Menuju Jubelium 1 Abad Pertumbuhan GPM (1935 s.d. 2035) Siklus Hidup Organisasi GPM

by

Sebentar lagi Gereja Protestan Maluku (GPM) menapaki 1 abad perziarahannya didunia. 15 tahun menuju tahun 2035 bukanlah waktu yang lama bagi siklus hidup sebuah organisasi. Akibat dari dinamisasi aktivitas organisasi. Siklus hidup organisasi adalah suatu tahapan perkembangan yang dialami oleh setiap organisasi beserta kondisi, kesulitan dan masalah-masalah transisi serta implikasi yang mengikuti dari setiap perkembangan tersebut.

Seperti juga kehidupan organisme, pertumbuhan dan kemunduran setiap organisasi terutama disebabkan oleh dua faktor yaitu fleksibilitas dalam merespon setiap perubahan lingkungan dan ”kekakuan” (controllability) dalam merespon setiap perubahan (Adizes, 1996).

Siklus hidup organisasi GPM tergambar jelas dalam PIP-RIPP GPM sejak tahun 1983 pemberlakuanya sebagai dokumen perencanaan strategis disetiap level organisasi baik pada jenjang Sinode, Klasis dan Jemaat-jemaat.

Ichak Adizes (1989) menguraikan tiga tahapan utama siklus hidup organisasi yaitu;
1. Tahap pertumbuhan (growing stages) yang meliputi masa pengenalan (courtship), masa bayi (infancy), dan masa kanak-kanak (go-go);
2. Masa ”coming of age” yang meliputi masa kedewasaan (adolescence) dan masa puncak/ keemasan (prime); dan
3. Tahap Penurunan (aging organizations) yang meliputi masa kemapanan (stable organizations), masa aristokrasi (aristoccracy), masa birokrasi awal (early bureaucracy) dan masa birokrasi dan mati (bureaucracy and death).

GPM dalam pertumbuhannyya berada pada bagian keberapa dari siklus pertumbuhan organisasi..??, Membaca tulisan sebelumnya (GPM Mantap Menuju 1 Abad 1935 s.d. 2035) ditunjukkan postur organisasi GPM yang mapan. Kapabilitas organisasi berupa infrastruktur kelembagaan yakni 34 Klasis, 765 Jemaat, 131,486 KK dengan 572.405 Jiwa Jemaat.

Sumber Daya Jemaat berupa ketersediaan actor penggerak organisasi yang meliputi beragam disiplin ilmu mencapai 1780 Penatua, 1782 Diaken yang Bersama-sama dengan 1171 tenaga Pendeta merupakan satu kesatuan tubuh Kristus yang terus menopang seluruh proses ber-GPM. Infrastruktur institusional GPM yang potensial ini bersinergi untuk semakin memantapkan upaya GPM menyongsong puncak keemasannya (prime) dalam masa coming of age dalam siklus pertumbuhannya.

Merujuk pada PIP RIPP GPM dasawarsa IV (2016 s.d. 2025) pertumbuhan organisasi GPM sudah sampai pada masa Pemandirian dan Transformasi. Pemandirian merupakan upaya sadar GPM untuk secara berkesinambungan mendesain strategi jitu untuk memandirikan ± 276 jemaat-jemaat (140 yang akan mandiri dan 136 yang belum dapat dimandirikan).

Diperlukan kolaborasi seluruh komponen organisasi melalui penetapan skala prioritas baik yang telah didesain dalam PIP-RIPP maupun pada Renstra Klasis dan Jemaat. Juga yang sangat menentukan progress pemandirian berkesinambungan yaitu konsistensi untuk mengimplementasikannya dalam aksi.

MPL 42 Sinode GPM Klasis Kei Besar Oktober 2021 sebagai masa Sidang Pertama MPH Sinode GPM Periode 2020 s.d. 2025 seyogianya memandu prioritas penuntasan sejumlah agenda-agenda pemandirian Klasis dan Jemaat.

Sedangkan Transformasi organisasi merupakan suatu strategi dan implementasi untuk membawa organisasi dari bentuk dan sistem yang lama ke bentuk dan sistem yang baru dengan menyesuaikan seluruh elemen turunannya (sistem, struktur, people, culture) dalam rangka meningkatkan efektivitas organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan selaras dengan visi dan misi organisasi/perusahaan.

Transformasi organisasi GPM telah dimulai yaitu sejak PIP RIPP Dasawarsa III (2005 s.d. 2015), telah dilakukan ditandai dengan perubahan orientasi ber-GPM yang focus lebihnya pada penguatan SDM organisasi sambil terus menata komponen institusinya. Signifikan merubah konsep perencanaan organisasi GPM yaitu diberlakukannya Tata Gereja 2010 yang mengatur Desentralisasi Prakarsa melalui Renstra Jemaat dan Klasis. Juga Penguatan Kapasitas Organisasi GPM (Profil Umat, Pelayan, Lembaga).

Perubahan lingkungan yang disruptive membuat banyak organisasi GPM tidak memiliki pilihan lain kecuali bertransformasi.
Dengan demikian GPM dalam dimensi Siklus Pertumbuhan Organisasi masih berada pada masa transisi yaitu Masa “Coming of Age” meliputi masa kedewasaan (adolescence) menuju Masa Puncak/Keemasan (prime) organisasi.

86 tahun usia GPM, usia yang tidak lagi muda tetapi telah matang mengaktualisasikan panggilannya untuk menghadirkan tahun rahmat Tuhan bagi seisi dunia. Organisasi GPM telah bertumbuh ditengah perubahan lingkungan yang disruptive. Umumnya, era disruptif adalah masa di mana banyak bermunculan inovasi yang tidak terlihat, tidak disadari oleh organisasi, instansi, perusahaan, atau lembaga yang telah mapan sehingga mengganggu jalannya tatanan sistem lama yang ada didalamnya dan berpotensi menghancurkan sistem lama tersebut.

Membaca tiap etape dari pertumbuhan organisasi GPM ditunjukkan secara nyata bahwa Era disrupsi sudah dialami oleh GPM dan juga GPM telah melakukan inovasi di era disrupsi ini tetapi memang dibutuhkan konsistensi untuk mengotimalisasinya sambil terus melakukan inovasi agar posturnya dapat lincah beradaptasi terhadap setiap perubahan.

Siklus hidup organisasi GPM dimasa “coming of age” ini harus dijaga performanya. Melalui konsistensi untuk mengendalikan sistem, prosedur serta mekanisme pengambilan keputusan organisasi yang telah berjalan selama ini.

Fleksibilitas menjadi rambu juga dalam melakukan adaptasi sambil secara agresif mencari berbagai peluang dan kesempatan untuk berekspansi memperluas usaha dan diversifikasi dalam berbagai pengembangan bidang usaha terlebih khusus yang menjadi yang menjadi core activity (aktifitas utama) organisasi GPM yaitu Penguatan Teologi, spiritual dan Pastoral. Kristus Kepala Gereja pasti mengiringi setiap siklus pertumbuhan ber-GPM

GPM terus bergerak, GPM pasti Jaya. Tuhan sayang torang samua. (Oleh: Pdt Frans Serang)