Merayakan Idul Adha Di Tengah Pandemi Oleh : Paul Jalvins Solissa (Pendeta GPM)

by
Paul Jalvins Solissa, Pendeta GPM. FOTO : DOK PRIBADI

OLEH Perayaan hari-hari besar keagamaan adalah salah satu tradisi keagamaan yang penting pada banyak agama. Agama-agama abrahamik (Abrahamic religion) adalah agama-agama yang sangat kuat dan kental dengan tradisi-tradisi agama. Abrahamic religion yang lebih dikenal sebagai agama-agama samawi, merupakan rumpun agama-agama besar di dunia. Ketiga agama ini memiliki pemeluk agama yang terbanyak dibandingkan agama-agama lain (misalnya hindu atau buddha). Di Indonesia, Islam dan Kristen (Protestan+Katolik) merupakan agama yang terbesar.

Disebut Abrahamic religon karena agama-agama ini berakar kepada Abraham dan keturunannya (Islam dari Ismael sedangkan Yahudi dan Kristen dari Ishak). Jika kita menelisik lebih jauh ke dalam setiap ajaran agama-agama ini, kita akan menemukan kesamaan dalam banyak hal; entah itu penokohan, latar peristiwa, ajaran dan sebagainya. Namun, pada tulisan ini, saya tidak akan mencoba untuk secara apologia memperbandingkan tentang ritual dan berbagai ajaran pada agama-agama Abrahamik. Saya hanya mencoba untuk mempertemukan mereka dalam spirit-spirit keagamaan yang lebih universal dan menyentuh seluruh kehidupan keagamaan manusia.
Pada Abrahamic religion (Islam, Kristen, Yahudi), setiap penganut diajurkan untuk taat memelihara dan melakukan tradisi-tradisi keagamaannya. Itulah mengapa perayaan hari-hari besar keagamaan selalu penting bagi setiap pemeluk agama Islam, Kristen dan Yahudi. Salah satunya adalah Idul Adha.

Ada banyak perspektif untuk menggambarkan makna penting Idul Adha bagi kaum muslim (umat Islam). Namun saya sendiri, cenderung tertarik dengan salah satu tradisi penting dalam setiap perayaan Idul Adha yang tradisi kurban (pengorbanan), yang dalam hal ini adalah pemberian hewan kurban. Bagi saya pribadi sebagai seorang non muslim, makna terbesar dan paling dasar dari setiap perayaan Idul Adha adalah spirit pengorbanan (ibadah kurban).

Saya merujuk kepada sejarah perayaan Idul Adha itu sendiri, yang dilakukan untuk memperingati kisah Nabi Ibrahim yang mengorbankan putranya. Mengutip penyataan Muhbib Abdul Wahab, seorang Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah dalam tulisannya Antropologi Kurban, menyatakan bahwa “kurban merupakan ibadah multidimensi, baik dimensi mental spiritual, dan sosial, maupun edukasional, historikal, dan kultural.”

Jika kita menelisik sedikit kedalam ilmu antropologi, hal ini tampaknya benar dan sejalan dengan
apa yang disampaikan oleh Clifford Geertz dalam Religion as a Cultural System, bahwa simbol-simbol agama itu sarat dengan makna, seperti menyembelih hewan kurban, tidak hanya penting membentuk perilaku keberagamaan konstruktif, tetapi juga signifikan menjalin kekerabatan dan kebersamaan sosial. Bertolak dari pikiran ini saya berpendapat bahwa perayaan Idul Adha tidak hanya sebuah bentuk ketaatan beragama dari kaum muslim kepada Allah SWT tetapi juga simbol kebersamaan dengan sesama manusia. Momentum kebersamaan manusia inilah yang menjadi spirit sesungguhnya sebuah perayaan Idul Adha.

Loading...

Saya mencoba untuk memandang perayaan Idul Adha sedikit lebih jauh lagi kedalam perspektif sosiologi agama, dengan berangkat dari pemikiran Emile Durkheim tentang “Yang Sacred” dan “Yang Profane”. Pada titik ini, saya tidak akan menggiring kita untuk masuk ke dalam dikotomi (perdebatan) antara “Yang Kudus atau Sakral (Sacred)” dan “Yang Fana (Profane)”. Saya hanya menggunakannya untuk mempertegas pemahaman bahwa setiap agama dan ritus-ritus keagamaan itu terbangun di atas dasar “Yang Kudus dan Yang Fana”.  Bahwa ritual-ritual keagamaan (termasuk perayaan hari raya keagamaan) itu dilakukan tidak semata-mata untuk menghormati Tuhan atau sebagai bentuk keimanan kepada Tuhan (Sacred) tetapi lebih daripada itu sebagai sebuah bentuk kebersamaan bersama dengan sesama manusia (Profane). Dan itulah bentuk dari kepedulian manusia kepada sesamanya. Inilah titik pijak saya meminjam pikiran Durkheim tentang “Yang Sacred” dan “Yang Profane”.

Merayakan Idul Adha di tengah-tengah Pandemi Covid-19

Di tahun ini, semua orang muslim di seluruh dunia (termasuk di indonesia dan maluku) terpaksa mesti merayakan Idul Adha di tengah-tengah pandemi Codiv-19. Sudah menjadi rahasia umum bahwa persebaran virus Covid-19 di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap hari. Hal ini tentu saja akan merubah seluruh proses perayaan Idul Adha itu sendiri, mulai dari proses ibadah dan terlebih kurban. Kemungkinan besar, shalat berjamaah yang dilakukan di Mesjid akan dialihkan ke rumah-rumah. tapi kalaupun tetap dilakukan di Mesjid, tentu saja tidak bisa diikuti semua jamaah oleh karena adanya pembatasan kegiatan masyarakat sesuai dengan protokol penangan Covid-19 yang dikeluarkan pemerintah. Dan yang lebih menarik adalah tradisi kurban dimana orang-orang yang berkecukupan akan membagikan daging-daging kurban kepada sesamanya yang membutuhkan.

Jika di tahun-tahun kemarin, pembagian daging kurban ini akan dilakukan dengan melibatkan banyak orang maka mungkin saja di tahun ini hanya dengan melibatkan beberpaa tokoh agama dan tokoh masyarakat, yang selanjutkan akan mendistribusikannya ke rumah-rumah jamaah. Kemungkinan lain (mungkin yang terburuk) adalah ditiadakannya tradisi kurban ini di beberapa tempat. Pada titik inilah saya justru melihat spirit pengorbanan itu menjadi suatu semangat kebersamaan dalam masyarakat. Di tengah-tengah pandemi ini, kebersatuan dan kebersamaan kita justru semakin terus diuji. Apakah kita tetap mampu menunjukkan solidaritas kemanusiaan kita sambil tetap memproteksi diri dari persebaran virus Covid-19 ataukah tidak.

Satu hal yang penting adalah bahwa spirit kurban dapat menjadi jembatan kepada kehidupan yang lebih humanis, berperi kemanusiaan dan pluralis antara sesama manusia (termasuk sesama orang beragama) di Indonesia. Bahwa Kurban merupakan manifestasi rasa syukur atas kelapangan rezeki yang diberikan demi solidaritas dan empati sosial kemanusiaan. Karena itu, esensi ibadah kurban ialah spiritualisasi diri dengan bersyukur kepada Allah dan ketulusan melakukan humanisisasi melalui kegiatan berbagi kepada sesama. Ibadah kurban bukan sekadar ritualitas tanpa makna, melainkan sebuah aktualisasi nilai-nilai kemanusiaan dan keindonesiaan. Seperti pernyataan seorang Muhbib Abdul Wahab bahwa “Kesadaran berkurban untuk kemanusiaan tidak hanya relevan bagi kehidupan kebangsaan yang berbhineka tunggal ika, tetapi juga kompatibel untuk menggerakkan dan mengafirmasi terwujudnya tatanan dunia yang aman, damai, harmoni, adil, dan beradab.”

Selamat Merayakan Idul Adha tahun 2020 kepada semua umat Muslim di Indonesia dan di Maluku. Wassalam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *