OPINI : Memetakan Variasi Caleg Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

by
Rudy Rahabeat

ADALAH menarik mencermati dan mengkritisi variasi calon anggota legislatif yang sedang berkontestasi saat ini. Pemetaan ini bukan saja agar kita bisa mengetahui latar belakang mereka tetapi juga mempertimbangkan variasi tersebut sebagai salah satu indikator untuk menentukan pilihan. Paling kurang ada lima variasi.

Pertama, caleg berdasarkan jenis kelamin dan atau gender. Umumnya kaum laki-laki mendominasi berbagai sektor kehidupan, termasuk politik. Jika perempuan kemudian diakomodir, itu juga karena perjuangan politik yang tidak mudah. Kuota tiga puluh persen keterwakilan perempuan dalam proses pencalegan ini merupakan sebuah langkah maju. Namun kita mesti mencermati pada nomor urut berapa perempuan diberi prioritas. Umumnya masih didominasi oleh laki-laki. Mudah-mudahan kebijakan suara terbanyak dapat menjamin asas kesetaraan dan keadilan bagi semua, khususnya perempuan. Para pemilih mesti cermat melihat hal ini.

Kedua, latar belakang pendidikan. Ada yang berijazah SMA ada juga yang bergelar professor. Walau ijazah bukan satu-satunya jaminan kualitas seseorang, namun dalam masyarakat simbolik aspek ini turut menjadi pertimbangan. Umumnya, orang tergoda dengan berbagai gelar yang dimiliki, tapi sekali lagi gelar bukan jaminan, walau bukan berarti tidak penting. Ada juga yang hanya tamat SMA tetapi punya ijazah-ijazah lainnya yang berkaitan dengan aktivitas informal seperti pelatihan dan kursus-kursus yang diikuti, sehingga memberi nilai tambah bagi sang caleg. Apakah pemilih bisa melacak keragaman ini dengan baik?

Ketiga, variasi tua muda. Ada partai yang memberi prioritas kepada orang muda, walau bukan partai pemuda. Ada pula yang memberi keseimbangan antara yang tua dan yang muda. Yang muda dinilai lebih energik dan inovatif, yang tua dinilai lebih berpengalaman dan matang. Tentu kita tidak perlu jatuh dalam dikotomi bahkan mempertentangkan keduanya, karena masing-masing memiliki keunggulan dan keterbatasan. Yang patut diperhatikan agar kita tidak mengarah kepada gerontokrasi alias pemerintan oleh orang tua-tua semata, dan akibatnya orang muda terabaikan. Di sini slogan “pemuda adalah pemimpin masa depan” patut dikritisi. Mereka adalah pemimpin masa kini, sebab jika masa depan, mereka pasti sudah tua (di masa depan itu).

Keempat, variasi agama. Ada partai agama tertentu yang merekrut caleg dari agama yang berbeda. Ini tentu sebuah keunikan. Ada pula partai yang mungkin memberi prioritas kepada agama tertentu dan abai terhadap variasi agama. Agama menjadi salah satu indikator penentu dalam kontestasi meraih suara pemilih. Agama disini bisa menjadi faktor integrasi tapi juga bisa berpotensi disintegrasi. Olehnya, perlu proporsional dalam melihat hal ini dalam konteks masyarakat multiagama dan multietnis.

Kelimat, pola kerja caleg. Ada caleg yang langsung terjun di lapangan bersama-sama rakyat. Ia masuk keluar kampung, memberi pendidikan politik, menjual gagasan-gagasan dan komitmen serta menunjukan kecintaan kepada calon pemilih. Tapi ada caleg yang sangat jarang turun ke lapangan. Ia hanya mengirim tim suksesnya dan dibekali dengan sejumlah logistif.

Pikirnya, dengan kerja tim dan dukungan logistik yang banyak, suara pemilih dapat disedot (saya enggan menggunakan kata “dibeli”). Variasi caleg seperti ini harus dicermati oleh pemilih yang cerdas. Jangan memilih seseorang yang menggunakan politik uang dan menjadikan rakyat sebagai objek semata. Rakyat berdaulat dan punya harga diri, rakyat adalah subjek dan bukan objek saat Pilkada saja, setelah itu diabaikan dan dicampakan.

Tentu ada beragam variasi lainnya. Tapi kelima variasi di atas kiranya dapat dicermati sebelum menentukan pilihan. Agar kita memilih wakil rakyat yang benar-benar proporsional, punya gagasan, peka gender, inklusif dalam beragama serta turun dan menyatu dengan rakyat. Kalau tidak demikian, kita akan menyesal sebab telah memberi sebagian kedaulatan kita kepada orang-orang yang sebenarnya tidak mencintai dan mau berkorban untuk dan bersama-sama rakyat. Selamat menentukan pilihan yang benar. (RR)