Mudik Natal Dan Rumah Tua Oleh : Rudy Rahabeat, pendeta GPM

by
Pendeta Rudy Rahabeat

“Kapal su lapas tali, nahkoda putar kamudi, selamat tinggal kekasih”. Itulah status fesbuk sahabat Jamez Pakniany, beberapa menit sebelum meninggalkan pelabuhan Ambon menuju pulau Damer di Kabupaten Maluku Barat Daya – sebuah kabupaten yang berbatasan dengan negara Timor Leste. Ia pulang membawa sejuta rasa di dada.

Di pelabuhan yang lain, di Amahai di pulau Seram Kabupaten Maluku Tengah kapal Cantika Express lego jangkar. Ratusan penumpang berdesakan turun. “Tadi mereka jual tiket padahal di atas kapal tidak ada tempat duduk” keluh seorang ibu di laman fesbuknya. Ini cukup beresiko. Sebab kalau cuaca tidak bersahabat, bisa datang malapetaka.

H-5 jelang Natal arus mudik mulai terasa di Maluku yang dikenal sebagai daerah seribu pulau.Moda transportasi laut merupakan jembatan menuju pulau-pulau yang tersebar di hamparan laut maha luas. Kapal-kapal aneka ukuran. Juga speedboat dan perahu.

Ada angkutan yang cukup nyaman tapi tentu tak sedikit yang berdesak-desakan dan rela tidur di emper kapal yang penting bisa tiba di kampung halaman. Rasanya pemerintah perlu lebih serius menata infrastruktur transportasi secara prima.

Ada satu tanya, mengapa mereka rela menjalani semua itu? Berdesak-desakan dan sesak di jalan.

Salah satu daya tariknya adalah “Rumah Tua”. Bagi orang Maluku konsep rumah tua itu punya makna yang dalam. Secara fisik itu merujuk pada rumah yang pertama dibangun. Rumah tempat sebuah keluarga batih memulai dan menjalani hidup dengan suka dukanya. Umumnya rumah itu sederhana. Makna kedua lebih pada suasana kehangatan dan keakraban antar anggota keluarga. Berjumpa papa mama, saling berbagi cerita, utamanya kenangan masa kecil. Kondisi ini merangkum rumah dalam pengertian house (fisik) dan home (suasana). Rumah Tua adalah penanda kenangan, persaudaraan dan intimitas. Olehnya orang berlomba-lompa pulang ke “Rumah Tua”.

Saya mencoba melakukan tafsir subjektif atas kisah Natal. Ketika kaisar Agustus mengumumkan sensus penduduk. Semua orang kembali ke asalnya, ke kampungnya, ke rumah tuanya. Sayang sekali, Yusuf dan Maria (orang tua Yesus) pada saat pulang kampung, mereka tak menemukan “rumah tuanya”. Yang ditemukan justru kandang hewan, tempat dimana Yesus dilahirkan. Di sini tragedi “rumah tua,” pertama di dalam Injil. Tentu ini tafsir subjektif saya.

Kembali ke mudik Natal tadi. Orang-orang rela meninggalkan kota. Meninggalkan kesibukan dan gemerlap kota. Untuk apa? Apa yang dicari?

Sayup terdengar lagu lama. ” Jauh di dusun yang kecil, di situ rumahku. Lama sudah ku tinggalkan aku rindu”. Ya, manusia selalu merindu sesuatu yang sangat primordial. Yang tak bisa dibeli dengan uang bahkan kemewahan apapun. Yang primordial itulah adalah kesederhanaan.

Selamat pulang kampung teman. Selamat pulang ke “Rumah Tua”. Temukan damai dan sukacita di sana. Kala persaudaraan dirajut lagi dan kehangatan kasih melampaui segala akal dan pikiran kita.