“Mengapa Orang Bunuh Diri (Gantung Diri) ? Oleh : Steven Oita, alumni S2 Sosiologi Agama UKSW Salatiga

by
Steven Oita, M.Si, alumni S2 Sosiologi Agama UKSW Salatiga. FOTO : DOK. PRIBADI

DALAM beberapa minggu ini, Kota Ambon digemparkan dengan fenomena sosial bunuh diri (gantung diri). Tepatnya di Desa Tawiri dalam kurun waktu satu tahun telah terjadi gantung diri sebanyak 4 orang pemuda. Fenomena gantung diri tidak berhenti sampai disini, informasi yang didapatkan bahwa salah seorang pemuda di kawasan Bere-Bere melakukan bunuh diri dengan cara yang sama (gantung diri). Kasus gantung diri merupakan tragedi kemanusiaan yang di mana penyebabnya masih menjadi sebuah misteri. Pasalnya masyarakat sering mengaitkan dengan berbagai faktor, dan lebih nyaring terdengar adalah kasus gantung diri dengan kekuatan mistis. Opini yang dibangun oleh masyarakat perlu dikaji dan dianalisis oleh berbagai lembaga atau institusi yang berkaitan dengannya. Misalnya pihak keamanan (kepolisian), pihak pemerintah, akademisi, dan agama. Sehingga menemukan solusi sebagai bentuk pencegahan dalam fenomena gantung diri akhir-akhir ini.

Dalam mencari faktor-faktor penyebab dari tindakan bunuh diri (gantung diri), ada pernyataan menarik yang disampaikan Durkheim dalam bukunya. Menurutnya, “apabila ingin mencari tahu penyebab suatu kasus, yang harus dilakukan yaitu mempelajari, mengamati situasi dan kondisi yang melatarbelakangi kasus tersebut” (Durkheim, 1897, hlm. 105). Oleh sebab itu, saya mencoba mengkaji isu atau fenomena sosial bunuh diri (gantung diri) dari dua perspektif, yakni perspektif psikologi dan perspektif sosiologi. Dari dua perspektif ini melihat isu atau fenomena bunuh diri (gantung diri) yang terjadi akhir-akhir ini. Walaupun disadari bahwa kedua perspketif ini masih kurang atau terbatas dalam menganalisis fenomena bunuh diri (gantung diri). Namun paling tidak bisa memberikan pengetahuan bahkan solusi dalam mencegah kasus bunuh diri (gantung diri) di Kota Ambon.

Perspektif Psikologi

Bunuh diri adalah suatu tindakan yang disengaja untuk mengakhiri hidup diri sendiri. Pada tahun 2012, terdapat sekitar 804.000 kematian akibat bunuh diri, Asia Tenggara menyumbang 25.9% dari total kematian akibat bunuh diri di dunia. Bunuh diri diperkirakan akan menyumbang beban penyakit dunia sebanyak lebih dari 2% pada tahun 2020. Pada tahun 2006, terdapat sekitar 100.000 orang di Jakarta yang melakukan bunuh diri. Di Indonesia, kematian akibat bunuh diri mencapai 3.7 per 100.000 orang pada tahun 2012. Banyaknya kasus bunuh diri merupakan suatu indikator derajat kesehatan mental dan lingkungan sosial dari suatu negara. Tindakan bunuh diri dipicu oleh berbagai faktor dan bukan merupakan dampak dari satu stressor. Bunuh diri timbul karena interaksi dari berbagai faktor, seperti faktor sosial, faktor psikologis, faktor kultural, faktor ekonomi, dan faktor biologis. Stigma yang buruk mengenai gangguan mental dan bunuh diri mengakibatkan kasus bunuh diri banyak yang tidak terlaporkan.

Faktor yang berpengaruh dalam kasus bunuh diri (gantung diri) adalah gangguan psikologi. Gangguan psikologi dapat menimbulkan tindakan bunuh diri. Depresi dan skizophrenia (halusinasi, delusi, dan perilaku kacau) merupakan gangguan psikologi yang sering berkaitan dengan percobaan bunuh diri. Dalam penelitian ditemukan bahwa dari 60% laki-laki dan 44% perempuan yang melakukan percobaan bunuh diri menderita depresi. Selain itu, antara 30% sampai 50% penderita skizophrenia minimal sekali percobaan bunuh diri. Depresi dan skizophrenia bisa dirasakan dan dialami oleh semua orang disaat kurang konsentrasi dan motivasi. Selain itu cenderung marah dan mengasingkan diri dari orang lain. Oleh karena itu, gejala ini biasanya terjadi pada masa remaja antara usia 15-30 tahun untuk pria, dan perempuan kelompok usia 25-30 tahun.

Stanley Hall adalah ahli pertama yang memandang perlu masa remaja diselidiki secara khusus, dan mengumpulkan bahan empiris. Stanley Hall antara lain mengemukakan bahwa perkembangan psikis banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor fisiologis. Faktor-faktor fisiologis ini ditentukan oleh genetika, di samping proses pematangan yang mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini akan terlihat di mana saja, sehingga dapat disimpulkan kurang berperannya lingkungan sosial-budaya. Sebaliknya, ia juga mengemukakan bahwa masa remaja merupakan masa penuh gejolak emosi dan ketidak seimbangan, yang tercakup dalam storm and stress. Dengan demikian remaja mudah terkena pengaruh oleh lingkungan. Remaja diombang-ambingkan oleh munculnya: (1) Kekecewaan dan penderitaan (2) Meningkatnya konflik, pertentangan-pertentangan dan krisis penyesuaian,
(3) Impian dan khayalan, (4) Pacaran dan percintaan, (5) Keterasingan dari kehidupan dewasa dan norma kebudayaan.

