Mentan : Maluku Harus Guncang Dunia Lagi Dengan Rempah

by
Mentan saat memimpin rapat koordinasi di Kantor Gubernur Maluku, Rabu (4/10). FOTO : (TERASMALUKU.COM)

TERASAMLUKU.COM,-AMBON–Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menyatakan tahun 1.500-an, Bangsa Eropa,   Inggris, Portugis, Belanda, Spanyol, dan juga  Tiongkok serta  Bangsa Arab berebut datang ke Indonesia, terutama Maluku  karena rempah-rempah. Komoditas utama saat itu seperti lada, cengkeh, pala, kunyit, jahe, kulit kayu manis, kapur barus (getah kamper), kemenyan, tersebar di Sulawesi, Maluku, Kalimantan, hingga Sumatera.

Namun menurut  Mentan Amran,  saat ini kondisi rempah di Indonesia termasuk Maluku  menunjukkan tren penurunan ekspor. Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) periode Januari hingga November 2016, nilai total ekspor rempah Indonesia USD653,3 juta, turun dibandingkan nilai ekspor pada periode yang sama tahun 2015 yang mencapai USD770,42 juta.Hanya vanili yang naik dari USD14,41 juta pada 2015 menjadi USD62,08 juta pada 2016.

Karena itu menurut Mentan  Amran, pihaknya  bertekad mengembalikan lagi kejayaan rempah-rempah  nusantara 500 tahun yang    diminati negara-negara Eropa itu. “Bapak Presiden (Joko Widodo) menginstruksikan  rebut kembali rempah-rempah. Dulu Bangsa  Eropa, Inggris, Portugis, Belanda, Spanyol, dan juga  Tiongkok serta  Bangsa Arab datang, tinggal di Indonesia dan Maluku  karena rempah-rempah. Sesuai janji kami, mimpi kami, rempah-rempah di Maluku harus dibangkitkan lagi. Maluku harus menggoncang dunia dengan rempah-rempah,” kata Menteri  Amran saat memimpin rapat koordinasi bertemakan “mengembalikan kejayaan rempah- rempah Indonesia di Kantor Gubernur Maluku, Rabu (4/10).

Rapat dihadiri Gubernur Maluku Said Assagaff, Wakil Gubernur Maluku Utara (Malut), Muhammad Natsir Thaib, Pangdam 16 Pattimura Mayjen TNI Doni Monardo, Kapolda Maluku Irjen Pol. Deden Juhara,  Walikota dan Bupati, Darem dan Dandim, pejabat Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan se Maluku dan Malut.

Mentan Amran menargetkan dalam sepuluh tahun  kejayaan rempah nusantara terutama Maluku bisa terwujud. Untuk mengembalikan kejayaan rempah Indonesia di Maluku dan Malut di  tahun 2017, Kementerian Pertanian (Kementan) langsung mengucurkan bantuan Rp 200 miliar kepada dua provinsi itu untuk pembibitan rempah, seperti cengkeh, pala, kayu manis dan cokelat yang menjadi unggulan Maluku.

“Untuk mengembalikan kejayaan rempah nusantara kita  alokasikan anggaran  Rp 5,5 triliun khusus bibit. Ini baru APBN-P (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan). Dan di tahun 2017 ini,   Maluku dan Maluku Utara kita kucurkan masing – masing Rp 100 miliar untuk bibit saja,” kata Mentan Amran.

Mentan menyatakan,  jika bantuan tersebut masih kurang,  masih ada anggaran tambahan selama  tiga tahun ke depan. Menteri Amran meminta kepala dinas terkait, agar mengalokasikan bantuan tersebut ke sejumlah daerah berdasarkan keunggulannya masing-masing. Guna mendukung pelaksanàan kegiatan dimaksud Menteri  juga memberi bantuan berupa alat mesin pertanian (alsintan) berupa traktor sebanyak 20 unit.

Dalam kunjungan ke Ambon ini, Mentan juga menyerahkan bantuan anak pala dan cengkeh kepada perwakilan petani dari 11 kabupaten/kota se Maluku yang berlangsung di Islamic Center Waihaong Ambon.

Ia menyatakan, untuk menyejahterakan petani, pemerintah mendorong investor untuk datang dan membangun industri pengolahan sekaligus menjual produk jadi. Menteri Amran pun mendorong pihak Perguruan Tinggi turut berpartisipasi pada kegiatan yang bertujuan mengembalikan kejayaan rempah nusantara 500 tahun silam, kala dijajah Eropa. Para akademisi diharapkan menjadi pendamping, agar implementasinya di lapangan berjalan optimal.

Menteri Amran optimis rempah-rempah nusantara bakal kembali berjaya dalam tempo satu dasawarsa, mengingat ada dua keunggulan di Maluku. Pertama, memiliki bibit unggul, seperti kayu manis, cengkeh, pala, dan sebagainya. Penduduk Maluku pun berasal dari gen unggul, baik Arab, China, Belanda, Inggris, dan Portugis.

Kedua, agroclimate Maluku pun tiada banding. “Persoalannya, mau enggak gen-gen ini bertemu? Kalau bertemu, ini dahsyat,” yakin menteri kelahiran Bone, Sulawesi Selatan itu. Menteri Amran meyakini bangsa Eropa bakal kembali melirik Indonesia bak 500 tahun silam. Namun, kehadirannya nanti untuk menjadi pembeli rempah-rempah, dan sebagai turis. “Kalau ini kita angkat kembali, Belanda nanti kembali ke sini, Inggris ke sini, China ke sini sebagai pembeli, dan turis” paparnya.

Data Kemetan menyebutkan,  produksi rempah – rempah  Maluku terdapat  di Kabupaten  Buru, dengan perkebunan cengkeh seluas 1.109 hektare yang menghasilkan 448 ton per tahun. Di Kabupaten Buru Selatan, dengan lahan perkebunan cengkeh seluas 5.483 hektare dengan hasil 2.096 ton pertahun. Selanjutnya, Maluku Tengah, seluas 18.609 hektar yang menghasilkan 9.758 ton, sedangkan lahan perkebunan pala seluas 11.148 hektare dengan hasil pertanianya mencapai 1.996 ton per tahun.

Selain itu, di Kabupaten Seram Bagian Barat lahan perkebunan cengkeh seluas 6.986 hektare dengan hasilnya 3.298  ton pertahun.  Sementara di Kabupaten Seram Bagian Timur memiliki luas lahan 8.354 hektare kebun pala dengan hasil produksi 737 ton pertahun. Mentan menyatakan dengan program ini akan meningkatkan hasil produksi rempah di Maluku sehingga kesejahteraan petani meningkat. (ADI)