Musim Panen Pala dan Fuli di Maluku

Musim Panen Pala dan Fuli di Maluku

SHARE
Seorang pengepul hasil bumi di Pasar Mardika Ambon memperlihatkan fuli,bunga pala yang dibeli dari warga, Sabtu (7/7/2018). FOTO : FRISKA BIRAHY (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Sejak dulu Maluku jadi incara bangsa barat lantaran rempah pala yang memikat. Kualitas buah pala serta ragam produk yang bisa dihasilkan darinya membuat pala berjaya. Ribuan pohon pala yang tersebar di Maluku memberi penghidupan bagi warga hingga kini. Meski jumlahnya tak sebanyak dulu, aktifitas panen tetap jadi agenda yang dinanti.

Buah Pala dijemur warga Negeri Allang Pulau Ambon

Harga jual yang bersahabat jadi sumber penghasilan lain waga Maluku. Tak terkecuali mereka yang tinggal di pesisir pantai. Semerbak aroma pala yang tajam dan hangat begitu terasa saat memasuki Negeri Allang Kecamatan Leihitu Barat, Pulau Ambon. Saat ini sedang musim panen. Di depan rumah atau di tepi jalan warga ramai-ramai menjemur biji pala beserta bunganya atau fuli. Di beberapa rumah tampak sekeluarga sedang asyik melepas fuli dari biji pala.

Aktifitas ini terasa begitu kental dan lekat dengan kehidupan orang Maluku. Negeri kaya yang sempat dijajah bangsa asing untuk sebuah pencarian si buah pala. Beberapa warga yang ditemui Terasmaluku.com, Sabtu (7/7/2018) menyebut saat ini memang sedang musim. Sayangnya harga biji pala sedang kurang baik. Yakni Rp 60.000 perkilogram. Beruntung fuli, bunga merah itu masih stabil, yakni Rp 120.000 perkilogram.

Di tangan pengupul harganya juga tak beda jauh. Pala dan fuli memang sedang banyak- banyaknya. Mereka didatangkan dari dua wilayah penghasil pala besar, yakni Pulau Banda dan Pulau Seram. Sebagian lagi dari Pulau Ambon yang berasal dusun dusun warga. “Pala ada banyak. Dari Seram datang ratus kilo. Abis itu kirim lagi ke luar,” terang Dian Ima seorang pengepul hasil bumi di Pasar Mardika Ambon.

Fuli pala

Menurutnya harga biji pala saat musim panen memang lebih murah. Justru fuli berada pada kisaran yang cukup stabil. Dua hasil bumi itu jadi bahan utama dalam pembuatan produk kecantikan farmasi dan parfum. Usai didatangkan dari Tehoru, Seram dan Pulau Banda pala lantas dikirim ke Surabaya.

“Di sana (Surabaya) pala nanti dikirim lagi ke luar negeri atau daerah lain untuk diolah,” imbuhnya. Untuk mengakali harga pala yanh jatuh, sebagian warga atau pemilik kebun memilih untuk menimpan atau menimbun hasil hingga harga kembali membaik. Dengan begitu panen tak sia sia. (BIR)