OPINI : HMI, Gerakan Sosial dan Islam Milenial

by
Ilham Akbar Mustafa

SULIT untuk membantah bahwa gerakan sosial dewasa ini menunjukan gambar wajah yang sangat sporadis dan sektarian. Terdapat sebuah fenomena yang mencengangkan bahwa antusiasme bangunan gerakan sosial sampai saat ini belum mampu melampaui sekat-sekat perbedaan yang ada. Kenyataannya, solidaritas sosial yang bermunculan terkesan berserakan dan justru terpusat kepada perebutan-perebutan kepentingan politik. Hal demikian tidak hanya ditampilkan oleh organ politik, birokrasi, ataupun relawan kemanusiaan. Akan tetapi hal yang sama juga terkooptasi pada organ-organ kemahasiswaan setiap merumuskan gerakan sosial.

Dalam banyak pengalaman, fragmentasi gerakan sosial seperti ini tentu bukanlah hal yang alamiah. Secara ekplisit, tidak adanya pijakan kolektif dalam sebuah gerakan menjadi salah satu alasan mengapa gerakan sosial menjadi lebih fragmentatif dan fakultatif. Lebih jauh, hal ini pula yang menjadi titik mulanya keterbatasan dari gerakan sosial ketika berhadap-hadapan dengan sejumlah problem struktural yang sedang terjadi.

Perlu diingat, bahwa gerakan sosial bukanlah sekedar membentuk suatu blok kepentingan kelompok tertentu dengan cara mengeksploitasi isu-isu publik. Akan tetapi, gerakan sosial semestinya bersimplikasi pada terbentuknya partisipasi bersama dari kelompok – kelompok motoris.

Dan tentu ini bukanlah hal yang mudah. Memicu partisipasi kolektif sekaligus untuk menjungkalkan seluruh persoalan struktural akan menjadi sesuatu yang sulit ketika di waktu yang bersamaan sebuah organisasi tidak dilengkapi dengan program kerja, perangkat serta agenda-agenda revolusioner di dalamnya.  Sejalan dengan itu, ada fakta yang mendasar bahwa denyut aktivisme yang hidup hari ini pada organ-organ kemahasiswaan pada umumnya belum memiliki posisi yang tegas (political standing) untuk menjadi sebuah front pembebasan terlebih menjadi corong perlawanan atas ketertindasan-ketertindasan yang membelit rakyat selama ini.

Akibatnya, disatu sisi agenda kejuangan bersama menjadi tersendat karena fragmentasi gerakan sosial, disisi yang lain kemiskinan, rasisme, kekerasan, krisis ekologis, dan kapitalis-neoliberalisme yang terstruktural menjadi semakin bercokol di dalam kehidupan masyarakat. Demikian juga dengan privatisasi terhadap layanan publik seperti fasilitas kesehatan, pendidikan maupun tanah milik publik yang dari hari ke hari kian dilakukan secara massif dan terstruktur. Konsekuensi ini tentu bisadianggap sebagai hal yang tak terpisahkan dari pergulatan gerakan sosial kini yang nyaris berkutat penuh pada hal yang partikular serta luput atas problem-problem yang lebihkompleks.

Untuk itu, pelampauan atas hal tersebut tentu mensyaratkan narasi baru tentang sebuah gerakan kolektif. Dengan kata lain, alasan- alasan yang mendesak seperti itu seharusnya menjadi titik rangsangan dalam melakukan praktik-praktik berorganisasi, mulai dari merumuskan masalah, menentukan prioritas masalah, hingga pada pencarian solusi. Sehingga dengan itu, secara otomatis visi organisasi merupakan salah satu pintu awal untuk mendefiniskan tentang gerakan tersebut.

HMI dan Tantangan Kebangsaan

Di tengah benturan-benturan sosial yang kini terjadi, menjadi hal yang paling krusial adalah sebuah organisasi harus mampu memodifikasi dirinya menjadi avant-garde dalam mengeksplorasi berbagai kebuntuan yang ada. Sulit untuk membayangkan bahwa ketika organisasi justru tampak seperti tertunduk dan oportunistik. Yang terjadi maka makna keberadaan organisasi sebagai inisiator untuk membangun kekuatan gerakan juga ikut turut sirna.

Begitu pula pada konteks kebangsaan, organisasi harus terus dipaksa agar menjadi lebih adaptif dan responsif dengan persoalan yang terus menerus hadir di dalam negara. Sekiranya, tugas ini menjadi relevan dengan maraknya berbagai sentimen identitas yang terus merebak di Indonesia. Dalam banyak momentum, harus diakui bahwa tajamnya perdebatan yang dilandasi oleh sentimen identitas telah menjadi pukulan mundur bagi pembangunan demokratisasi di Indonesia saat ini.

Realitas politik ini sendiri menjadi semacam tantangan terhadap organ kemahasiswaan untuk segera bisa mengambil posisi yang tegas dalam menentukan orientasi politik organisasinya. Tidak untuk ikut menyuburkan kekerasan maupun sentimen rasial, melainkan untuk mengimbangi atau bahkan melawan propaganda yang sejauh ini telah dikembangkan oleh kalangan konservatif-puritan di Indonesia. Organisasi harus mewujudkan dirinya sebagai pendukung gagasan moderat dan pluralisme di dalam kehidupan masyarakat yang majemuk.

Sangat jelas tentunya bahwa dengan bersikap insklusif, organisasi bisa memberikan semacam energi baru yang secara signifikan dapat menentukan masa depan keberagaman di Indonesia. Meskipun dalam spektrum ini, ada beberapa hal yang sebenarnya juga tak bisa diabaikan oleh organisasi pengusung ide-ide moderasi. Bahwa sikap inklusif organisasi tentu harus selalu berbarengan dengan ketajaman- ketajaman pandangan organisasi untuk memotret lebih jauh tentang ketidakadilan yang terjadi di dalammasyarakat.

Berangkat dari pikiran itu, formulasi Himpunan Mahasiswa Islam menjadi salah satu kekuatan progresif dan transformatif sejauh ini adalah merupakan langkah yang paling relevan. HmI perlu bertansformasi menjadi rumah gagasan bagi islam progresif untuk mewakili kelompok-kelompok termarginalkan selama ini. HmI memiliki peran utama untuk menyelesaikan persoalan- persoalan ketidakdilan sosial di lapangan. Praktis dengan begitu, HmI dapat mengisi ruang-ruang kosong yang hari ini tidak terjamah oleh banyak organ kemahasiswaan lainnya. Ruang-ruang yang selama ini diisi dengan pelbagai diskriminasi dan intoleransi oleh kelompok tertentu.

Disamping tugas tersebut, HmI memikul tanggung jawab untuk melawan bentuk kejumudan berpikir di dalam masyarakat. Meskipun juga tidak bisa dipungkiri bahwa, arus pemikiran moderat, masih dianggap oleh beberapa kelompok umat Islam bertentangan dengan pandangan pokok di dalam ajaran islam. Resistensi ini berlangsung cukup massif, sehingga Islam rahmatan lil alamin sebagai narasi inti perjuangan belum bisa didudukan sebagai proyeksi bersama.

Di sisi lain, harus diakui pula bahwa, percakapan tentang modernisme islam memang sudah terlalu lama diasingkan dari HmI. Paska Nurcholis Madjid, HmI yang pernah muncul sebagai lokomotif modernisme islam perlahan-lahan mulai tergerus dengan sendirinya. Hal demikian terjadi karena HmI berjarak cukup jauh dari medan gagasan dan terlalu banyak menarik diri di dalam pusaran politik praktis.

Implikasi langsung dari hal tersebut tentu membuat HmI terseok-seok untuk menyesuaikan diri dengan lajunya peradaban. Akan tetapi proses ini tentu dipahami sebagai sesuatu yang dinamis dalam sebuah organisasi dan bukanlah sesuatu yang permanen. Bila hal itu dapat dilakukan oleh kelompok yang lain, maka HmI tidak mustahil dapat melakukan hal yang sama pula.

Terlepas dari segala keterbatasan itu, HmI sangat memungkinkan untuk hadir sebagai faktor suatu perubahan sosial. Peranan HmI untuk mewujudkan negara kesejahteraan masih sangat realistis dan logis. Tentunya dengan sebuah catatan, secara operasional, HmI perlu melakukan persenyawaan antara kekuatan gerakan islam modernis dan spirit egalitarian. Tanpa ada upaya itu, dalam kondisi tertentu HmI hanya terlihat sebagai barisan penjaga kekuasaan dan kemapanan oligarki di dalam negara. Yang juga pada saat yang sama diam terhadap ketimpangan sosial-ekonomi yang terjadi.

