Modus Empat Tersangka Korupsi Lahan Negeri Tawiri Untuk Pangkalan Utama TNI AL di Ambon

by
Kepala Kejati Maluku Rorogo Zega (tengah) tampak sedang memberikan keterangan pers di aula Kantor Kejati Maluku, Kota Ambon, Senin (28/6/2021). FOTO : TERASMALUKU.COM

TERASMALUKU.COM,-AMBON– Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku, Rorogo Zega, membeberkan modus yang dilakukan empat orang tersangka kasus dugaan korupsi Anggaran Pendapatan Asli Negeri (APAN) Tawiri, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon, Senin (28/6/2021).

Keempat tersangka masing-masing JNT, Raja Negeri Tawiri, JST, mantan Raja, JRT, Saniri Negeri dan JRS, seorang perempuan, merupakan penerima APAN Tawiri sebesar Rp 3,8 miliar.

APAN Tawiri itu bersumber dari hasil pembebasan lahan untuk pembangunan dermaga dan sarana prasarana Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) IX Ambon di Negeri Tawiri pada tahun 2015.

Menurut Rorogo, kasus tersebut berawal saat pembangunan Jembatan Merah Putih (JPM). Pembangunan JMP tersebut membuat sejumlah kapal milik TNI Angkatan Laut tidak bisa melintas menuju markas Lantamal IX Ambon di Halong.

“Lalu angkatan laut minta penggantian lahan dan oleh negara memberikan lewat balai jalan membebaskan lahan di Tawiri untuk Lantamal. Dan kemarin sudah diresmikan Kesatrian oleh pak KASAL, saya juga hadir di sana,” terangnya.

Uang pembayaran dari hasil pembebasan lahan tersebut, kata Rorogo, merupakan Pendapatan Asli Negeri Tawiri. Sebab, lahan yang dijual tersebut merupakan tanah negeri.

“Jadi itu aset negeri. Harusnya uangnya menjadi pendapatan asli negeri Tawiri yang harus masuk di rekening negeri Tawiri,” sebutnya.

Sayangnya, lanjut Rorogo, setelah uang tersebut masuk di rekening Raja Negeri, kemudian digunakan untuk kepentingan pribadi.

“Dia (Raja Negeri) juga memperkaya orang lain yang bukan pemilik tanah dari Negeri Tawiri tersebut. Dia membuat surat-surat seolah-olah itu miliknya dan keluarganya,” terangnya.

Menyoal terkait penahanan terhadap empat tersangka tersebut, orang nomor 1 pada Korps Adyaksa di Maluku ini mengaku belum dilakukan. “Belum (ditahan). Nanti kita akan panggil mereka untuk diperiksa lagi sebagai tersangka,” tandasnya. (HUS)