Olahan Sagu Tradisional di Maluku Masih Bertahan

by
Sejumlah warga melakukan penyaringan (sahani) parutan sagu di sebuah Walang Goti atau tempat pemarutan sagu di Dusun Waimamina, Desa Tulehu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, Minggu (1/8/2021). (ANTARA/FB Anggoro)

TERASMALUKU.COM-Ambon – Warga di sentra tanaman sagu di Desa Tulehu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, masih mempertahankan cara tradisional untuk mengolah komoditas bahan pangan tersebut.

“Rata-rata yang membuat sagu adalah anak-anak muda dan caranya masih sama (tradisional, red.) tidak berubah,” kata warga Desa Tulehu, Deki (42), kepada ANTARA di Ambon, Senin.

Ia mengatakan Tulehu sentra tanaman sagu di Maluku, di mana tempat tersebut terdapat empat jenis pohon sagu yang sudah ditanam secara turun-temurun oleh warga setempat. Pengolahan sagu di Tulehu juga masih mempertahankan cara tradisional, membutuhkan tenaga dan waktu yang cukup lama untuk membuatnya.

Fadli, seorang pengolah sagu di daerah itu, mengatakan permintaan sagu di daerah tersebut paling banyak untuk memenuhi kebutuhan di Kota Ambon, Ibu Kota Provinsi Maluku.

Ia mengatakan harga satu sagu tumang di tingkat pengumpul di Kota Ambon Rp35.000. Sagu tumang hasil pengolahan secara tradisional komoditas tersebut, berupa sagu yang dibungkus daun. Sagu tumang dijadikan tepung sagu dan papeda, makanan khas Maluku berupa sagu yang disiram air panas sehingga seperti bubur dengan tekstur yang kenyal.

“Satu sagu tumang di pengumpul Rp35.000 tapi kalau sudah harga eceran bisa dua kali lipatnya,” ujarnya.