Merawat Ingatan, Belajarlah Damai Dari Wayame

by
Yohanes Parihala, M.Th, Dosen Fakultas Teologi UKIM. FOTO : DOK.PRIBADI

HUJAN deras mulai mengguyur daerah Wayame dan sekitarnya, kala itu para peserta baris Indah tetap penuh antusias menjejerkan barisannya dengan rapi tepatnya di samping halaman gedung gereja Jemaat GPM Wayame. Kegiatan baris indah ini diselenggarakan oleh Salah Satu Ranting pada Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku di Wayame, pada tanggal 19 Oktober 2018.  Di tengah keramaian peserta dan penonton, seorang wanita berhijab dengan busana rapi – yang siap berbaris, berdiri sambil mengarahkan pandangannya melihat ke arah gedung gereja dan puncak menara lonceng gereja Wayame.

Ia pun berujar di dalam kata-katanya yang ringkas dan penuh makna, bahwa gedung gereja dan menara ini sungguh bagus dan indah, seperti kehidupan damai yang tetap terpelihara di negeri Wayame. Selepas kata-kata manis yang terucap dari bibirnya, matanya pun memandang ke arah saya lalu berkata, Wayame dari dulu selalu damai yah Abang. Saya pun tersenyum dan membalasnya dengan ringkas mengiring langkah kecilnya yang hendak berbaris, “benar Ade, Wayame selalu menjadi inspirasi damai, dan damai itu selalu indah.

Di hari yang sama, saya sebenarnya tidak sedang bermaksud untuk menonton acara baris indah tersebut. Saya berada di tengah kerumunan orang banyak itu, karena hendak menjadi salah satu Fasilitator Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) UKIM bersama Tim yang dipimpin oleh Dr. E. Pattinama, M.Hum dan juga melibatkan Dr. Beatrix J.M. Salenussa, M.Pd. Kegiatan PKM ini dibiayai sepenuhnya dari Anggaran UKIM dengan tujuan untuk mendampingi para Katekeit dan Guru Sekolah Minggu Jemaat GPM Wayame untuk membuat buku pembelajaran Katekisasi dan PAK Perdamaian Berbasis Kearifan Lokal.

Kegiatan ini disambut dengan positif oleh Majelis Jemaat dan para peserta, yakni para katekeit dan guru sekolah minggu di Jemaat GPM Wayame. Ketua Majelis Jemaat GPM Wayame, Pdt. Maria Christina Tetelepta, M.Th, dalam pengantar materi pengenalan konteks Wayame menegaskan bahwa sejak konflik hingga saat ini negeri dan jemaat Wayame tetap berjuang untuk menjadi profil negeri damai di Maluku. Tidaklah muda untuk menjaga perdamaian di tengah kenyataan hidup masyarakat yang majemuk, baik latar belakang etnisitas, suku, agama, dan golongan. Perjuangan  perlu dijalani bersama oleh semua tokoh agama dan semua tokoh masyarakat, sebab kemajemukan dan kenyataan multicultural tidak sebatas menyimpan energy konflik, yang jika tidak ditangani dengan baik, bisa meledak dan menghasilkan konflik SARA.

Selain itu, kenyataan multicultural juga mengandung energy positif – ketika keragaman dikelola secara baik di dalam sikap hidup saling menghargai perbedaan dan mengembangkan kearifan lokal hidup orang basudara, maka negeri Wayame dapat menjadi tempat belajar membangun hidup damai di tengah realitas masyarakat majemuk. Bagai gayung bersambut, Dr. E. Pattinama, M.Hum, Dosen Antropologi Fakultas Teologi UKIM, yang mengkodiniri kegiatan PKM UKIM ini, menandaskan bahwa Wayame menjadi inspirasi bagi proses belajar damai bukan hanya di Maluku, tetapi juga di seluruh dunia. Potensi sebagai profil desa damai mesti tidak sebatas dipelihara, tetapi perlu dikembangkan dan dihibridasi (dicankokkan) dari generasi ke generasi antara lain, melalui pendidikan karakter. Tidak semua generasi mengenyam pengalaman konflik dan perjuangan merawat damai di Wayame. Tetapi dari generasi ke generasi berikutnya akan mengalami kenyataan hidup di Desa Wayame sebagai Desa yang multikultural dan majemuk.

loading...

Jika kenyataan multikulturalisme dan profil desa damai di Wayame berhenti dinarasikan, bisa saja suatu saat ini kisah ini dilupakan, dan yang terbangun adalah benturan dan ancaman konflik. Dengan begitu, kegiatan PKM pelatihan penyusunan buku ajar katekisasi dan PAK Perdamaian berbasis kearifan lokal, adalah suatu tindakan merawat ingatan bahwa desa dan jemaat ini merupakan profil desa damai, sekaligus untuk tetap mengingatnya, maka perlu pengajaran terus-menerus membangun damai berbasis kearifan lokal – seperti yang terdapat di Desa Wayame.

Kegiatan PKM ini diisi dengan beberapa materi, antara lain, Hermeneutika Post-Konflik dan Post-Kolonial yang disampaikan oleh Yohanes Parihala, M.Th. Di sini Parihala menegaskan bahwa hermenutika ini berupaya untuk menggemakan pesan utama Alkitab bahwa Damai merupakan tanda kehadiran Allah. Agama-agama yang mengajarkan tentang kehendak Allah yang mahahadir (omnipresent) tanpa mengupayakan perdamaian adalah suatu sikap hipokrit – kemunafikan. Banyak sekali teks-teks sakra yang perlu direinterpretasi, karena teks adalah product of particular context, untuk mengedepankan makna perdamaian, sehingga ajaran agama tidak lagi menjadi sumber atau melegitimasi konflik dan pertentangan.

Materi berikutnya disajikan oleh Dr. E. Pattinama – yang mengulas secara antropologis nilai kearifan lokal dari hidup orang basudara di Maluku. Menurut Pattinama, nilai ini merupakan perekat utama yang mesti terus dikokohkan untuk merawat perdamaian di Maluku. Nilai ini mengajarkan tentang apa dan bagimana membangun hidup sebagai orang basudara di Maluku. Berangkat dari dua deskripsi tekstual, konseptual dan praksis  perdamaian itu, kemudian Dr. Beatrix J.M. Salenussa, membantu proses penyusunan buku ajar katekisasi dan PAK Perdamaian berbasis kearifan lokal. Hingga narasi ini dituturkan, buku ajar tersebut sedang dalam proses penerbitan. (Yohanes Parihala, M.Th, Dosen Fakultas Teologi UKIM).

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *