Natal Dan Tsunami Kehidupan Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

by
Pendeta Rudy Rahabeat

DUA hari jelang Natal tahun ini, berita sedih tersiar dari Selat Sunda. Tsunami yang menelan korban jiwa dan harta benda. Indonesia berdukacita. Belum kering air mata duka bencana Palu dan Donggala Sulawesi Tengah, bangsa kita diperhadapkan dengan musibah lagi. Marilah kita tepekur, hening sejenak sembari mendoakan para korban serta melakukan langkah-langkah kecil yang bisa menolong para korban yang bergumul dengan kesedihan jelang akhir tahun ini.

Natal adalah berita pengharapan. Walau dunia penuh dosa dan kejahatan, namun kasih Allah melampaui semua itu. Dalam kitab Yohanes disebutkan “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan anaknya yang tunggal Yesus Kristus. Supaya semua yang percaya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal”. Kata-kata ini selain menandaskan kasih Allah yang agung dan mulia tetapi sekaligus mengingatkan kita tentang hidup yang sementara di dunia, dan kekekalan di seberang sana.

Natal merupakan peristiswa solidaritas. Allah menjadi manusia demi menyelamatkan manusia. Allah peduli kepada manusia dan menebus manusia menjadi ciptaan baru. Olehnya, apalah arti perayaan Natal jika kita tidak saling solider di antara sesama manusia, tidak saling peduli dan tidak saling mengasihi. Natal adalah peristiwa kasih yang melewati batas-batas apapun. Olehnya, jangan kerdilkan perayaan Natal sekedar aspek formal dan material seperti pohon terang, kue dan lagu Natal serta ritual-ritual yang panjang dan gemerlap.

TSUNAMI KEBANGSAAN

Kita merayakan Natal dalam suasana yang penuh warna. Ada yang menyoal kembali kebiasaan mengucapkan selamat merayakan Natal. Ada yang dengan iklas mengucapkan selamat Natal. Semua adalah warna warni kehidupan. saya sependapat dengan status fesbuk mantan Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Pdt Dr Andreal A Yewangoe “Terima kasih atas ucapan Selamat Natal dari semua sahabat. Menghargai mereka yang tidak memberi selamat karena alasan keyakinan. Kita tetap berkawan”.

Tentu persoalan yang paling fundamental adalah bagaimana hidup ini bermakna bagi sebanyak mungkin orang, apapun latar belakangnya. Dalam bingkai kebangsaan, tentu saja kita mesti terus berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara. Kita perlu membangun optimisme dan semangat untuk melihat masa depan yang lebih baik, apapun tantangan yang kita hadapi.

Loading...

Jelang tahun politik 2019 tentu ada banyak potensi pertentangan dan beda pendapat. Kita bisa merasakan suasana batin yang kadang tak selamanya tenang dan saling pengertian. Perdebatan di media sosial bahkan ujaran-ujaran kebencian masih sering kita temui. Namun begitu, kita jangan pernah berhenti pada kondisi yang penuh kegalauan itu. Kita harus keluar dan berdiri pada jalan kebenaran dan kejujuran, mengutamakan akal sehat dan hati nurani, agar kepentingan yang lebih luas dapat kita selamatkan.

Tsunami yang terjadi di Selat Sunda tentu menyadarkan kita betapa rapuh dunia ini. Tapi tsunami yang lebih menakutkan adalah ketika bangunan kebangsaan kita runtuh dan porak poranda. Ketika kita tidak lagi berpegang pada cita-cita perdana saat Republik ini didirikan. Kita melupakan sejarah yang dirajut dengan pengorbanan semua komponen bangsa. Tentu saja, kita tidak boleh pasrah pada keadaan, tidak menyerah dan apatis. Selalu ada cahaya di tengah kegelapan, selalu ada oase di padang gurun gersang.

KASIH MENGUBAH SEGALANYA

Kasih adalah bahasa universal. Semua insan ingin dikasihi, dan setiap insan bisa mengasihi. Lawan dari kasih adalah kebencian dan kejahatan. Barangsiapa memiliki kasih maka ia akan memperlakukan sesama manusia seperti dirinya sendiri. Ia tidak ingin disakiti, ia tidak ingin dilukai. Kasih menyembuhkan luka, kasih memberi kekuatan untuk bangkit dari keterpurukan. Kasih membuat orang keluar dari jebakan kegelapan dan menghadirkan terang. Kasih mengubah tantangan menjadi peluang.

Di tengah kemelut kehidupan dan kebangsaan, dengan dimotivasi kasih yang tulus dan iklhas untuk membangun masa depan bersama, niscaya kondisi kebangsaan akan lebih baik. Kasih juga berarti kesediaan berkorban, menahan diri dan mengutamakan kepentingan yang lebih besar. Kasih sejati melintasi batas-batas suku, agama, ras, bangsa dan perbedaan apapun. Kasih sejati merangkul dan mengapresiasi tiap insan dengan beragam talenta dan aspirasi. Lalu berjalan bersama, menuju air yang tenang dan padang rumput hijau, sebagai personifikasi hidup yang damai dan sejahtera.

Natal adalah peristiwa kasih. Maka marilah kita saling mengasihi. Sebagai sesama umat beragama, sebagai sesama warga bangsa bahkan warga dunia, marilah kita saling mengasihi. Jauhkan pertentangan yang sia-sia, eratkan persahabatan dan persaudaraan, lakukan yang baik dan jangan yang jahat. Sebab pada waktunya, dunia ini akan lenyap, tapi kasih tinggal tetap. Selamat Merayakan Natal Saudara dan Sahabat terkasih ! (RR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *