Merayakan Politik Baku Sayang Oleh : Pdt. Hariman A. Pattianakotta (Kandidat Doktor Teologi STFT Jakarta)

by
Pendeta Hariman Pattianakotta. FOTO : DOK.PRIBADI

SEBUAH idiom manis digulirkan oleh saudara saya Ikhsan Tualeka, “politik baku sayang.” Idiom ini selaras dengan spirit hidup orang basudara. Sesama saudara memang sudah seyogianya saling mencintai. Kami orang Maluku menyebutnya baku sayang.

Ketika disandingkan dengan politik, kata baku sayang lalu memberikan spirit yang mencerahkan politik; atau membawa pulang politik pada hakikatnya, yaitu politik sebagai usaha bersama menghadirkan kebaikan bagi warga polis. Sejak era Yunani kuno, kita memahami politik sebagai tindakan partisipatif warga demi mewujudkan keadilan sebagai virtu atau kebajikan yang diidealkan dan diperjuangkan.

Jurgen Habermas dalam konteks demokrasi modern membayangkan politik sebagai proses deliberasi. Demokrasi yang sehat terbangun melalui diskursus yang komunikatif di ruang publik, dan proses komunikatif itu mesti bebas dari monopoli kekuasaan politik dan ekonomi. Hal ini tentu mensyaratkan adanya subjek-subjek politik atau warga negara yang tercerahkan.

Apabila subjek politik telah tercerahkan, maka sudah barang tentu sikap politiknya akan dituntun oleh virtu atau kebajikan untuk menghadirkan bonum commune atau kebaikan bersama. Sampai di situ, seperti yang dikatakan oleh Jong Ambon Johanes Leimena, politik bukan alat kekuasaan, tetapi etika untuk melayani.

Sesungguhnya hari ini kita membutuhkan politik yang beretika dan politik yang dijiwai oleh spirit baku sayang. Bagi sebagian orang, hal ini mungkin akan dipandang sloganistik, utopis, dan tidak membumi. Sebab, nyatanya politik itu penuh intrik, sarat fitnah, diwarnai tindakan saling sikut demi syahwat kekuasaan.

Realitas buram dunia politik itu tentu tidak bisa kita tutupi. Ada banyak politisi yang suka mengumbar janji di saat Pilkada atau Pemilu, tetapi setelah berkuasa menjadi amnesia. Bukan mengusahakan kesejahteraan bersama, tetapi membangun dinasti politik dan empire ekonomi keluarga dan golongan. Dan justru karena realitas buram itulah kita membutuhkan etika dan spirit baku sayang dalam berpolitik.

Politik baku sayang tentu tidak buta terhadap ketidakbenaran dan ketidakadilan. Sebab, kasih sayang itu selalu terarah pada tindakan memanusiakan manusia. Politik baku sayang justru tergerak oleh cinta untuk memutus tali-temali oligarki dengan kejernihan hati dan ketajaman pikiran. Politik baku sayang didorong oleh cinta untuk mengatakan kebenaran dengan kelembutan.

Loading...

Politik baku sayang tidak bermaksud membuat keseragaman, namun hendak membangun ruang bagi perbedaan. Telinga sungguh-sungguh dipakai untuk mendengarkan. Yang penting di sini adalah kesaling-pengertian. Sekalipun berbeda, tetapi kita tetap saudara, dan karena itu kita tetap baku sayang. Sampai di sini, tentu kita sangat memerlukan yang namanya kedewasaan.

Hari ini saya melihat kedewasaan itu mulai menguncup dalam dinamika diskusi politik Forum Maluku Raya yang dilakukan selama kurang lebih empat jam pada hari ini (Minggu, 9 Agustus 2020). Hadir dalam diskusi ini anak-anak Maluku lintas generasi. Ada cendekiawan, jurnalis, politisi, mantan pejabat sampai mahasiwa. Diskusi ini digagas sebagai respons atas realitas ketertinggalan dan ketidakadilan yang terjadi di Maluku Raya, Propinsi Maluku dan Maluku Utara.

Hampir 75 tahun hidup mengindonesia, tetapi Maluku tak kunjung sejahtera. Padahal, alamnya melimpah dengan kekayaan. Tentu saja, realitas ini menunjukkan bahwa ada yang salah dalam pengelolaan hidup bersama. Kesalahan itu ada di Maluku, dan Jakarta. Sentralisme pemerintahan dengan jargon NKRI harga mati adalah salah satu biang keroknya. Ditambah dengan tata pamong yang masih sarat dengan korupsi baik di pusat dan daerah, maka rakyat Maluku pada khususnya terus sengsara.

Karena itulah maka Forum Maluku Raya angkat bicara. Tentu, kita harus jujur berkata bahwa Forum ini belum mewakili semua anak Maluku dari Utara sampai Selatan tanah air Maluku. Apalagi Maluku sedunia. Namun, forum diskursif tadi sungguh menggembirakan. Berjam-jam kita bisa bicara bergiliran dan saling mendengarkan. Pandangan dan sikap politik juga masih sangat beragam. Bahkan, ada yang terlihat saling berlawanan. Namun, karena katong punya spirit baku sayang, maka semua dapat dijalani dengan manis.

Akhir yang manis ini menjadi awal yang menggembirakan. Kebenaran harus dikatakan dan diperjuangkan. Apalagi kalau dijalani dengan sikap yang elegan. Biarlah nurani dan kasih sayang yang berbicara, supaya harapan itu boleh berbuah kenyataan.

Apa yang terjadi hari ini tidak lain adalah perayaan politik kasih sayang antar anak Maluku.

Toma dengan kasih sayang, para kapitan muda!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *