai, dekat sebuah gedung ibadah. Remaja-remaja itu mengendarai sepeda motor secara bergerombol. Mereka duduk-duduk di lokasi yang remang-remang sambil bicara dan tertawa lepas. Mereka seakan tidak peduli dengan simbol gedung ibadah yang letaknya tak jauh dari tempat mereka kumpul-kumpul. Apa yang dibicarakan ana-anak remaja itu? Mengapa mereka tidak betah di rumah dan mencari ruang lain untuk menemukan suasana senang? Apakah lingkungan pergaulan seperti ini dapat memberi manfaat positif kepada mereka, atau justru memicu terjadinya tindakan-tindakan negatif, termasuk bunuh diri? Semua pertanyaan ini patut ditelaah lebih mendalam dan ditemukan jawaban yang tepat.

Loading...

Keempat, pengaruh media sosial. Tak terelakan bahwa dunia saat ini dikuasai media sosial. Hampir semua anak (termasuk remaja dan pemuda) sudah memiliki gawai. Dengan gawai itu mereka terhubung dengan dunia sosial di berbagai penjuru mata angin. Arus informasi dan konten media sangat bervariasi dan mereka memiliki akses untuk mengikuti berbagai trend yang melintasi batas ruang dan waktu. Selain membawa manfaat positif, tapi media sosial juga memiliki kelemahan sebagai media transmisi konten-konten negatif. Hal ini sangat riskan bagi para remaja dan pemuda yang labil. Mereka dengan mudah dapat saja mengambil langkah-langkah nekat karen terpapar pengaruh-pengaruh negatif media sosial. Bisa jadi tindakan bunuh diri bisa juga dipicu oleh pengaruh media sosial tersebut. Tentu ini perlu diteliti lebih mendalam.

Kelima, butuh kolaborasi multipihak. Fakta delapan remaja-pemuda di sebuah kampung yang meninggal karena bunuh diri dalam rentang waktu dua bulan memanggil kita semua untuk berpikir dan bertindak untuk menyikapi fenomena ini. Tentu tidak ada faktor tunggal dan sederhana di balik realitas ini. Olehnya, dibutuhkan pula pendekatan yang komprehensif dan melibatkan berbagai pihak. Sebuah riset yang memadai dapat dilakukan oleh para akademisi khususnya ilmuan sosial.

Demikian pula pemerintah perlu mengambil langkah cepat dan antisipatif untuk meredam meningkatnya angkat bunuh diri di kalangan remaja-pemuda. Perang orang tua dalam pembinaan keluarga tentu mutlak perlu. Selain itu, lembaga-lembaga agama mesti lebih sigap dan proaktif dalam memberi jawab terhadap kenyataan tersebut.  Pengaruh media sosial dan lingkungan pergaulan perlu juga dicermati. Tujuannya, agar angka bunuh diri dapat ditekan bahkan jangan sampai orang rela mengakhiri hidupnya dengan jalan pintas dan sia-sia.

Kelima catatan ini masih bersifat umum (common sense). Perlu ada kajian dan analisis yang lebih mendalam berbasis riset yang kolaboratif. Tulisan ini hanya hendak menggugah kita untuk peka dan tanggap terhadap fakta menaiknya angka bunuh diri di kalangan remaja-pemuda, pada sebuah masa dan sebuah tempat yang kita hidup di dalamnya. Mari selamatkan kehidupan ! (RR)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *