Obituari Prof Dr John Lokollo

by
FOTO : ISTIMEWA

KATONG kehilangan sang guru sejati. Bukan hanya karena kepakarannya di bidang hukum tapi juga guru karena keteladanan dan komitmennya untuk kemajuan peradaban anak negeri ini. Selamat jalan menuju keabadian Prof. Lokolo. Demikian testimoni Dr Abidin Wakanno, dosen IAIN Ambon merespons status fesbuk saya ketika menginformasikan wafatnya Prof John Lokollo. Guru besar emeritus Fakultas Hukum  Universitas Pattimura Ambon, ini tutup usia pada hari Selasa, 11 Pebruari 2020. Almarhum sempat dibawa ke rumah sakit TNI AL Halong sebelum akhirnya meninggal  jelang 84 tahun.

John Lokollo lahir di Ambon, 22 April 1936. Almarhum meninggalkan seorang istri, dua orang anak dan enam orang cucu. Istrinya, Fien Disah berasal dari Airmadidi, Minahasa Utara. Ayah istrinya, menjadi guru yang bertugas di beberapa tempat di Maluku, di antaranya Ternate dan Ambon. Prof John Lokollo, lahir di Mardika Ambon. Ayahnya seorang pegawai dinas Pekerjaan Umum. “Keluarga kami sudah lama tinggal di Mardika’ ungkap anaknya yang sulung, Edir Lokollo, yang juga dosen pada Fakultas Perikanan Unpatti. Ditilik dari marganya, ia berasal dari pulau Seram (Nusa Ina) tepatnya negeri Amahai. Almarhum memiliki 11 orang saudara. Satu diantaranya ibu dari Dr John Pasalbessy, dosen senior Fakultas Hukum Unpatti.

Saat konflik mendera Maluku 1999 ia dan keluarganya mengungsi dari Mardika ke Belakang Soya sebelum akhirnya mendirikan rumah dan menetap di Lateri. Rumahnya bersebelahan dengan maestro Hawaian, Bing Leiwakabessy, yang kini berusia 97 tahun. “Keluarga besar Fakultas Hukum dan Unpatti pada umumnya merasa berduka dan kehilangan sosok ilmuan yang berdedikasi” ungkap Prof Nus Saptenno, Rektor Unpatti yang juga dosen senior di Fakultas Hukum Unpatti.

Sejumlah karangan bunga dan ucapan dukacita datang dari berbagai kalangan. Melalui media sosial terbaca berbagai kesan dan pengalaman bersama almarhum. “Beliau orang yang tenang dan serius. Beliau sesungguhnya orang yang sangat baik. Saya pernah bikin kesalahan dan berpikir bahwa ia akan memarahi saya, tapi justru diberi nasihat dan motivasi” ungkap Jeffry Palijama, salah seorang mahasiswanya yang kini bermukim di Jakarta. Prof. Lokolo bukan sekedar seorang akademisi, juga bukan sekedar seorang pengajar, tapi beliau adalah Sang Guru, yang mengajar, mendidik dan lebih dari itu, beliau membina dan membentuk kami menjadi seorang yang berkarakter. Ungkapan Palijama ini senada dengan testimoni Dr Abidin Wakanno diatas.

Loading...

Selain belarasa dari keluarga besar fakultas hukum Unpatti, dua orang jurnalis turut memberi apresiasi kepada pakar hukum pidana ini. “Beta pung Profesor, yang selalu jadi sumber wawancara terkait kasus-kasus pidana. Prof yang bijak, baik, bersahabat, enak diajak ngobrol, dan tidak pernah menolak ketika diminta waktunya untuk bertemu” tulis Hanafi Holle di laman fesbuknya. Holle pernah menjadi wartawan yang kini dosen di IAIN Ambon ini  sedang melanjutkan studi S3 di Surabaya.

Demikian pula jurnalis senior Ahmad Ibrahim, mantan pimpinan Redaksi Ambon Ekspress menulis “ Dalam beberapa kali kesempatan diskusi, saya pernah menangkap sebuah statemen menarik dari Prof Lokollo terkait penanganan keamanan. Ia meminta agar aparat keamanan jangan bertindak seperti “mobil pemadam”. “Baru bertindak setelah ada kejadian. Baru bersikap setelah peristiwa terjadi. Dengan begitu banyak satuan yang mereka miliki mestinya mereka sudah deteksi lebih awal,” kata Prof.

Selain itu semasa hidup almarhum turut berperan dalama menopang pemerintah daerah provinsi Maluku maupun kabupaten kota. Pernah menjadi pengurus Lembaga Kebudayaan Daerah Maluku (LKDM), narasumber untuk Bapedda Maluku, saksi ahli dan penyokong otonomi daerah dan peran lainnya. Seorang warganet dari Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) mengakui peran dan kontribusi almarhum dalam pemekaran kabupaten MBD. Selain itu, almarhum juga pernah mengajar di Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN, kini IAKN Ambon). Pendeta Tinus Ngabalin, dosen di STT Fak-Fak Papua merupakan salah anak bimbingnya saat menyusun skripsi di STAPN Ambon. “Terima kasih Prof atas bimbinganmu bagi saya” tulis pendeta Ngabalin.

Secara pribadi saya mengenal almarhum ketika bertugas sebagai Pendeta Jemaat GPM Bethel Ambon 2007-2011. Almarhum merupakan warga jemaat GPM Bethel dan pernah menjadi Majelis Jemaat GPM Bethel. Bersama koleganya almarhum Coen Pattiruhu, mereka merupakan Majelis Jemaat Bethel yang berdedikasi. Seperti pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya, anaknya Edir Lokollo juga pernah menjadi Majelis Jemaat GPM Bethel, bahkan menantunya Eny Lokollo kini menjadi Majelis Jemaat Bethel.

Hal ini menegaskan bahwa Prof. Lokollo bukan saja merupakan seorang ilmuan dan tokoh publik tetapi merupakan pelayan gereja yang berdedikasi. Pemazmur berkata “masa hidup  manusia 70 tahun dan jika kuat 80 tahun”. Prof Lokollo telah melampaui 80 tahun, dan semasa hidupnya ia telah memberi buah bagi keluarga, dunia pendidikan, gereja dan masyarakat. Ia dimakamkan 14 Pebruari 2020 di pekuburan keluarga  di Galala Hative Kecil. Putra Nusa Ina ini telah kembali ke Sang Khalik dalam keabadian. Selamat jalan sang Guru dan panutan  orang banyak. Damai abadi bersama Bapa sorgawi. (Rudy Rahabeat, pendeta GPM).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *