OPINI : Fenomena Oplas Oleh Ruth Rosani Saiya, Pemerhati Studi Gender

OPINI : Fenomena Oplas Oleh Ruth Rosani Saiya, Pemerhati Studi Gender

SHARE
Ruth Rosani Saiya, Pemerhati Studi Gender

BUKAN rahasia lagi jika perempuan-bukan saja artis-terpaksa secara sadar dalam laku tiap hari ingin kelihatan cantik dan mempercantik dirinya. Apa saja bisa dilakukan termasuk permak diri dari rambut, alis, kelopak mata, bulu mata, hidung, bibir, pipi, leher, payudara, pantat, ketiak, kuku, vagina, paha, perut dan hampir seluruh tubuh.

Mengapa tubuh perempuan harus dipermak sedemikian rupa? Apakah itu semata-mata keinginan hati? Belum tentu. Sadar atau tidak sadar, tubuh perempuan bukan lagi menjadi miliknya sendiri. Tubuh perempuan telah menjadi tubuh pasar bebas, tubuh budaya, tubuh agama dan tubuh politik. Semua segmen itu mengkonstruksi tubuh perempuan.

Dan perempuan dituntut membentuk dirinya atau tubuhnya sesuai konstruksi itu. Misalnya perempuan yang cantik itu berkulit putih. Dan cream pemutih menjadi sangat laris dari harga murah hingga mahal sekali. Lalu yang berkulit hitam atau coklat dianggap tidak cantik. Karena tidak sedikit perempuan yang berupaya untuk memutihkan kulitnya. Atau perempuan cantik itu harus langsing lalu orang mengidentikan yang gemuk dengan tidak cantik.

Karena itu, sedot lemak dipraktekkan di mana-mana. Dulu orang ke dokter untuk mengobati sakit flu, mencret-mencret atau sakit kepala. Sekarang orang ke dokter untuk konsultasi bentuk bibir dan bentuk hidung atau bikin tirus tulang pipi. Atau menjadi perempuan baik-baik itu jika pakaiannya menutupi seluruh tubuh. Kalau ada terbuka sedikit itu perempuan tidak baik-baik. Perempuan baik-baik itu tertawa tidak boleh keras nanti dianggap tertawanya itu seperti menggoda laki-laki. Dan masih banyak lagi konstruksi orang atas tubuh kita.

Jadi apa yang harus kita lakukan sebagai perempuan atas tubuh kita sendiri? Menurut saya kita tidak membiarkan diri terjebak dalam konstruksi-konstruksi itu. Karena kita adalah pemilik tubuh kita sendiri. Kita mensyukuri tubuh sebagai pemberian Tuhan dengan merawatnya degan baik agar tidak sakit. Tidak mudah termakan iklan pemutih, pelangsing, dan mencegah ketuaan yang justru merusak tubuh kita sendiri. Lebih baik uangnya untuk pendidikan anak-anak atau untuk menolong orang yang susah.

Yah segitu aja. Kalau ada yang punya pendapat lain silahkan saja. Berbeda itu indah ! Salam Damai dari Waringin Pintu Halong Ambon (RRS)

loading...