Menjadi Sahabat Untuk Semua, Dua Jam Bersama Sekum PGI di Hari Pertama 2020

by
Bersama Pdt Jacky Manuputty (kanan) FOTO : ISTIMEWA

KAMI datang saat ia sedang duduk di meja dengan laptop yang menyala di hari pertama Tahun 2020, Rabu 1 Januari. Segera ia bergegas menjumpai kami bertiga yang datang sudah jam sembilan malam.  Saya, Pendeta Helky Veerman dan Pendeta Nick Batkunde. Kami bersalaman. Lalu ia ajak kami ke kamar kerjanya. Sebuah lampu besar dinyalakan di depannya ada tumpukan buku. “Buku-buku adalah sahabat” katanya singkat. Ia duduk di kursinya. Warna hitam dan kursi itu cukup kuat menahan tubuhnya yang  kekar. Ia mulai bercerita. Kami sesekali menyelingi dengan tanya disertai tawa bersama.

Malam itu ia bicara banyak hal. Mulai dari kesukaan bersepeda dan jalan kaki, hingga soal-soal serius seputar gerakan oikumene dan kebangsaan.  Ia merayakan natal dan tahun baru bersama keluarga di Ambon. Saat Natal ia memimpin ibadah di Rumah Tahanan (Rutan) Ambon. “Saya minta kepada petugas di rutan agar bisa memimpin ibadah Natal di sana. Dan mereka setuju. Saya merasa bahagia bisa ada bersama saudara dan sahabat-sahabat yang mungkin sering terabaikan dan terlupakan itu” ungkapnya dengan suara yang agak serak.

Ia juga berbagi motivasi dan inspirasi bersama umat pada ibadah malam kunci taong 2019 di gereja di tempatnya berjemaat yakni gereja Imanuel Amahusu Ambon.  Ibunya yang sudah makin berumur turut datang ke gereja, duduk di bangku depan didampingi istrinya. Sembari berkhotbah sesekali ia merujuk pada kisah masa kecilnya bersama  ibunya. “Mama saya yang mengajarkan saya membaca Alkitab dan doa bapa kami serta pengakuan iman rasuli. Mama selalu mengajak kami ibadah keluarga, termasuk doa jam 12 malam jelang akhir tahun dan tahun baru” ungkap lelaki yang dilahirkan di Haruku, 55 tahun yang silam ini.

Malam ini itu juga bicara soal pentingnya membangun kultur lembaga yang egaliter dan inklusif serta partisipatif. Kerja tim merupakan roh yang mestinya terus menyala saat ini, bukan saja di gereja tapi juga di korporasi. Bukan favarotisme figur tertentu. Di gereja hal itu dikenal dengan frasa kolegial kolektif. Sayangnya, menurut Utusan Khusus Presiden untuk urusan agama-agama dan peradaban ini, sebagian orang masih cenderung bermain sendiri, tidak membangun kultur kolegial ini. “Saya mengajak teman-teman untuk saling sinergi. Bahkan saya katakan kepada supir saya, anda bukan bawahan, anda rekan kerja saya”, ungkap alumni S2 studi interfaith di Hartfard Seminary Amerika Serikat ini.

Ia baru saja terpilih sebagai Sekum (Sekretaris Umum) Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia untuk periode 2019-2024. PGI merupakan sebuah wadah berhimpun sinode gereja-gereja di Indonesia yang dari Sabang sampai Merauke. Ini momentum baru baginya. Beberapa orang cukup terkejut atas keterpilihannya secara aklamasi pada Sidang Raya PGI di Sumba 2019. Bukan soal kapasitas dan kapabilitas. Bukan juga soal reputasinya. Tapi karena ia muncul secara fenomenal. Bukan orang dalam PGI, bukan pula aktivis oikumene dalam arti yang konservatif. Di pentas lokal, nasional dan internasional ia lebih dikenal sebagai pekerja perdamaian, aktivis lintas iman dan pegiat advokasi lingkungan.  Sudah beragam penghargaan diterimanya, di dalam dan luar negeri. Untuk menyebut beberapa seperti Maarif Award di Indonesia dan Tennanbaum Award dari negeri Abang Sam (US).

Loading...

Ketika kami bertanya tentang apa yang hendak dilakukan di tahun baru 2020, ia tersenyum. Ia menyeruput teh panas yang disuguhkan istrinya, Usi Lusy.  Tentu ada konsolidasi internal, merajut relasi dan membina iklim kerja yang harmonis. Kunjungan ke sinode-sinode  di daerah-daerah akan dilakukan untuk mempererat kebersamaan sekaligus menghimpun problematik dari bawah. “Sebetulanya sinode-sinode dan jemaat-jemaat adalah basis pelayanan. PGI lebih banyak melaksanakan fungsi koordinasi dan  mensinergikan kekuatan bersama untuk mewujudkan kesatuan gereja dan mengoptimalkan peran gereja di tengah masyarakat, bangsa dan negara,” ungkap alumni STT Jakarta ini.

Ia juga menaruh harapan untuk tatanan hidup bersama  yang damai sebagai bangsa Indonesia. Tanpa menafikan persoalan-persoalan kebangsaan saat ini, seperti intoleransi dan gerakan kekerasan ekstrim serta problem ekonomi bangsa, ia melihat ada seberkas cahaya yang akan terus memandu jalan hidup bersama. Menurutnya yang diperlukan saat ini adalah persahabatan dan saling membantu dalam ketulusan. Semua kita adalah sahabat, apapun latar belakang perbedaan agama, suku, status sosial dan sebagainya.

Olehnya ia mengapreasi tinggi tema perayaan Natal 2019 dari PGI dan KWI; Hiduplah sebagai sahabat bagi semua orang. Ia pun merefleksikan sebagian ziarah imannya. Semakin jauh kita melangkah, semakin kita menyadari bahwa Indonesia kita ini kaya. Saya berkali-kali ke luar negeri, termasuk menjalankan misi kampanye  Islam Wasatiyah bersama staf UKP Agama dan Peradaban RI. Kita bercerita tentang keragaman Indonesia dan sejarah relasi agama-agama yang  toleran. Ini sudah terjadi puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Ia lalu mencontohnya pranata Pela-Gandong di Maluku yang merajut relasi Islam-Kristen dengan indah.

Malam kian larut, teh di gelas sudah dingin. Tanpa terasa dua jam berlalu. Sudah hampir jam dua belas. Esok pagi ia akan kembali ke Jakarta. Kami mohon diri. Di depan pintu keluar kami sempat berpose bersama. Sebuah ritual kecil di era digital. Ia tersenyum dengan kacamatanya yang bergagang hitam berpadu kaos warna yang sama. Kami merasa senang dan bangga bisa berjumpa dengan kakak, senior dan sahabat kami, Pdt Jacky Manuputty  di awal ziarah 2020. Terima kasih atas perjumpaan dan cerita-cerita yang akan mewarnai ziarah bersama di tahun baru ini. Dibri sehat dan hikmat selalu. (Rudy Rahabeat, Kontributor Terasmaluku.com).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *