Mirati Serap Aspirasi Kepsek se Masohi Soal Kesulitan Pembelajaran di Masa Covid-19

by
Anggota DPD RI Mirati Dewaningsih menyerap aspirasi kepala sekolah dan guru se Kota Masohi dalam masa reses yang berlangsung di kawasan Pulau Mas Masohi, Sabtu (8/8/2020). FOTO : (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-MASOHI-Anggota DPD RI Mirati Dewaningsih terus menyerap aspirasi masyarakat dalam masa reses masa sidang kedua tahun 2020. Kali ini, Mirati menyerap aspirasi Kepala Sekolah (Kepsek) dan guru SD se Kota Masohi Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) terkait proses pembelajaran di masa pandemi virus corona atau covid-19. Kegiatan yang berlangsung di kompleks Pulo Mas Masohi, Sabtu (8/8/2020) ini dihadiri puluhan Kepsek dan perwakilan sekolah se Kota Masohi.

Anggota DPD Dapil Maluku ini mengungkapkan, di masa pandemi covid-19 pemerintah melarang pembelajaran tatap muka di sekolah untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19. Proses pembelajaran menggunakan sistem daring atau dalam jaringan internet dan luring atau kegiatan tidak menggunakan jaringan internet.

Mirati Dewaningsih saat reses dengan kepala sekolah dan guru di Masohi

Namun kata anggota Komite III DPD RI ini, proses pembelajaran secara daring maupun luring ternyata dikeluhkan Kepsek, guru dan orang tua siswa. Itu karena berbagai persoalan, mulai dari guru dan siswa yang tidak miliki media, hp android, dan laptop, tidak miliki pulsa serta gangguan jaringan.

Bagi Mirati masalah bukan soal tidak ada pulsa atau hp andoroid saja. Karena soal hp dan tidak ada pulsa, pemerintah tinggal membagikan pulsa dan hp adroid masalah selesai. Namun jauh itu ada banyak hal diantaranya soal kesiapan anak didik, orang tua siswa, soal efektifitas pembelaran, hingga perkembangan intelektual dan mental anak peserta didik dengan proses pembelajaran di era pandemi  ini.

“Karena itu dalam masa reses ini saya ingin mendengar aspirasi para kepala sekolah, guru, apa yang menjadi kendala atau hambatan dalam pembelajaran daring dan luring ini, dan apa yang menjadi keinginan atau tututan pihak sekolah kepada pemerintah dengan kebijakan pembelajaran seperti ini. Saya ingin bapak dan ibu guru menyampaikan apa adanya,” kata Mirati.

Dalam pertemuan itu, para Kepsek dan perwakilan sekolah menyampaikan sejumlah persoalan dalam proses pembelajaran di masa pandemi covid-19 baik daring maupun luring. Untuk daring, para Kepsek mengatakan, banyak siswa yang tidak miliki adroid, leptop. Hal yang sama juga dialami para guru, terutama laptop.

“Banyak hal yang kami temui saat proses pembelajaran sistem daring ini. Dan ujungnya kami cemaskan kecerdasan anak-anak kita, penerimaan materi dalam pembelajaran ini tidak maksimal, padahal kami sudah jelaskan berkali-kali, mereka kurang paham saat menerima materi. Tapi ini kenyataan yang terjadi di lapanga,” kata Kepsek SD Negeri 3 Masohi Rugaya Ipaeni.

Loading...

Ia mengatakan untuk siswa tidak miliki adroid, atau siswa Kelas I, II dan III, pihak melakukan pembelajaran luring, guru mendatangi rumah siswa-siswi. Namun masalah juga muncul karena tidak semua siswa-siswi keadaan ekonomi baik, kondisi rumah yang tidak representatif, luas rumah sempit untuk proses pembelajaran yang melibatkan lima siswa di rumah.

Meski demikian guru tetap menjalankan pembelajaran dengan luring,  dengan mengumpulkan para siswa di rumah yang serba kekurangan, luasnya sempit, siswa belajar sambil membungkung karena tak ada kursi. Kondisi ini lanjut Rugaya sangat tidak baik bagi kondisi kesehatan, dan perkembangan anak, karena harus berlajar dengan kondisi ini selama beberapa jam, tentu penerimaan pelajaran juga tidak efektif.

Mirati Dewaningsih saat reses di Masohi

“Kalau belajar di rumah dengan melibatkan lima anak dengan kondisi rumah yang sempit, apa tidak sebaiknya kita bawa anak-anak ke sekolah, dengan ruangan yang lebih besar, kita atur mereka satu ruangan lima hingga delapan anak dengan menerapkan protokol kesehatan. Saya yakin anak-anak lebih nyaman, mereka bisa menerima pelajaran lebih baik dan aman, dari pada di ruangan sempit di rumah,” kata Rugaya yang diamini puluhan guru.

Menanggapi apa yang disampaikan para guru, Mirati yang didampingi narasumber Dr. Nantaniel Elake mengatakan, sebagai anggota Komite III DPD RI yang bermitra dengan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Nasional, maka pihaknya akan menyampaikan aspirasi Kepsek dan guru ke pemerintah pusat.

Ia mengakui aspirasi para guru, dan orang tua murid yang ditemuinya merindukan agar proses belajar mengajar dikembalikan ke sekolah, lewat tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan. Kota Masohi dan Kabupaten Malteng merupakan zona orange penyebaran covid-19.

“Apa yang menjadi harapan dan keinginan bapak dan ibu guru dari Kota Masohi ini akan saya perjuangan ke pemerintah pusat, karena masalah yang dihadapi bapak dan ibu guru di Kota Masohi ini juga sama dengan daerah lain dalam sistem pembelajaran di masa pandemi ini,” ungkap Mirati.

Mirati mengatakan di Kota Masohi, Ibukota Kabupaten Malteng saja memiliki sejumlah masalah dalam proses pembelajaran ini. Kondisi tersebut lanjutnya akan lebih sulit lagi di daerah-daerah lain di luar Kota Masohi, di pulau-pulau yang tidak ada jaringan internet.

“Di Kota Masohi saja begitu banyak persoalan dengan sistem pembelajaran daring ini. Saya tidak membayangkan untuk daerah-daerah di luar Kota Masohi, daerah-daerah di pulau-pulau yang  memiliki banyak kendala infrakstruktur, tidak ada jaringan internet. Pasti mereka lebih sulit lagi.  Nah ini semua akan kita sampaikan ke pemerintah pusat sehingga dapat mengambil kebijakan yang bisa memenuhi harapan dan keinginan kita semua untuk kemajuan pendidikan anak-anak kita,” kata Mirati. (ADI).

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *