Mentan Bertekad Bangkitkan Kejayaan Rempah Nusantara Dari Maluku

by
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Arman Sulaiman, bersama Gubernur Maluku Said Assagaff saat berkunjung ke Seram Bagian Timur pada 16 September 2016. FOTO : DOK : (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman bergerak cepat mewujudkan program, Mengembalikan Kejayaan 500 Tahun Rempah Nusantara. Salah satu daerah yang menjadi target program ini adalah Provinsi Maluku. Mentan Amran  bertekad membangkitkan kejayaan rempah  Indonesia dari Maluku. Karena itulah Mentan Amran, berkunjung ke Kota Ambon, sejak  Selasa (3/10) hingga  Rabu (4/10).

Mentan Amran, Rabu (4/10) akan menggelar rapat koordinasi  bersama Gubernur Maluku Said Assagaff, Bupati/ Walikota, Dinas Perkebunan, Pertanian, Peternakan, BPTP serta jajaran terkait lainnya di Kantor Gubernur Maluku  dengan isu utama, Mengembalikan Kejayaan Rempah- Rempah Indonesia. Dalam pertemuan ini juga, Mentan akan menyerahkan bibit rempah – rempah bagi petani di Maluku.

Pemberian bibit ini merupakan rangkaian program Mengembalikan Kejayaan Rempah Indonesia. Mentan menyatakan, kekayaan yang dilupakan Bangsa Indonesia saat  ini adalah rempah-rempah. Rempah-rempah menjadi daya tarik bangsa – bangsa di dunia untuk datang dan menjajah Indonesia terutama di  Maluku, bukan karena hasil tambangnya.

“Bahkan Belanda tinggal di Indonesia termasuk Maluku  karena rempah-rempah, bukan hasil tambang.  Kekayaan rempah  ini yang akan kita kembalikan di Indonesia dan juga Maluku,” kata Mentan Amran dalam keterangan pers Humas Kementerian Pertanian (Kementan) yang diterima Terasmaluku.com, Selasa (3/10).

Untuk mencapai target rempah ini, Kementan akan memberikan bibit dan pupuk kepada petani sesuai dengan pembagian wilayah unggul rempah. “Kita akan membagikan bibit unggul beserta pupuk berdasarkan di wilayah yang tepat rempah seperti Maluku, serta derah lain sesuai keunggulan komparatif setiap daerah,” jelasnya. Ia menyatakan, pemerintah pusat mengalokasikan anggaran 5,5 Triliun untuk program mengembalikan kejayaan 500 tahun rempah nusantara ini. Di Indonesia Timur, program ini diprioritaskan di Maluku dan  Sulawesi.

Mentan Amran menyebutkan, Indonesia negara kepulauan terluas di dunia, jauh sebelum Abad Masehi pada jaman Romawi, Indonesia, sudah dikenal di Seantero Dunia walau tidak semua Suku Bangsa yang langsung datang untuk berniaga, namun produk rempah Indonesia yang diperdagangkan di Jalur Sutera hingga jalur Dupa Romawi atau Hindustan hingga Afrika Timur Ethiopia sekitar abad 5 SM hingga abad 11 Masehi yang dikenal dengan kekuasaan Laut Merah.

Pergolakan politik dan kekuasaan yang berubah dengan bangkitnya Dinasti Turki Utsmani 1453 M, yang menutup jalur darat perniagaan rempah_rempah ke Eropa, mendorong jalur maritim menjadi dominan serta menjadi awal ekspedisi bangsa Eropa mencari sumber rempah_rempah ke nusantara. Lada, Cengkeh, Pala, Kapulaga, Kunyit., Jahe, Kulit Kayu Manis serta Kapur Barus (Getah Kamper) dan Kemenyan mendorong petualangan Bangsa Eropa di Nusantara.

Bangsa Eropa memulai ekspedisi mencari tempat asal rempah_rempah yang selama ini mereka dapatkan di negeri mediterania atau Turki sekarang, namun karena pusat niaga di Kota Constantinopel dikuasai dinasti Turki Ustmani dan jalur masuk rempah ke eropa terganggu yang memunculkan niat bangsa_bangsa eropa seperti Portugis, Inggris, Spanyol dan Belanda untuk mencari langsung sumber rempah dengan melakukan ekspedisi yang terkenal dengan sebutan ekspedisi timur jauh.

Sejarah mencatat Ekspedisi Eropa pertama mendarat di Ternate adalah bangsa Portugis pada tahun 1512 setelah menaklukkan Kota Malaka tahun 1511. Armada Portugis yang dipimpin Alfonso de Albuquerque mengutus Antonio Albreu dan Francisco Serrao memimpin armada untuk menemukan sumber rempah di Maluku.

Dalam perjalanan menuju Maluku armada ini singga di Madura, Bali dan Lombok dengan menggunakan nakhoda_nakhoda Jawa. Akhirnya armada Portugis tiba di Banda, Maluku terus menuju Maluku Utara hingga tiba di Ternate, disambut Sultan Ternate serta diberi ijjn tinggal dan membangun benteng.

Penghujung Abad 16 di awal Abad 17 Peta Kekuasaan di jalur Rempah Nusantara berubah diawali dari bangkrutnya VOC Serikat Dagang Belanda yang selama ini mengasai semua Sumber Rempah Nusantara beralih kepada Pemerintah Kolonial Belanda.  Fase ini juga di ikuti dengan “Revolusi Industri” di Eropa yang turut membawa perubahan besar dari komoditas perkebunan, hal tersebut ditandai dengan pembukaan kebun_kebun yang memenuhi kebutuhan industri Eropa seperti Karet, Sawit dan Kakao.

Kondisi Rempah Indonesia saat ini memang menunjukkan tren penurunan ekspor. Berdasarkan data BPS tahun 2016 periode Januari hingga November, nilai total ekspor rempah Indonesia 653, 3 juta USD turun dibandingkan nilai ekspor tahun 2015 pada periode yang sama 770, 42 juta USD, kecuali Vanili yang naik dari 14,41 juta USD tahun 2015 menjadi 62,08 juta USD pada periode yang sama tahun 2016.

Ketua Dewan Rempah Indonesia yang juga mantan Direktur Jenderal Perkebunan, Gamal Nasir, mengatakan, kondisi perkebunan rempah milik rakyat sudah memprihatinkan pada umumnya kurang terawat dan usia tanaman sudah melewati batas usia tanaman. Kondisi ini  membuat produktivitas menurun ditambah kondisi cuaca yang tidak kondusif mengakibatkan serangan hama meningkat pada akhirnya kualitas produksi juga turut menurun.

Gamal menyambut baik program pemerintah untuk tanaman rempah dan hortikultura, mengembalikan kejayaan rempah nusantara dengan alokasi anggaran 5,5 Triliun. Dewan rempah akan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian dan Pemda dalam pemetaan komoditas serta lahan_lahan petani yang harus segera mendapatkan penanganan untuk memperbaiki kondisi perkebunan rempah rakyat.

“Komoditas perkebunan termasuk tanaman rempah adalah Primadona Ekspor Pertanian Indonesia, kita tidak boleh melupakan sejarah, sumbangsih komoditas perkebunan seperti Karet, Sawit, Kakao, Kopi dan tanaman rempah adalah sumber devisa negara, menyumbang PDB Nasional rata_rata 20 persen sejak 1970 hingga sekarang,” kata Gamal.

Mentan Amran, bergerak cepat melaksanakan Instruksi Presiden Joko Wododo untuk  mengembalikan kejayaan rempah nusantara ini, dengan menggelar rapat koordinasi bersama pemerintah daerah di seluruh Indonesia  termasuk di Maluku.  Mentan sangat berhati_hati hingga meminta seluruh aparat hukum terlibat mulai dari penyediaan bibit tanaman.

“Saya meminta Dinas Perkebunan mengawal bibit hasil penangkaran petani, segera sertifikasi bila layak dan memenuhi spesifikasi bibit. Saya akan kawal kegiatan ini mulai dari awal hingga pertanaman, sama dengan program UPSUS PaJaLe yang sudah kita laksanakan,” katanya. (ADI)