Nyaris Kehilangan Suara, Ternyata Jadi Kapten Wajib Rutin Minum Air Hangat dan Jeruk

by
Komandan Pasukan 45 Kapten CPM (Corps Polisi Militer) Ibrahim Rahman Putra memimpin Paskibraka menaikan Bendera Merah Putih pada upacara HUT RI ke 73 di Lapangan Merdeka Ambon, Jumat (17/8/2018). FOTO : PRISKA BIRAHY (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON– Ada yang berbeda saat upacara penaikan Bendera Merah Putih HUT Kemerdekaan RI ke 73  di Lapangan Merdeka Ambon, Jumat (17/8/2018). Suara tegas nan latang dari Komandan Pasukan 45, Paskibraka  itu terdengar parau dan berat.  Bahkan saat mengomandoi pasukan sesekali terlihat tamu undangan memegang leher sambil mengerinyitkan dahi.

Suara sang komandan terdengar serak dan sakit. Pada beberapa arahan, suaranya bahkan nyaris tak terdengar dengan bersih. Siapa sangka untuk memimpin pasukan saat upacara selama kurang dari satu jam, Kapten CPM  (Corps Polisi Militer) Ibrahim Rahman Putra nayris kehilangan suaranya. “Saya nggak tahu, padahal sebelumnya tidak apa apa. Kurang minum air hangat,” akunya sambil tersenyum usai upacara pengibaran bendera HUT Kemerdekaan RI ke 73.

Sebagai komandan peleton ada sejumlah treatmen yang wajib dilakukan. Stamina prima sudah pasti. Namun kesehatan dan kualitas suara jangan sampai dilewati. Suara jadi modal besar bagi seorang komandan upacara. Kesan tegas berwibawa sudah pasti dibutuhkan seorang komandan. Ibrahim mengakui jika dirinya kurang mengonsumsi air jeruk hangat. “Harusnya minum air hangat. Ya habis ini saya minum,” ujar perwira seksi penyelidikan dan pengamanan Detasemen Polisi Militer XVI/ 2 Masohi.

loading...

Treatment air hangat dan jeruk ampuh menenangkan tenggerokan dan menjaga pita suara. Dirinya juga harus menghindari gorengan atau makanan berminyak. Meski harus menahan sakit dan ancaman kehabisan suara, Ibrahim mengaku amat bangga. Ini merupakan kali pertamanya jadi komandan pasukan 45.

Semua dilakukannya atas nama cinta tanah air serta penghargaan bagi para pejuang. Suara parau bukan masalah besar baginya. Pengibaran bendera hingga pembubaran pasukan pun berjalan mulus. “Ini risiko, sudah biasa. Nanti juga minum obat dan permen khusus,” sebut pria 30 tahun asal Jakarta itu. (BIR)

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *