Milenial Maluku Tanggapi Kekerasan Terhadap Perempuan

by
Katrin Wokanubun. FOTO : Istimewa

TERASMALUKU.COM,-AMBONBagi Katrin Wokanubun, setiap orang memiliki peranan mengakhiri kekerasan terhadap perempuan.

Perempuan muda yang merupakan Koordinator Suara Milenial Maluku ini menyebutkan sejumlah fenomena kekerasan terhadap perempuan yang memang masih cukup tinggi dan menjadi isu yang menonjol dalam pemberitaan media massa.

Bukan saja hal itu disebabkan makin beratnya kasus kekerasan terhadap perempuan, namun intensitasnya kian mengkhawatirkan.

Mencakup segala bentuk kekerasan, baik fisik, seksual, maupun emosional termasuk didalamnya segala bentuk ancaman, intimidasi dan segala bentuk pelanggaran hak-hak perempuan.

“Ada banyak kasus yang kita temukan terkhususnya di Maluku, ini seperti fenomena gunung es, yang terlihat di permukaan itu sedikit. Namun yang tidak terlihat sangatlah banyak hanya saja korban enggan melapor,” jelasnya kepada Ambonkita.com grup Terasmaluku.com, saat diskusi Hari Perempuan Internasional, Senin (8/3/2021).

Katrin menceritakan pengalamannya saat mengadvokasi kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan bersama komunitasnya, dia mengaku cukup kaget karena ternyata selama ini kejahatan terhadap perempuan justru terkesan dilanggengkan.

“Misalnya kasus di Nusa Laut, pelaku terus melakukan tindakan asusila, karena pelaku merasa tetap aman. Korban tidak ada yang memproses hukum pelaku dan akhirnya memakan empat korban ibu-ibu,” sesalnya.

Mendesak Pengesahan RUU PKS

Menurut Katrin, perkembangan kasus kekerasan seksual jumlahnya terus bertambah dan berkembang.

Menurut catatan tahunan (Catahu) 2020 Komnas Perempuan menyebutkan, dalam kurun waktu 12 tahun kekerasan terhadap perempuan meningkat sebanyak 762%.

Artinya kekerasan terhadap perempuan di Indonesia selama 12 tahun meningkat hampir 8 kali lipat. Tercatat ada 431,471 kasus kekerasan terhadap perempuan.