Loading...

Bunuh diri (gantung diri) yang terjadi di Desa Tawiri yang seluruhnya adalah pemuda (relatif 20 tahun), mengindikasikan bahwa pengaruh psikologi baik depresi dan skizofrenia merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi bunuh diri. Hal ini bisa menjadi bahan pertimbangan yang perlu dianalisis atau dikaji dalam fenomena bunuh diri di Desa Tawiri selain faktor-faktor yang lain. Oleh sebab itu, remaja perlu mendapatkan perhatian khusus dari semua pihak, baik dari keluarga, lingkungan dan sekolah tempat menimbah ilmu. Kecerdasan spirtitual perlu ditanamkan bagi remaja dalam membangun kohesi sosial dengan siapapun. Sehingga karakter yang terbantuk adalah remaja yang bertanggung jawab dan mampu membawa dirinya berguna bagi orang lain dan terkhusunya bagi dirinya.

Perspektif Sosiologi

Emile Durkheim (1858-1917), sosiolog asal Perancis yang untuk pertama kalinya melakukan kajian mengenai fenomena bunuh diri dalam ranah sosiologi. Menurutnya, tindakan bunuh diri yang dilakukan individu dalam masyarakat disebabkan oleh dua faktor: terlampau lemah atau kuatnya integrasi sosial (Samuel, 2010: 56-57). Dalam masyarakat dengan integrasi sosial yang lemah —individualistik— setiap individu di dalamnya syarat menanggung beban hidup seorang diri, tanpa teman atau tempat untuk berbagi dan membudalkan keluh-kesah. Di Swiss misalkan, terdapat satu jembatan yang dijaga 24 jam nonstop oleh polisi setempat akibat kerap dijadikan tempat bunuh diri para pemuda. Faktual, tingginya angka bunuh diri di negara tersebut disebabkan oleh kultur masyarakat Swiss yang mengharuskan anak muda usia 17 tahun ke atas untuk keluar rumah, mencari kerja dan hidup secara mandiri (Beautrais & Gold, 2010: 9). Kultur tersebutlah yang kiranya menyebabkan banyak pemuda Swiss merasa tertekan, stres atau depresi sehingga dengan mudah mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya. Di sisi lain, fenomena bunuh diri akibat terlampau kuatnya integrasi sosial menyiratkan pengekangan berlebih individu oleh masyarakatnya, individu serasa dikuasai penuh oleh lingkungan sosial sehingga tak dapat berbuat banyak untuk menghindarinya.

Hasil penelitian di masyarakat Panekan, Magetan, Jawa Timur. Terdapat beberapa faktor terjadinya bunuh (gantung diri) oleh masyarakat setempat. Di antaranya masalah sosial memegang peranan sebanyak 30% dalam penelitian bunuh diri. Masalah sosial tersebut meliputi konflik dengan keluarga, konflik dengan aparat pemerintahan, dan kehidupan yang terisolasi. Konflik keluarga, kemampuan bersosialisasi yang rendah, kehidupan yang terisolasi berkontribusi pada tindakan bunuh diri pada dewasa. Menurut Mars, et al. (2014) permasalahan sosial dan interpersonal memegang peranan dalam memicu bunuh diri. Penelitian oleh Pal, et al. (2016) pada 122 kasus bunuh diri di India menyatakan bahwa konflik keluarga berkontribusi sebesar 6.55% sebagai salah satu faktor pemicu gantung diri, sedangkan pada penelitian Alimohammadi, et al. (2013) sebesar 8.5%.

Dari data yang ditemukan berkaitan dengan bunuh diri dalam hal ini gantung diri. Maka masalah sosial merupakan hal yang urgen dalam fenomena bunuh diri (gantung diri). Hal ini berdasarkan bahwa pelaku tertutup ketika menghadapi masalah dan komunikasi tidak berjalan secara efektif baik dalam internal (keluarga) dan eksternal (lingkungan, percintaan, dan persahabatan). Oleh sebab itu, bunuh diri (gantung diri) merupakan tindakan yang diambil oleh pelaku sebagai solusi dalam menyelesaikan masalah. Fenomena bunuh diri perlu dilihat sebagai aspek penting dalam menganalisis gantung diri di Desa Tawiri.

Aspek internal (keluarga) perlu menjadi basis pembinaan untuk anak-anak sebagai penguatan iman dan spiritual dengan cara membangun komunikasi yang efektif. Dalam hal ini orang tua perlu menjadi teman atau sahabat cerita dan diskusi yang baik untuk anak-anak dalam berbagai informasi dan menyelesaikan persoalan yang terjadi, sehingga menemukan solusi atau jalan terbaik. Ketika dalam keluarga terbangun komunikasi yang efektif maka mengurangi beban atau persoalan hidup yang dihadapi. Hal ini perlu juga terbangun komunikasi yang efektif dari aspek eksternal (lingkungan, persahabatan, dan percintaan). Dengan adanya komunikasi dan hubungan yang sehat, maka solusi dari persoalan hidup bisa diatasi atau diselesaikan. Dengan demikian, perlu adanya kerja sama yang baik dari semua pihak dalam membangun komunikasi, sehingga bunuh diri (gantung diri) tidak terjadi dalam hubungan atau pergaulan anak-anak (pemuda).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *