Momentum Gebrakan Gubernur Maluku Baru Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

by
Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

DARIPADA berpolemik tentang kapan waktu pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku yang baru, maka adalah lebih arif jika kita semua dapat berbagi gagasan-gagasan konstruktif bagi masa depan Maluku. Sebab lambat atau cepat, Maluku akan memiliki Gubernur defenitif yang telah terpilih secara demokratis, dan akan mengantar Maluku ke masa depan yang lebih gemilang.

Selain visi misi dan program yang telah dicanangkan Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih, maka tentu terbuka kemungkinan masukan dari berbagai elemen masyarakat yang bertujuan bersama-sama berpikir dan berkarya untuk membangun Maluku yang lebih baik. Bertolak dari falsafah Baileo, maka di ruang perjumpaan itu terjadi pertukaran ide, saling berbagi dan menerima, kritik dan apresiasi serta kebersamaan dan komitmen untuk membangun kesejahteraan bagi semua.

Dengan senantiasa berpikir optimistik, maka momentum kepemimpinan yang baru ini akan menjadi kesempatan berharga untuk melanjutkan pembangunan dan pengembangan masyarakat Maluku dengan konteksnya yang khas sebagai masyarakat kepulauan. Pilar-pilar pembangunan ekonomi, sosial-budaya, politik, hukum, keamanan, lingkungan hidup dan jaringan kerjasama nasional maupun global akan terus dikembangkan. Semua itu perlu diintegrasikan dan disinergikan dalam sebuah kepemimpinan yang kuat dan visioner, tanggap dan inovatif serta mendapat dukungan penuh dari masyarakat dan pemerintah pusat serta stakeholders terkait.

 BELAJAR DARI JATIM DAN JABAR

Setelah dilantik tanggal 13 Pebruari 2019, dalam orasi kebangsaan di Tugu Pahlawan Surabaya, Kofifah Indar Parawansa memperkenalkan komitmennya tentang CETTAR yakni, Cepat, Efektif, Tanggap, Transparan, dan Responsif. Bahwa sebagai Gubernur Jawa Timur ia akan bertindak cepat, efektif, tanggap, transparan dan responsif terhadap aspirasi dan kondisi masyarakat yang dipimpinnya. Ia memastikan bahwa kepemimpinannya membawa aura dan energi baru bagi percepatan kesejahteraan rakyat.

Hal ini tak lepas dari Nawa Bakti Kofifah dan Emil Dardak yakni Jatim Sejahtera, Jatim Kerja, Jatim Akses, Jatim, Agro, Jatim Berdaya, Jatim Berkah, Jatim, Amanah, Jatim Harmoni, serta Jatim Cerdas dan Sehat. Sembilan program yang akan dikerjakan dalam kurun lima tahun.

Sebelumnya, Ridwal Kamil, setelah dilantik 5 September 2018, sepekan menjabat Gubernur Jabar itu mengemukakan empat idenya yakni; Mengubah wajah Kalimalang seperti di Korsel, membuat pembatas jalan, menciptakan destinasi wisata baru di daerah dan membantu pembangunan di pedesaan. Ide-ide ini kemudian ditindaklanjuti melalui program dan kegiatan yang terukur dan sistematis. Tujuannya sama seperti Gubernur Kofifah, agar masyarakat merasakan manfaatnya, menjadi sejahtera dan bahagia.

Pengalaman Jabar dan Jatim tentu sekedar menjadi referensi pembanding dengan catatan bahwa ada perbedaan signfikan antara provinsi kontinental dan kepulauan (archipelago). Bahwa dinamika sosial budaya masyarakat di pulau Jawa tentu berbeda dengan masyarakat di kepulauan Maluku.

Demikian pula akses dan ketersediaan sarana prasarana penunjang pada masing-masing wilayah juga sangat berpengaruh terhadap percepatan pembangunan. Satu hal yang sama yakni dibutuhkan tekad dan komitmen yang kuat untuk berada bersama-sama masyarakat, mengedepankan kepemimpinan yang merangkul, serta optimis bahwa tantangan dan hambatan apapun dapat diatasi dalam kebersamaan dan kerjasama.

MALUKU MAJU : SATU VISI SIWA MISI

Adapun visi Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih, Murad Ismail dan Barnabas Orno adalah: “Maluku yang terkelola secara jujur, bersih dan melayani. Terjamin dalam kesejahteraan dan berdaulat atas gugusan kepulauan”. Demikian pula ada Nawa misi atau Siwa misi (9 misi) pasangan ini yakni; (1) Birokrasi yang akomodatif, komunikatif, koodinatif, serta bersih dan melayani; (2) Penyelenggaraan pendidikan berkualitas dan gratis berbasis gugus pulau, (3) Industrialisasi sumber daya alam dan manusia, (4) Pengembangan infrastruktur untuk konektifitas gugus pulau, (5). Optimalisasi industri pertanian dan perikanan, (6) Keamanan untuk investasi dan pariwisata, (7) Pengembangan pemuda kreatif dan olahraga berprestasi, (8). Pengembangan dan revitalisasi budaya Maluku, (9) Jaminan layanan kesehatan merata berkualitas dan gratis (Terasmaluku.com, 7/5/18).

Visi dan misi ini tentu sangat menarik jika diterjemahkan dalam program dan tindakan yang terukur dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Tentu saja realitas konteks kepulauan menjadi tantangan tersendiri bagi daerah Maluku dan tujuh propinsi lainnya yang bergabung dalam aliansi provinsi kepulauan. Pulau-pulau yang terpisah dengan problem serta akses transportasi dan komunikasi memerlukan langkah terobosan yang berani.

Selain dukungan politik pemerintah pusat, maka kerjasama yang lebih meluas perlu dipikirkan pula. Dalam konteks globalisasi dan trans-nasional ini maka peluang kerjasama antar negara dapat dijejaki. Semua ini bertujuan untuk membangun konektivitas antar-pulau dan pengembangan wilayah-wilayah yang terisolir.

Satu hal yang dapat merekatkan keragaman pulau, budaya, sub suku dan agama serta orientasi politik adalah ikatan budaya. Dalam konteks ini tagline “Baileo adalah Kita” bisa menjadi titik tolak (point of departure) sekaligus titik hubung (point of contact) untuk semua ikhtiar, niat dan komitmen demi Maluku yang maju dalam bingkai kebudayaan yang dinamis.

Ketika dunia kian global dan terhubung dalam jaringan digital, maka nilai-nilai budaya serta falsafah budaya Maluku kiranya dapat menafasi derap langkah menuju Maluku yang maju. Dengan begitu, kemajuan dalam makna sejatinya, bukan sebuah obsesi modernitas yang mengandaikan luruhnya tradisi dan kearifan lokal, tapi lebih pada mekarnya jiwa budaya untuk kemaslahatan dan kebaikan bersama! Mari berbagi. (RR).

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *