Nestapa Nelayan di Pesisir Pulau Seram Saat Pandemi Covid-19, Harga Ikan Anjlok

by
Nelayan Negeri Lisabata Kecamatan Taniwel Kabupaten Seram Bagian Barat menambatkan perahu mereka di pantai, Kamis (19/11/2020). FOTO : NAIR FUAD (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-PIRU– Sore itu, awan gelap menyelimuti langit Negeri Lisabata Kecamatan Taniwel Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) Maluku. Puluhan perahu nelayan berjejer di sepanjang pantai berpasir putih itu. Usman Lessy (49) baru saja pulang melaut saat ditemui Kamis (19/11/2020).

Raut wajah nelayan asal Negeri Lisabata itu tampak lelah. Tidak satu ekor ikan pun ia bawa pulang. Padahal sejak pukul 04.00 WIT dinihari hingga kembali sore hari tidak menghasilkan apa-apa.

Biasanya setelah pulang melaut, lelaki paruh baya itu bisa membawa pulang ikan tuna untuk dijual ke cool storage tak jauh dari rumahnya, demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya.

Satu persatu peralatan mancing ia tata kembali di perahu. Di ujung perahu, sang istri Sariba Tunni (39) telah menunggu sembari membantu suaminya mengangkat peralatan yang hendak dibawa pulang.

Perahu Nelayan di pantai Negeri Lisabata Kecamatan Taniwel Kabupaten Seram Bagian Barat, Kamis (19/11/2020). FOTO : NAIR FUAD (TERASMALUKU.COM)

Usman adalah satu dari sekian banyak warga Negeri Lisabata yang menggantungkan hidupnya dari hasil laut. Sayangnya sejak pandemi Covid-19, perekonomian keluarganya ikut berdampak. Bapak lima anak ini harus bekerja ekstra demi makan sehari-sehari.

Nelayan di negeri itupun terpaksa menjual hasil tangkapan mereka dengan harga murah. Harga jual ikan menurun lebih 50 persen dari biasanya. Sulitnya akses transportasi menuju Kota Ambon dan ke Pulau Jawa, dengan kebijakan pemerintah memutus mata rantai penyebaran Covid-19 menjadi penyebab harga ikan turun.

“Harga ikan dibayar rendah dan hasil penjualan 33. 000 rupiah. Tapi saya tidak punya pilihan, selain melaut karena tidak ada pekerjaan sampingan,” kata Usman Lessy.

Loading...

Usman mengatakan, sebelum pandemi, harga jual ikan di cool storage berkisar Rp80 ribu hingga Rp 90 ribu perkilogramnya. Kini, ikan dijual dengan hanya Rp 33 ribu per kilogram.

Kondisi ini menurut Usman makin memperpanjang kesulitan yang dialami nelayan setempat. Belum lagi pada saat yang sama, situasi semakin sulit dengan meningkatnya harga bahan bakar.

“Hari ini harga minyak terus mengalami kenaikan yakni Rp 1.800.000. per drom. Sementara pendapatan nelayan terus turun pasca covid-19,” ucap Usman Lessy.

Hal senada dirasakan Iskandar Pulu (37) salah seorang nelayan di negeri setempat. Iskandar menuturkan, sebelum COVID-19, satu ekor ikan berukuran besar bisa dijual Rp 1 juta. Namun kini harga ikan menurun drastis.

Diawal munculnya COVID-19, nelayan Negeri Lisabata sempat berhenti melaut karena adanya instruksi pemerintah daerah untuk menutup akses transportasi.

Dengan adanya instruksi dari Pemda, Iskandar Pulu berbalik arah bercocok tanam sebagai pekerjaan sampingannya. Tetapi pendapatannya tidak sebanding dengan melaut. Melaut menurut dia lebih cepat mendapatkan uang sedangkan berkebun tidak seperti itu.

Iskandar mengungkapkan, pasca instruksi itu, ia baru turun melaut sejak dua bulan belakangan ini. “Saya baru turun melaut baru dua bulan ini, sekitar September lalu. Tetapi pendapatan turun drastis. Apalagi dengan musim ikan seperti,”ujarnya.

Nelayan di Negeri Lisabata berharap COVID-19 cepat berlalu sehingga harga ikan kembali normal seperti biasanya. Sementara itu pemilik Cool storage Bidaya Assel (28) mengatakan, saat ini ikan tuna yang ia beli dari nelayan per kilo sebesar Rp 33.000. Ikan tuna yang dibeli dari nelayan Negeri Lisabata itu akan dijual ke Kota Ambon.

Ibu tiga anak ini mengambil ikan dengan harga tersebut lantaran harga ikan tuna di Kota Ambon juga turun drastis. Di Kota Ambon, penanda membeli per kilo dengan harga Rp 52.000. Harga jual ekspor ke Pulau Jawa mengalami penurunan cukup signifikan.

“Dengan adanya COVID-19 kapal ke pulau Jawa juga jarang masuk. Akibatnya harga ikan tuna di Ambon mengalami penurunan,”kata Bidaya Assel.

Kata Bidaya Assel, kebijakan penanganan Covid-19 yang diambil pemerintah juga sangat tidak mempertimbangkan aspek ekonomi. Terutama terhadap kehidupan keluarga nelayan di Pesisir Pulau Seram. (NAIR FUAD)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *