OPINI : Caleg Minus Gagasan Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

OPINI : Caleg Minus Gagasan Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

SHARE
Pendeta Rudy Rahabeat

VICTOR Hugo seorang sastrawan Prancis menyebutkan bahwa gagasan merupakan kekuatan sebuah peradaban. Tanpa gagasan yang kuat, sebuah peradaban akan surut menuju keruntuhan. Demikian pula hasrat untuk membangun masa depan yang lebih baik, sebaiknya diawali dengan gagasan-gagasan besar yang perlahan namun pasti dikritalisasikan dalam program dan tindakan keseharian.

Akhir-akhir ini mata kita disibukan dengan beragam spanduk dan baliho ukuran kecil hingga besar. Berjejer di sepanjang jalan, bahkan hingga di atas pohon-pohon. Beragam foto dengan beragam seragam serta ekspresi. Ada berkumis tipis, ada yang berkumis tebal. Ada yang menggunakan simbol-simbol agama, ada pula simbol budaya lokal. Ada yang bermurah senyum, ada pula yang terlalu serius. Tak terkecuali ragam kata-kata singkat dan seperti hendak menjadi mantra untuk menghipnotis orang yang melihatnya. Kadang-kadang kita tertawa sendiri melihat wajah-wajah itu dengan kata-kata yang tak kalah lucunya.

Tapi itulah wajah politik kita saat ini. Ada yang menyebutnya politik baliho atau politik spanduk. Tak ada gagasan di sana. Yang ada hanya pencitraan dan permainan tanda dan warna. Jika yang terjadi demikian, apa yang kita harapkan dari perhelatan demokrasi ini? Kita hanya akan menuai hal-hal yang konyol dan membuat rusak ruang publik dan kualitas peradaban. Dengan menuliskan begini, bukan berarti saya sedang mengecilkan figur-figur yang tentu memiliki kelebihan dan keunggulan tertentu. Mereka juga punya kelebihan yang patut diapresiasi. Maka yang hendak menjadi point berikutnya adalah artikulasi kualitas Caleg itu sendiri.

ARTIKULASI GAGASAN

Idealnya para Caleg bisa mengartikulasikan gagasan mereka dengan jelas dan terang. Apa yang dapat mereka perbuat jika kelak menjadi anggota legislatif. Tentu bukan sekedar menggaransikan dana aspirasi untuk rakyat atau gaji yang dibagi sepuluh persen. Bukan pula tawaran proyek-proyek fisik yang bombastis dan kadang tidak realistis. Kita butuh pemikiran yang cerdas, gagasan yang cemerlang dan analisis yang tajam terhadap persoalan-persoalan kemasyarakatan yang kian hari kita rumit dan kompleks. Tentu tidak ada jalan pintas untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Olehnya, jika ada Caleg yang menawarkan jalan-jalan pintas dan instan itu berarti ada masalah serius dengan sang Caleg dimaksud.

Gagasan-gagasan itu dapat disampaikan secara lisan maupun tulisan. Forum-forum dan saluran (channel) yang digunakan juga bisa beragam. Misalnya di media sosial (medsos) sang Caleg dapat mendeskripsikan dan menarasikan gagasan-gagasan yang bernas dan bergizi, realistis dan visioner. Selain itu, yang bersangkutan dapat pula menceritakan capaian-capaian yang dialaminya dalam karya-karya sosial. Ia bukan figur yang menjanjikan mimpi-mimpi, tapi dapat membuktikan bahwa ia memiliki kapasitas dan kecakapan yang sudah teruji dalam sejarah hidupnya. Dengan menyebutkan demikian, maka seseorang yang berani maju sebagai Caleg jangan hanya mengandalkan uang dan massa pendukung, ia juga mesti memiliki wawasan dan gagasan, selain komitmen kuat untuk mengubah gagasan-gagasan itu menjadi tindakan yang bermuara pada kebaikan publik. Ini tentu sebuah idealisasi.

Eleanor Roosevelt pernah berujar, pikiran kecil membicarakan orang, pikiran sedang membicarakan peristiwa, dan pikiran besar membicarakan gagasan. Pendapat ini dengan lugas menegaskan bahwa seseorang yang hendak menjadi wakil rakyat mesti memiliki gagasan-gagasan yang cemerlang tentang masa depan rakyat yang hendak diwakilinya. Ia tidak bisa bersembunyi dibalik slogan dan baliho. Ia tidak sekedar menggunakan sentiment agama dan identitas suku misalnya untuk menarik suara pemilih. Ia mesti serius memikirkan peta persoalan saat ini dan memiliki jalan keluar yang komprehensif. Tentu saja, ia akan bersinergi dengan berbagai sumber daya yang ada untuk membuat gagasan-gagasannya menjadi operatif dan fungsional.

CALEG YANG TERUS BELAJAR

Seseorang ketika kelak terpilih sebagai anggota legislatif atau senator, maka ia memegang tanggungjawab yang tidak ringan. Ia bukan hanya mendapat status baru sebagai anggota dewan, tetapi ia mesti benar-benar berjuang untuk dan atas nama rakyat. Fakta menunjukan, bahwa di saat masa kampanye, banyak bertaburan janji-janji manis dan penuh pesona, tetapi setelah terpilih, maka suara dan aspirasi serta persoalan rakyat tenggelam di balik gaya hidup anggota legislatif yang gemerlapan dan flamboyan. Ini tentu perlu dihentikan.

Seseorang yang hendak menjadi wakil rakyat hendaknya menjadi pembelajar yang sungguh-sungguh. Ia tidak merasa sok tahu dan cepat puas dengan apa yang ada. Sebagaimana air yang terus mengalir, maka masyarakat juga terus mengalami perubahan dan perkembangan yang dinamis. Olehnya, ia harus rajin belajar, suka membaca dan diskusi serta memperbarui posisi-posisi pemikirannya baik dalam tataran paradigmatic maupun praktis. Dengan begitu, ia selalu aktual dan relevan dalam dinamika perubahan yang terus menerus.

Ada seberkas harapan agar pemilihan umum kali ini benar-benar menghasilkan anggota legislatif yang memiliki gagasan-gagasan yang original, memilik karakter yang kuat serta komitmen serta integritas diri. Ia menjadi agen dan aktor yang benar-benar membawa perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Terlalu riskan jika kita memilih anggota legislatif yang hanya menjual slogan dan janji, tanpa memperlengkapi diri dengan gagasan, kapasitas dan kecakapan yang membuat kehadirannya benar-benar bermanfaat bagi kemaslahatan bersama, lintas suku, agama, gender, kelas sosial dan golongan apapun. Mari maju bersama ! (RR).

loading...