Musisi Timur Kaya Kualitas, Meski Minim Fasilitas

by
Musisi hip hop tampil menghibur warga dalam Ambonesia hip hop movement di Kafe Buritan Desa Poka Kecamatan Teluk Ambon depan Kampus Unpatti, Sabtu (30/6/2018). FOTO : FRISKA BIRAHY (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Perjalanan Ambon menuju kota musik dunia perlu banyak upaya nyata. Panggung panggung musik, even serta kegiatan serupa jadi denyut yang menandakan para pemusik masih membara. Sekecil apapun, musisi membutuhkan panggung. Bukan sekadar unjuk gigi tapi menyajikan karya berkualitas.

Di Kota Ambon, hip hop jadi gaung yang cukup besar dan hidup. Di panggung-panggung jalanan, hingga keluar masuk gedung hip hop tak kehilangan masanya. Seperti yang tampak pada kegiatan Sabtu (30/6/2018) hip hop jadi salah satu genre yang paling banyak dihirup. Apalagi makin menjamur musisi musisi muda dengan lirik dan beat beat legit nan kekinian.

Musisi hip hop tampil di Ambonesia hip hop movement

Ambonesia hip hop Movement menghadirkan belasan musisi hip hop ke atas panggung. Grizzly Cluivert Nahusuly, koordinator kegiatan itu menyebut kegiatan tersebut sebagai salah satu bentuk apresiasi karya para musisi yang selama ini menikmati tiap perjuangan dalam keterbatasan. “Ambon kan akan menuju kota musik dunia jadi kegiatan semacam ini juga perlu,” jelasnya kepada Terasmaluku.com usai kegiatan di Kafe Buritan Desa  Poka Kecamatan Teluk Ambon depan Kampus Unpatti.

Grizzly bersama Ghetto Side management, yang terdiri atas Alifuru Hip Hop, Tickang palungku dan Sangsaka merancang kegiatan tersebut dan melibatkan anak muda pelaku musik hip hop di Kota Ambon. Makin malam ramai penonton makin terasa. Alunan musik, beat serta lirik-lirik menusuk yang mengocok kepala menyulap malam yang kaku sehabis hujan jadi makin panas dan guyub.

Semangat bermusik yang ditunjukkan mereka tak lagi berputar pada musik yang cuma enak saja, tapi kualitas materi lagu yang mumpuni. Realita sosial, kritik kebijakan, perlawanan pemaksaan hingga isu-isu anak muda jaman now lengkap dengan romansa percintaan membuka ruang lebar bagi penonton yang hadir untuk.

Loading...

Ikut berpikir sambil melompat dan mengangguk-anggukan kepala. “Katong senang karya bisa diapresiasi dan bikin mereka makin maju,” lanjutnya. Acara itu dimeriahkan oleh bintang tamu Lipooz dan Mukarakat asal pulau tetangga, Nusa Tenggara Timur (NTT). Philipus Irwan Ngadut dengan nama panggung Lipooz itu mengawali karya bermusik sejak 2004 dan memiliki influence cukup besar bagi generasi hip hop di Ambon.

Tengok saja sentilannya tentang kondisi kampungnya, Ruteng yang amat terbatas aliran listrik. Itu dikemas dalam karya-karyanya yang padat dan dikenal dengan 16 bar. Bersama musisi lain mereka juga berkolaborasi mewujudkan ide tersebut dalam 16 bar rima yang asyik. Lipooz dan Mukarakat, baru kali ini datang ke Ambon. “Anak-anak punya musik keren. Guest star langsung kembut. Baru kali ini beta nervous kayak gini,” celetuknya.

Bagi penampil sekelas bintang tamu, musik, konsep perform musisi Ambon sebelumnya cukup membuatnya gugup. Itu membuktikan karya anak daerah tak bisa dipandang enteng. Mukarakat dan Lippoz yang saat ini menetap dan berkarya di Bali mengamininya, kualitas itu amat penting.  Menurutnya anak-anak dari Timur punya karya berkelas. Yang beda adalah mereka amat berjarak dengan ibukota.“Segmen hip hop seng perlu merasa kecil karena jauh dari pusat kota Jakarta. Skill anak anak timur itu ok,” katanya.

Bersama Yuvenalis P S Putra a.k.a rapholic, Frederik kristian lewar a.k.a dirty dan Razkal membawakan lebih dari empat lagu. Gold school jadi warna yang dipilih mereka, kombinasi hip hop old school dan New school yang kentara pada istrument bunyi digital. Spirit yang dibawakan Lipooz dan Mukarakat dirasa begitu lekat dengan pergerakan musisi hip hop di Ambon.

Mereka tahu membunyikan metafora cantik dalam lagu serta bersenang senang dalam kekurangan. Musik bukan hal biasa, namun dapat membawa perubahan. Bagi mereka sudah saatnya anak timur tampil berani dan pede. Sebab toh musisi daerah dan Jakarta hanya berjarak alat bukan kualitas.(BIR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *