Milenia Dalam Kontestasi Pemilu 2019 Oleh : Nardi Maruapey Mahasiswa Unidar Ambon

by
Nardi Maruapey

ADA sebuah trend yang cukup menarik ketika melihat dinamika demokrasi pada perhelatan akbar atau pesta demokrasi bagi seluruh masyarakat Indonesia dalam pemilu 2019. Kontestasi pemilu 2019 menghadirkan satu istilah baru untuk kelompok yang punya energi dan kekuatan besar (big power), kelompok anak muda yang sekarang sangat akrab kita kenal dengan istilah “Milenial”.

Istilah milenial muncul di tengah-tengah arus perpolitikan pemilu 2019 sehingga memberikan warna tersendiri dan fenomena ini secara jelas memberikan perbedaan yang signifikan kalau kita bandingkan dengan pemilu di tahun 2014.

Fenomena ini juga tentu dilatar belakangi oleh kemunculan dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dikalangan anak muda, semakin banyak anak muda yang menggunakan media sosial, pengaruh anak muda yang sudah punya alat komunikasi semakin canggih (smartphone/gadget). Dengan perkembangan yang dimaksud, kita mengenal yang namanya konvergensi komunikasi.

Konvergensi komunikasi itu dimana informasi dalam bentuk suara, gambar, tulisan, sudah bisa diakses dalam satu media saja. Media yang dimaksud misalkan pada hp android (gadget/smartphone). Sehingga sering muncul kalimat sindiran bahwa “kalau anak muda tidak punya hp android berarti dia tidak milenial”.

Itu mengenai milenial, lalu adakah eksistensi milenial pada kontestasi pemilu tahun ini. Melihat pada beberapa data dan sumber dari beberapa lembaga tentu ada eksistensi keberadaan kelompok milenial di momentum ini bahkan sangat berpotensi menjadi kelompok penentu terhadap arah politik nantinya.

Misalkan pada ranah Pilpres, (Kompas.com, 23/09/2018) menyajikan bahwa banyaknya jumlah pemilih pemula pada Pemilihan Umum 2019 menjadikan setiap pasangan bakal calon presiden dan wakil presiden fokus pada strategi merangkul generasi ini. Pada Pemilu 2019, bagian dari kelompok milenial ini sebagian besar merupakan pemilih pemula.

Memaknai Milenial

Menurut para peneliti sosial, millennial atau (generasi Y) ini lahir pada rentang tahun 1980an hingga 2000. Dengan kata lain, generasi milenial ini adalah anak-anak muda yang saat ini berusia antara 15-35 tahun. Berarti kita yang berusia itu adalah mileneal.

Penulis William Strauss dan Neil Howe secara luas dianggap sebagai pencetus penamaan Milenial. Mereka menciptakan istilah ini pada tahun 1987, di saat anak-anak yang lahir pada tahun 1982 masuk pra-sekolah, dan saat itu media mulai menyebut sebagai kelompok yang terhubung ke milenium baru di saat lulus SMA pada tahun tahun 2000. Mereka menulis tentang kelompok ini dalam buku-buku mereka Generations: The History of America’s Future Generations, 1584 to 2069 (1991) dan Millennials Rising: The Next Great Generation (2000).

Beberapa pendapat juga mengatakan bahwa generasi milenial adalah generasi yang telah mengenal dan mampu untuk memanfaatkan kecanggihan teknologi digital secara masif. Tapi apakah mileneal itu hanya sebatas mampu mengenal teknologi saja? Bagi saya tidak.

Diera sekarang yang penuh dengan peradaban, saya melihat milenial ini bukan hanya sebatas sebuah istilah atau seperti yang dimaknai bahwa anak muda yang sudah mengenal teknologi saja. Tapi lebih jauh dari itu mileneal adalah di mana anak muda yang harus mampu berpikir kritis, rasional dan bijaksana dalam menentukan masa depannya secara individu maupun kelompok. Milenial itu adalah anak muda yang mampu untuk memanfaatkan akal pikirnya dalam melakukan transaksi ilmu pengetahuan dalam hal ini pengetahuan mengenai politik serta mampu memanfaatkan media sosial dengan baik
.
Milenial, Berpengaruh?

Generasi milenial menjadi salah satu komoditi politik yang paling diincar oleh para praktisi politik di Indonesia. Suara generasi ini, didapuk menyumbang suara terbanyak dari seluruh segmen pemilih di Indonesia.

Suara pemilih milenial dalam Daftar Pemilih Tetap KPU proporsinya sekitar 34,2 % dari total 152 juta pemilih dan keberadaannya kerap disebut bakal menentukan arah politik bangsa Indonesia ke depan. Sehingga, banyak yang dipasang calon-calon pemimpin dari daerah sampai ke pusat mengambil peran dengan figur muda yang menyesuaikan gaya milenial.

Merujuk pada data Badan Pusat Statistik, prediksi pemilih milenial pada Pilkada 2018 sekitar 35 %. Dalam konteks perilaku pemilih, kelompok milenial tergolong jenis pemilih rasional (kritis).

Data terbaru survei Poltracking Indonesia misalnya menunjukkan bahwa 78,4% generasi milenial menyatakan akan menyoblos pada pilpres mendatang. Ini adalah kabar baik bagi demokrasi di Indonesia sekaligus menunjukkan bahwa arus deras informasi membuat generasi milenial Indonesia tidak alergi dengan politik.

Hasil survei CSIS pada Agustus 2017 menyebutkan sebanyak 81,7% milenial pengguna Facebook, 70,3% pengguna whatsapp dan 54,7% pengguna instagram. Akan tetapi berkenaan dengan Pilpres 2019 nanti pola pikir kelompok milenial terkait partisipasi dalam menentukan pilihan dapat saja bisa berubah dan tidak hanya bersikap apatis. (OkeZone.com, 15/09/2018).

Media sosial yang kini menjadi salah satu ‘mesin politik’ efektif untuk melakukan propaganda politik maupun penetrasi isu adalah dunia yang sangat akrab dengan generasi milenial. Di titik inilah, karena typical mereka sebagai generasi digital native, yang sangat melek informasi dan kerap bercengkrama dengan smartphone dan media sosial, menjadikan generasi milenial sejatinya tidak hanya strategis secara kuantitas, tetapi juga amat penting sebagai salah satu ‘mesin’ propaganda isue politik dalam memobilisasi dukungan suara elektoral. Eksposure dan aktivitas digital generasi ini sangat berpengaruh pada sirkulasi isu-isu menjelang pemilu. (Hanta Yuda, Media Indonesia).

Sehingga kehadiran kelompok milenial sangat berpengaruh dan merebut suara pemilih milenial dalam kontestasi pemilu 2019 adalah salah satu strategi yang dilakukan demi mencapai kemenangan dalam pertarungan politik ini.

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *