Merajut Persaudaraan Semesta Oleh : Pdt Rudy Rahabeat, Wakil Sekretaris Umum MPH Sinode GPM

by
Rudy Rahabeat, Pendeta GPM. FOTO : DOK. TERASMALUKU.COM

”Agama-agama terpanggil untuk menghadirkan kemaslahatan bagi semesta”. Ungkapan ini ditandaskan oleh sahabat Muslim, Abdul Manan Latuconsina, salah seorang peserta kegiatan Workshop yang diselenggarakan oleh Biro Hubungan Antar-Agama, Denominasi dan Aliran Kepercayaan Sinode Gereja Protestan Maluku (Senin, 21 Juni 2021) di aula kantor Sinode GPM Ambon. Rekannya Sunari dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) wilayah Maluku mengamini hal itu. Ia menyebutkan bahwa dalam agama Hindu dikenal istilah Tri Hita Karana yakni tiga hubungan utuh antara manusia dengan Tuhan, sesama dan alam.

Ibu Ho Lili anggota FKUB Maluku yang beragama Budha mengutarakan ajaran cinta kasih kepada semua makhluk, termasuk tumbuh-tumbuhan. Sedangkan Pendeta Wendel Lesbassa, Ketua Klasis GPM Buru Utara menyebutkan bahwa di dalam kearifan lokal juga tersimpan ajaran-ajaran dan praktik hidup yang bersifat inklusif dan ramah alam. Rekannya, Pdt Anes Makatita, Sekretaris Klasis GPM Taniwel menghadapkan realitas problematik hari ini ketika alam terancam rusak dan bencana terjadi dimana-mana. “Kami melakukan advokasi terhadap rencana eksplorasi dan eksploitasi tambang marmer di Taniwel Maluku Tengah juga perusahaan tebu, dan sebagainya” tandasnya. Pendeta Olla Noya, Kepala Biro Hubungan Agama-Agama GPM menyatakan bahwa semua yang disebutkan itu merupakan panggilan agama-agama secara universal.

Dinamika percakapan di atas hendak menandaskan pentingnya membangun kerjasama lintas agama dan denominasi untuk mengadvokasi isu-isu kemanusiaan dan lingkungan hidup demi menghadirkan kebaikan bersama (bonnum commune). Kerjasama itu perlu dilakukan dengan serius dan berkesinambungan di tengah ancaman terhadap kehidupan yang terjadi dimana- mana, termasuk pandemi covid 19. Agama-agama tidak bisa tinggal diam. Tidak pula terjebak dalam pertentangan antar agama atau intern umat beragama, melainkan mesti bersinergi dan berkolaborasi untuk menghadapai tantangan bersama di masa kini dan masa depan. Agama-agama tidak hanya berwacana melainkan perlu terus melakukan tindakan (action) nyata untuk menjadikan bumi sebagai rumah bersama yang nyaman bagi semua ciptaan.

Paradigma Oikumene Semesta

Kata oikumene berasal dari bahasa Yunani “oikos” yang berarti “rumah atau tempat tinggal”, dan “monos” yang berarti satu. Secara sederhana oikumene berarti kesadaran bahwa kita hidup dalam rumah atau dunia yang satu. Olehnya, kita perlu merawat dunia atau bumi ini agar menjadi rumah bersama yang aman dan nyaman bagi semua ciptaan (manusia maupun ciptaan Tuhan yang lain). Gereja menggunakan istilah oikumene semesta secara kreatif dengan tujuan menekankan pentingnya kesatuan dan kerjasama gereja-gereja dan juga agama-agama maupun kesatuan umat manusia dengan alam semesta demi kebaikan bersama. Dengan kata lain, Frasa “oikumene semesta” berarti wawasan yang menyeluruh, tidak hanya pada satu gereja bahkan satu agama. Tidak hanya pada manusia tetapi juga alam semesta. Oleh sebab itu konsep dan wawasan oikumene semesta bersifat utuh dan menyeluruh.

Kata paradigma, secara sederhana dapat diartikan sebagai jendela, sudut pandang atau perspektif, atau juga teori. Paradigma itu dinamis, dan terus berubah, bahkan berubah secara drastis atau revolusioner (bandingkan buku Thomas Kuhn tentang revolusi paradigma pengetahuan, atau Hans Kung tentang pergeseran paradigma teologi).

Dari Paradigma Eksklusif-Parsial ke Inklusif-Integratif

Kita perlu jujur mengakui bahwa ada beragam dinamika dan dialektika kehidupan yang terus berlangsung di panggung kehidupan ini, termasuk dalam kehidupan bergereja. Ada suatu masa dimana gereja merasa diri lebih hebat dari institusi manapun, termasuk dalam relasi dengan denominasi dan agama lain. Gereja mendominasi seluruh tatanan kehidupan, termasuk tatanan politik. Gereja atau kekristenan (Katolik, kala itu) merasa sangat memiliki keunggulan eksklusif dibanding agama-agama lain. Istilah “extra ecclesia nula salus” di luar gereja tidak ada keselamatan, merupakan salah satu jejak historis yang pernah ada. Namun demikian gereja bukan batu yang statis. Gereja itu dinamis, dan selalu dibarui oleh Roh Kudus. Ecclesia reformata semper reformanda, gereja yang membarui dan dibarui terus menerus merupakan jiwa gereja yang mesti terus dihidupi oleh orang-orang beriman.

Seiring putaran roda sejarah, gereja keluar dari benteng pertahanannya (istilah Olaf Schumann) untuk berjumpa dan belajar serta saling melengkapi dengan entitas agama lain. Kadang gereja “dipaksa” untuk keluar dan mereposisi dirinya. Era pencerahan (Aufklarung) misalnya, merupakan gelombang sejarah yang memaksa gereja keluar dari “zona nyamannya” dan membarui cara pandang dan tindakan-tindakan sosial teologisnya. Kadang juga terjadi konflik dan perang, yang membuat gereja perlu keluar dari paradigma lama menuju paradigma baru. Salah satu contohnya, konflik Maluku 1999, “memaksa” gereja untuk makin mengarusutamakan wacana dan tindakan pro hidup dan pro-pluralisme.

Dalam konteks GPM, kita dapat menelusuri respons dan sikap GPM terhadap denominasi dan agama lain melalui Ajaran Gereja (AG) GPM yang dihasilkan tahun 2016. Berikut artikel terkait cara pandang dan sikap GPM terhadap denominasi dan agama lain: “ Agama lain diterima keberadaannya dan diakui sebagai agama yang juga mengajarkan kebenaran dan kebaikan kepada para penganutnya. Bahwa karena GPM meyakini Allah di dalam Yesus Kristus adalah Allah yang Maha Kuasa, maka Ia dapat berkarya dalam cara yang luas, termasuk berkarya dan menyelamatkan umat manusia dan dunia ciptaanNya melalui agama-agama lain”. Lebih jauh disebutkan bahwa Hubungan GPM dengan agama lain adalah hubungan yang saling menghargai dan menghormati. Artinya, GPM menghargai dan menghormati agama-agama lain, termasuk perbedaan-perbedaan yang ada dalam agama-agama lain. Perbedaan-perbedaan itu tidak dipandang sebagai ancaman bagi keyakinan iman Kristiani, tetapi sebagai kekuatan untuk memperteguh iman Kristiani. Oleh karena itu, dialog antar umat beragama harus selalu dilakukan.

Dari Paradigma Antroposentrisme ke Kosmosentrisme

Ada suatu masa dimana aksentuasi terhadap peran dan dominasi manusia terhadap alam sangat kuat. Hal ini dilegitimasi dengan tafsiran tertentu terhadap teks Alkitab khususnya terkait penciptaan (teologi penciptaan). Kejadian pasal 1: 28 “…beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukanlah itu. Berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”. Teks ini kerap di pakai bukan saja untuk mengksplorasi tetapi juga mengeskploitasi alam secara membabi buta. Akibatnya, muncul krisis ekologi dan bencana alam yang balik menyerang dan menyengsarakan manusia itu sendiri. Padahal dalam teks Kejadian pasal 1 itu narasi penciptaan selalu ada frasa “semuanya baik”. Mestinya relasi manusia dengan alam bersifat adil dan setara, bukan mengeksploitasi semena-mena.

GPM tahun 2005-2010 pernah mengeluarkan tema Pembinaan Umat yakni “Tuhan itu Baik Kepada Semua Ciptaan”. Tema ini merupakan perluasan terhadap tema Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) saat itu yakni “Tuhan Itu Baik Kepada Semua Orang” (Mazmur 145:9a). GPM memperluas horizon tema PGI itu dengan melihat alam sebagai bagian utuh dari penciptaan. GPM merujuk bukan saja pada ayat 9a tetapi juga pada ayat 9b yang lengkapnya berbunyi: “Tuhan itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikannya”. Hal ini merupakan jejak kesadaran teologis-eklesiologis GPM terhadap pendekatan yang bukan semata antroposentrisme melainkan bersifat utuh (kosmosentrisme).

Jejak kesadaran kosmosentris GPM dapat terbaca juga pada AG terkait tematik Iman, Pengharapan dan Kasih. Saya kutip dua artikel terkait: Kasih terhadap ciptaan lain adalah kasih yang “lengkap” terhadap Allah, sesama manusia dan diri sendiri atau dll. Kasih terhadap kehidupan, sebab kehidupan tidak mungkin berlangsung tanpa lingkungan hidup, dan “ciptaan lain” itu adalah lingkungan hidup yang diciptakan Allah demi berlangsungnya kehidupan (Ams. 8:20 & Kis. 17:28). Cara mengasihi ciptaan lain atau lingkungan hidup adalah memelihara dan melestarikan lingkungan hidup itu. hal itu sesuai dengan kesadaran dan pengharapan iman Kristen bahwa Allah akan memulihkan kehidupan yang utuh dengan jalan menciptakan “firdaus yang baru” (Yes. 65:17 – 25). Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus (1 Kor. 13:13) Paulus katakan bahwa yang paling besar di antara iman, pengharapan dan kasih ialah kasih, sebab kasih adalah bukti dari iman dan pengharapan yang benar. Iman dan pengharapan akan berakhir kalau parusia tiba, tetapi kasih tidak berakhir.

Kisah-Kisah di Masa Pandemi Covid 19

Penting dicermati kira-kira kita sudah sampai pada level mana kiprah kita dalam gerakan oikumene semesta. Apakah pada level basic, intermediate atau advanced. Jika sudah berada di level advanced maka apa agenda selanjutnya yang perlu dilakukan. Mencermati konteks saat ini, maka perlu minimal tiga langkah strategis. Pertama, pemetaan (mapping) wilayah-wilayah mana saja yang dominan persinggungannya dengan isu lintas gereja, lintas agama-aliran kepercayaan dan advokasi ekologis.

Kedua, pemetaan progress pendampingan terhadap isu-isu spesifik yang sudah dilakukan selama ini. Ketiga, apa saja model-model atau praktik terbaik (best practices) yang dapat menginspirasi gereja, agama atau komunitas lain untuk sama-sama menciptakan tatanan bersama yang inklusif dan transformatif serta berkesinambungan. Idealnya, paradigma inklusif-integratif, telah dipahami, dijalani menjadi gaya hidup (life style) umat dan pelayan GPM sebagai wujud nyata pertanggungjawaban iman dan penghayatan akan Injil sebagai Khabar Baik bagi semua ciptaan (Markus 16:15).

Saat Pandemi covid 19 mendera dunia, termasuk Indonesia dan juga Maluku sejak Maret 2000 dunia terkejut dan panik. Apa yang dilakukan oleh agama-agama (baca: gereja-gereja) untuk menyikapi fakta ini, khususnya dalam pendekatan oikumene semesta (baca: lintas iman). Saya mencatat adanya upaya-upaya memberi diakonia karikatif. Sebagai contoh, Jemaat GPM Poka Klasis Pulau Ambon Utara, memberi diakonia/bantuan bukan saja kepada warga gereja tetapi juga kepada tetangganya yang beragam Islam. Ada juga sejumlah kegiatan komunitas virtual (Zoominar) untuk membahas isu-isu tertentu dalam perspektif lintas iman.

Seorang Pendeta muda GPM, Pdt Eklin Amtor De Fretes melakukan aksi-aksi nyata dengan boneka “DoDI” Dongeng Damai yang menarik perhatikan dan menghibur anak-anak. Klasis GPM Buru Utara melaksanakan study meeting tentang Dampak Mercuri dan Sianida pada pertambangan rakyat di Gunung Botak Buru Utara. Studi ini tentu bermanfaat untuk mengadvokasi masyarakat di sekitar lokasi tambang (Kristen maupun Islam). Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku Daerah Tanimbar Selatan melakukan Zoominar terkait keberadaan Blok Masela dan dampaknya bagi masyarakat dan lingkungan, serta berbagai tindakan lainnya di masa pandemik covid 19 ini.

Nyatalah bahwa agenda-agenda gerakan Oikumene Semesta masih banyak, dan membutuhkan kerja sama, kolaborasi banyak pihak untuk bersama-sama merajut persaudaraan semesta, menghadirkkan kebaikan, rahmatan lil alamin, bonum commune bagi seluruh ciptaan. Ut Omnes Unum Sint (RR)