Merawat Damai Dalam Kebinekaan Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

by
Rudy Rahabeat

KEBINEKAAN atau keragaman adalah realitas yang terberi (given). Kebinekaan adalah sunatullah, anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Olehnya kebinekaan perlu terus dikelola dan dirawat untuk mewujudkan kemaslahatan bersama.

Hari ini (Senin, 25/5/2019) bertempat di Kampus Universitas Pattimura Ambon, dihelat kegiatan bertajuk “Jelajah Kebinekaan”. Ada diskusi, pemutaran film dan berbagi pengalaman. Pesertanya para milenial. Tujuannya, agar makin banyak orang bangga atas perbedaan yang ada, dan tidak menjadikan perbedaan itu sebagai alasan untuk saling menjauh, apalagi berkonflik. Beberapa figur hadir berbagi pengalaman di antaranya, Dr Abidin Wakanno, IAIN Ambon, Pendeta Ruth Saiya dari Gereja Protestan Maluku, Piere Ajawaila, aktivis-arsitek, dan Ardiman Kelihu, pegiat kebinekaan serta rekan-rekan lainnya.

Maluku punya pengalaman berharga sejak tahun 1999. Semua orang tahu bahwa konflik sosial menyala begitu hebatnya. Namun semua orang juga tidak lupa bahwa perdamaian lebih mulia dan luhur dari konflik. Sebab di dalam konflik dan atau perang, yang menang jadi arang, yang kalah jadi abu. Maka mana yang kita pilih; perang atau damai? Leo Tolstoy, sastrawan hebat asal Rusia, memilih damai, seperti dalam novelnya Voina I mir (War and Peace, 1867).

PERANG HOAX

Dari sejarah kita belajar bahwa perdamaian itu mahal. Dunia terguncang dengan perang. Perang terjadi dimana-mana. Sejak dahulu kala, hingga kini. Begitu seringnya perang, muncul ungkapan, Si vis pacem, para  bellum, barangsiapa ingin damai, maka bersiaplah untuk perang. Ada beragam motif yang membuat seseorang atau sekelompok orang atau bangsa-bangsa berperang. Motif politik dan ekonomi, motif harga diri dan martabat maupun balas dendam.

Saat ini, di era digital ini, salah satu perang yang sangat mencemaskan adalah perang kebohongan. Ketika berita bohong disebarkan kemana-mana melalui internet. Berita-berita kebencian dan permusuhan. Orang tidak lagi berpegang pada kebenaran. Yang penting, demi mencapai tujuannya, dia rela melakukan apa saja, termasuk menyebarkan hoaks, berita bohong itu. Berita-berita bohong dikemas seolah-olah sebuah kebenaran, mematikan akal sehat dan membangun sentiment dan fanatisme sempit. Bahkan yang lebih ngeri, ketika agama dibawa-bawa dan menjadi alat legitimasi untuk kepentingan politik sesaat.

Terhadap kondisi ini kita tidak boleh dia. Kita harus berpihak. Berpihak kepada kebenaran. Kita tidak boleh membiarkan kebohongan merajalela dan menguasai ruang publik. Lama-lama kebohongan itu berubah menjadi sebuah kebenaran (semu). Kita tak mungkin membangun masa depan bersama di atas kebohongan dan kepalsuan. Ibarat membangun di atas pasir, bangunan yang megah pun akan runtuh, ketika banjir dan badai tiba.

DAMAI DAN GENERASI MILENIAL

Salah satu yang unik dari kegiatan ini pesertanya sebagian besar generasi milenial. Sebuah generasi yang unik dan tipikal. Generasi yang hidup di era digital yang tak terelakan dan membentuk budaya dan karakter yang spesifik. Beda dengan generasi sebelumnya. Olehnya butuh pendekatan yang spesifik terhadap generasi milenial ini. Misalnya, generasi ini malas mendengar ceramah yang panjang-panjang. Suka yang instan, cepat saja. Secepat pergerakan ujung jari di layar android. Mereka tidak suka digurui, apalagi dianggap sepele.

Dan jangan salah. Generasi ini juga punya kecerdasan dan kreatifitas. Ada karya-karya yang terus dihasilkan generasi milenial ini. Demikian pula, generasi milenial dapat menjadi agen-agen damai dan toleransi. Mereka merupakan aktor-aktor yang patut diperhatikan dan diperhitungkan dengan serius.  Mereka mesti diberi ruang dan peluang untuk turut menyehatkan ruang publik dengan kreatifitas yang mereka miliki, termasuk merawat damai. Di era digital ini, para milenial akan berselancar dan menebarkan energi positif bagi peradaban dunia. Mereka bukan objek melainkan subjek yang otonom.

Nilai-nilai toleransi, perdamaian, penghargaan terhadap perbedaan, solidaritas dan rela berkorban kiranya terus disemaikan dan bersemi di kalangan milenial. Berbagai potensi dan energi kreatif yang mereka miliki dapat dialirkan untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang damai dan sejahtera. Kedirian mereka patut diapresiasi dan bukan diabaikan apalagi distigmakan. Mereka adalah fajar baru yang membawa peradaban baru yang humanis.

Oleh sebab itu, tidak ada jalan lain, kita harus belajar dan berbagi dengan kaum milenial. Kita saling mengakui dan menerima. Dalam konteks damai dan kebinekaan, kaum milenial adalah energi terbarukan yang akan membawa masyarakat dan bangsa ini menuju masa depan yang gemilang. Tentu dalam sinergi dan kolaborasi dalam konteks kebinekaan. Peace !

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *