Obituari Pendeta Lien Ruhulessin-Gaspersz Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

by
Pendeta Lien Ruhulessin-Gaspersz. DOK. PRIBADI

“Ibu Lin, pantas diberi gelar ibu GPM. Beliau adalah sosok Pendeta perempuan GPM sejati. Semua hal mengenai idealisme tentang sosok pelayan (pendeta), ibu pelayan, istri pemimpin, kepemimpinan perempuan GPM ada dalam penampilan diri dan penampilan pemberitaan serta sikap dan karakter ibu Lin”. Demikian pesan singkat yang dikirim seorang pendeta senior merespons berita kematian Pendeta Lien Ruhulessin-Gaspersz. Pernyataan demikian tak berlebihan jika menelusuri rekam jejak istri Pdt Dr John Ruhulessin ini.

Setelah menjalani perawatan kurang lebih empat bulan di Jakarta, pada hari Senin, 15 Juni 2020 pukul 22.59 Pendeta Lien menghembuskan nafas terakhir didampingi suaminya. Berita duka ini diwartakan Febry Calvin Tetelepta, Ketua Badan Perwakilan GPM di Jakarta, yang juga Senior Advisor pada Kantor Staf Kepresidenan RI. Pendeta Lien yang lahir di Ambon 18 Februari 1957 mengidap sakit Mieloma multipel (Myeloma multiple). Sakit ini bekaitan dengan sel plasma yang adalah jenis sel darah putih dalam sumsum tulang. Dengan kondisi ini, sekelompok sel plasma menjadi bersifat kanker dan berlipat ganda. Penyakit ini dapat merusak tulang, sistem kekebalan tubuh, ginjal, dan jumlah sel darah merah (Wikipedia).

Pendeta Lien menamatkan pendidikan Teologi pada Sekolah Tinggi Teologi (STT) GPM Ambon. Semasa studi di Sekolah Tinggi Teologi (STT) GPM, perempuan yang bernama lengkap Jozepin Paulin Gaspersz ini, pernah mengikuti program pertukaran mahasiswa (student exchange) di Amerika Serikat sekira dua bulan. Suaminya, Pdt John Ruhulessin pernah pula mengikuti program yang sama di Amerika Serikat. Seusai kuliah, Pendeta Lien menjalani masa vikariat di Jemaat GPM Dian Darat Klasis Kei Kecil. Ia kemudian melayani sebagai Pendeta Jemaat di Jemaat Khusus GPM Hok Im Tong Ambon bersama Ketua Majelis Jemaat, Pdt Opa Bu Louhenapessy (ayah, Richard Louhenapessy, Walikota Ambon).

Loading...

Setelah itu ia berturut-turut menjadi Sekretaris Klasis GPM Kota Ambon, Kepala Biro Perempuan Sinode GPM dan Sekretaris Departemen Keesaan dan Kesaksian Sinode Gereja Protestan Maluku. Setelah menyelesaikan tugas selaku Sekretaris Departemen, jelang masa pensiunnya ia kembali melayani selaku Ketua Majelis Jemaat Khusus GPM Hok Im Tong Ambon hingga purna tugas tahun 2017. Memasuki masa pensiun ia masih membantu melayani di Lembaga Pembinaan Jemaat (LPJ) GPM dan menjadi salah satu anggota Tim Pastoral Sinode GPM. Selama sepuluh tahun (2005-2015) ia mendampingi suaminya Pdt John Ruhulessin yang menjadi Ketua Sinode GPM. Ungkapan klasik “dibalik sukses seorang suami, ada peran istri yang luar biasa” memang pantas disematkan kepada sosok almarhumah. Lebih daripada itu, Pendeta Lien juga telah menjadi inspirasi bagi banyak sosok perempuan dan pendeta perempuan sebagaimana ratusan ungkapan belarasa yang disampaikan melalui media sosial.

Selain berkiprah di gereja, Pendeta Lien aktif dalam gerakan kesetaraan gender/feminis melalui Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi (Peruati). Seperti disampaikan Pdt Ruth Ketsia Wangkay, mantan Ketua Umum Peruati Pusat, pada Kongres Nasional ke-3 Peruati di Ambon tahun 2011, Pdt Lien terpilih sebagai Ketua Peruati Daerah Maluku, dengan Sekretaris Pdt Aty Iwamony. Peruati merupakan wadah berhimpun para perempuan berlatar belakang pendidikan teologi yang berkomitmen memperjuangakan kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam berbagai bidang kehidupan.

Ibu Pendeta Lien meninggalkan seorang suami, dua orang anak (Joy dan Vanno Ruhulessin) dan dua orang menantu (John Hetharie dan Tara Breemer) serta tiga orang cucu yakni Jaaziel dan Jefly Hetharie serta Ezra Ruhulessin. Seorang ponakannya, Pendeta Dr Fayla Ruhulessin menuangkan rasa kasihnya terhadap sosok almarhumah melalui baris-baris puisi ini: “Darimu, kubelajar tentang kerendahan hati. Darimu, kubelajar tentang arti sebuah “kecantikan”, Darimu, kubelajar tentang kesederhanaan, Darimu, kubelajar tentang ketangguhan seorang perempuan, Darimu, kubelajar untuk tidak marah dan tetap tersenyum dalam segala hal, juga Darimu, kubelajar tentang “menghamba”. Kau tidak hanya cantik dan ceria, Kau tidak hanya cerdas dan kreatif, Kau, perempuan yang rendah hati dan berdedikasi, Kau, perempuan hebat, bersahaja lahir dan bathin”, Selamat jalan perempuan hebat yang bersahaja. Tuhan menyambutmu di sorga mulia. (RR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *