OPINI : Kabar Baik Dari Sahulau Oleh Rudy Rahabeat

OPINI : Kabar Baik Dari Sahulau Oleh Rudy Rahabeat

SHARE
Pendeta Rudy Rahabeat,

SAHULAU, sebuah negeri adat di Kecamatan Teluk Elpaputih Kabupaten Maluku Tengah. 100 tahun yang lalu Kekristenan masuk di negeri tersebut, bagai benih yang terus bertumbuh dan berbuah, Jemaat GPM Sahulau saat ini beranggotakan lebih dari 1.000 warga jemaat, yang diketuai Pdt Neni Haurissa. Rabu (10/10/2018) Jemaat Sahulau mengadakan ibadah syukur 100 tahun Injil masuk Sahulau.

Acara diawali dengan tarian Cakalele dan sajian sebuah lagu berjudul “Hidup Ini Adalah Kesempatan” yang dinyanyikan oleh seorang pemuda Muslim. Dua penanda ini sekaligus menegaskan makna Injil yang membebaskan. Injil yang membebaskan manusia dari primordialisme sempit atas nama suku dan agama, dan membebaskan manusia dari pandangan yang sempit tentang adat istiadat dan tradisi. Catatan dibawah ini disarikan dari Khotbah Pdt Dr John Ruhulessin yang disajikan pada perayaan tersebut dan diringkas kembali kepada penulis melalui percakapan telepon.

Menurut mantan Ketua Sinode GPM ini, dengan diawali dengan pujian dari seorang Muslim menegaskan relasi kemanusiaan yang saling mengutuhkan. Bahwa agama-agama tidak perlu saling menafikan dan menegasikan satu sama lain, tetapi mesti terus saling bekerjasama demi kemaslahatan atau kebaikan bersama. Partisipasi warga Muslim dalam iven gereja mesti dilihat sebagai kekuatan bersama, sekaligus menegaskan kekuatan sejarah dan budaya masyarakat Maluku.

Seperti diketahui, Sahulau memiliki kaitan historis dengan Pulau Buton di Sulawesi Tenggara. Sultan Buton pernah datang di negeri tersebut. Dan ada jejak-jejak masyarakat Buton di sana, misalnya dalam bentuk marga (Fam), seperti marga Laale, Laulu, dan seterusnya. Menurut Ruhulessin relasi antar-suku bangsa di Maluku mesti dilihat sebagai kekuatan yang mesti terus dieratkan. “Kita ini terdiri dari suku-suku yang berbeda. Tetapi di dalam Tuhan kita semua bersaudara,” tegas putra Amahai ini.

Catatan kedua Pdt Ruhulessin yakni tentang tarian Cakalele yang mengawali Ibadah. Tarian itu sekaligus menegaskan bahwa adat istiadat dan tradisi tak harus dipertentangkan dengan agama-agama. Justru adat dan tradisi sudah ada sebelum kedatangan agama-agama. “Sepanjang adat itu baik dan berguna bagi manusia untuk apa ia dipertentangkan dengan agama?” tanya penulis disertasi tentang Pela di Maluku Tengah itu. Selanjutnya ia menegaskan bahwa agama-agama (gereja) terpanggil untuk menjaga dan merawat adat dan tradisi sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dalam kesempatan tersebut Pdt Ruhulessin yang saat ini adalah Ketua Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Wilayah Maluku ini mengajak seluruh warga jemaat dan masyarakat Sahulau untuk terus memberitakan Kabar Baik melalui kata maupun perbuatan yang menolong sesama. “Injil itu Kabar Baik bukan kabar Hoaks” tegasnya. Olehnya, sebagai Kabar Baik, Injil itu akan mentransformasi manusia dan komunitas secara total.

Sejarah pekabaran Injil bukan saja sejarah tentang pribadi-pribadi, misalnya para rasul, penginjil dan pendeta, tetapi juga sejarah dan karya komunitas. Oleh sebab itu pertanyaan penting dalam momen ini adalah sejauhmana komunitas itu mengalami pertumbuhan dan kemajuan. Dalam konteks negeri Sahulau, ia mengharapkan terus ditingkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, peningkatan solidaritas sosial serta menata kehidupan bersama yang adil dan damai.

Semoga negeri dan Jemaat Sahulau terus berkembang dan maju, termasuk negeri-negeri dan masyarakat di seluruh Maluku. Demikian harapan Pdt John Ruhulessin (Kontributor Terasmaluku.com, Rudy Rahabeat)

loading...