HMI dan Islam Milenial

Posisi HMI untuk menawarkan preskripsi baru tentang Islam milineal juga sangatlah penting. Bahwa gerakan sosial khususnya gerakan mahasiswa islam membutuhkan penyesuaian-penyesuaian yang kontekstual dengan warna generasi saat ini. Hal ini dimungkinkan karena kondisi objektif, dimana gerakan Islam haruslah adaptif dengan perputaran rodazaman.

Pada titik tertentu, Islam Milenial merupakan perwujudan dari progresifitas HmI untuk membaca kompleksitas relasi-relasi sosial kini. Didalam terma islam milenial jika digali lebih dalam, akan ditemukan sebuah cita-cita sosial umat islam yang sejalan dengan situasi saat ini. Dimana bicara soal Islam milenial tentu akan merujuk pada suatu generasi islam pembaharu yang tidak gagap dengan perubahan- perubahan dan anti terhadap perbedaan.

Karakteristik islam milenial akan tercermin pada suatu generasi yang terbuka terhadap keragaman pandangan dan cara berpikir. Di tangan islam milenial, perbedaan-perbedaan konsepsi bukanlah menjadi kendala untuk saling bergandengan bersama lainnya melakukan kerja-kerja perubahan. Dalam sikap keagamaan, generasi islam milenial secara proporsional dapat menempatkan domain private dan publik, yang provan dan yang sakral. Dengan sikap yang seperti ini, islam milenial tidak mudah masuk ke dalam jebakan-jebakan fundamentalisme dan radikalisme.

Generasi Islam milenial memiliki skill yang mumpuni dan cakrawala berpikir yang luas. Juga sebagaimana masyarakat modern, generasi Islam milenial mahfum terhadap perkembangan digital dan teknologi. Generasi ini bergaul dengan segala pikiran dan kritis terhadap ketimpangan sosial. Bahkan tidak berlebihan jika generasi Islam milenial ini merupakan salah satu jalan keluar dari masalah-masalah yang kini membelenggu Negara. Karena ditopang dengan kekayaan informasi dan kecanggihan teknologi, generasi islam milenial mempunyai kemampuan daya cipta atas hal-hal yang baru.

Dengan demikian, pengarusutamaan wacana Islam Milineal dapat menjadi sebuah penyegaran baru terhadap gerakan mahasiswa Islam. Ikhtiar ini juga tidak lain dalam rangka memperbesar barisan- barisan generasi baru Islam untuk membereskan sekian banyak ketertinggalan yang ada.

Di masa dimana kebencian dimobilisasi dengan pelbagai rupa, generasi milenial ini tampil sebagai pembeda. Mereka muncul untuk menjelaskan bahwa tidak ada tempat apapun bagi kebencian di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Merekapun tidak tergelincir pada fanatisme buta dan menutup diri dari kritik.

Mengingat betapa pentingnya tujuan-tujuan ini, maka tentu saja HmI sebagai kelembagaan yang memiliki sumber daya serta infrastuktur yang memadai, berkewajiban untuk melakukan kejuangan-kejuangan yang lain. Dengan begitu berkubu-kubu gerakan sosial yang terbangun hari ini, HmI sebisanya dapat menciptakan tatanan kesadaran baru untuk menyatukan berseraknya gerakan itu. Hal itu dapat diwujudkan melalui kolektivitas gerakan yang bersandar pada semangat komunitarian.

Bersamaan dengan itu, dengan menjadi organisasi mahasiswa islam yang moderat dan sensitif terhadap isu kemanusian, maka tentu saja HmI akan hadir di setiap konflik maupun perselisihan di dalam kehidupan masyarakat. Selanjutnya, untuk menjawab segala kebutuhan zaman saat ini, HmI siap menciptakan terobosan-terobosan baru yang kompatibel dan efektif. Dengan demikian, gerak juang HmI akan tetap berada pada rel yang semestinya, yang sekalipun aral melintang, HmI akan tetap menjadi jalan kejuangan yang sebagaimana mestinya; Untuk Rakyat, Bangsa, dan Negara.

Ilham Akbar mustafa, Penulis adalah Kandidat Ketua Umum PB HMI Periode 2018-2020