Bagan Warna Daun untuk Efisiensi Pemupukan oleh : Sheny Kaihatu

by
Sheny Kaihatu. FOTO : DOK. PRIBADI

Pemupukan nitrogen (N) sering kali menjadi faktor pembatas dalam upaya peningkatan produksi padi. Pertumbuhan dan hasil pada umumnya meningkat dengan meningkatkanya takaran pupuk nitrogen (Iqbal dan Faozi, 2007; Sisworo, 2006; Kamsurya et al., 2002, 2001; Sakhidin dkk., 1998), sehingga mendorong petani melakukan pemupukan nitrogen berlebihan untuk memperoleh hasil yang tinggi. Efisiensi pemakaian pupuk N dilahan padi sawah dapat dimaksimalkan dengan menanam varietas unggul yang tanggap terhadap pemberian N serta memperbaiki teknik budidaya, yang mencakup pengaturan kepadatan tanaman, pengairan yang tepat, baik dosis, cara dan waktu pemberian.

Umumnya petani memberikan pupuk dengan takaran tinggi, melebihi kebutuhan tanaman, sehingga menyebabkan pemborosan dan pencemaran lingkungan. Pengaturan waktu pemberian pupuk N yang tepat selama musim tanam dapat diperbaiki dengan cara mempelajari status nutrisi N tanaman menggunakan petunjuk Bagan Warna Daun (BWD) (Wahid, 2003). Penggunaan pupuk nitrogen secara berlebihan selain tidak efisien juga dapat membahayakan tanaman dan lingkungan. Menurut Steven et al. (1999), pemberian pupuk N yang berlebihan pada padi sawah dapat meningkatkan kerusakan tanaman akibat serangan hama dan penyakit, memperpanjang umur tanaman, dan menyebabkan kerebahan. Fageria dan Virupax (1999) menyatakan bahwa nitrogen merupakan faktor kunci dan masukan produksi yang paling mahal pada usaha tani padi sawah, dan apabila penggunaan tidak tepat dapat mencemari air tanah.

Penghapusan subsidi pupuk oleh pemerintah menyebabkan harga pupuk semakin mahal, sehingga dapat menurunkan pendapatan petani. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka penerapan teknologi yang mengarah kepada efisiensi penggunaan pupuk, khususnya pupuk N sangat diperlukan. Strategi pengelolaan hara N yang optimun bertujuan agar pemupukan dilakukan sesuai dengan kebututuhan tanaman sehingga dapat mengurangi kehilangan N dan meningkatkan serapan N oleh tanaman. Pemberian pupuk yang tepat tidak saja akan menurunkan biaya penggunaan pupuk, tetapi dengan takaran pupuk yang lebih rendah, hasil relatif sama, tanaman lebih sehat, serta mengurangi hara yang terlarut dalam air atau bahan makanan yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia (Anonim 2000).

Salah satu alternatif peningkatan efisiensi pupuk N adalah mempertahankan kondisi tanaman dalam keadaan cukup hara N namun tidak berlebihan. Pupuk diberikan berdasarkan kandungan N tanaman yang ditunjukkan oleh penampilan warna daunnya. Diagnosis status hara nitrogen berdasarkan warna daun merupakan cara cepat dan tepat dalam menilai tanaman dalam kondisi kurang, cukup ataupun kelebihan.

Kandungan N tanaman berdasarkan warna daun terbukti mendekati optimun (Wahid, 2003). Penelitian pemupukan nitrogen berdasarkan metode bagan warna daun telah dilakukan dan terbukti lebih efisien dibandingkan pemupukan nitrogen berdasarkan dosis rekomendasi dan kebiasaan petani ( Balipta, 2006; Wahid, 2003). Dosis pemberian pupuk yang cukup tinggi dipetani saat ini ada yang mencapai 400-600 kg urea/ha diatas rekomendasi pemerintah (Abdul 2003). Dengan landasan tersebut maka perlu dikaji lebih lanjut agar mendapatkan dosis pupuk urea yang tepat dan hasil relatif sama. Penelitian ini akan mencoba melihat hubungan status hara N dengan warna daun terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi sawah

Bagan Warna Daun

Warna daun adalah indicator yang berguna bagi kebutuhan pupuk N Tanaman Padi. Skala warna yang tersusun dari suatu seri warna hijau, dari hijau kekuningan sampai hijau tua sesuai dengan warna-warna daun dilapang, dapat digunakan untuk mengukur warna daun. BWD tidak dapat menunjukkan perbedaan warna hijau daun yang terlalu kecil sperti pada klorofilmeter (SPAD), namun dapat menentukkan ketepatan relative dalam menentukkan status N tanaman padi. Bila warna daun lebih rendah dari batas kritis tertentu, maka tanaman memerlukan pupuk N tambahan. Salah satu alat yang cocok untuk mengoptimalkan penggunaan N pada tanaman padi adalah Bagan Warna Daun (BWD) yang didistribusikan oleh CREMNET-IRRI. Alat ini terdiri dari 4 warna hijau dari hijau kekuningan sampai hijau tua.

Sudah sejak lama, warna daun tanaman padi dianggap penting, yang dapat digunakan sebagai indicator bagi pertumbuhan organ-organ tanaman dan bahkan bagi pertumbuhan tanaman secara keseluruhan. Petani pada umumnya menggunakan warna daun sebagai indicator visual dan subjektif bagi kebutuhan tanaman padi akan N. Bila daun padi berwarna pucat atau hijau kekuningan, petani menganggap bahwa tanaman perlu lebih banyak N.

Mengukur Warna Daun dengan Bagan Warna Daun

Untuk menggunakan bagan warna daun, beberapa hal yang perlu diketahui adalah

  • Pilih 10 tanaman dengan umur tanaman 25HST atau di fase anakan pada umur 35HST. yang akan diamati daunnya secara random (acak) pada suatu lahan tetapi semakin banyak sampel akan semakin lebih baik
  • Populasi tanaman dalam area yang akan dimati harus seragam
  • Pilih daun bendera (muda) yang telah terbuka sempurna dan sehat
  • Ukur warna dari tiap daun yang terpilih dengan memegang BWD dan menempatkan bagian tengah daun diatas standart warna untuk dibandingkan
  • Selama pengukuran, tutupi daun yang sedang diukur dengan badan, karena pembacaan warna daun dipengaruhi oleh sudut matahari dan intensitas cahaya matahari.
  • Jangan memotong atau merusak daun
  • Pengukuran dilakukan oleh orang yang sama pada waktu yang sama dihari-hari pengamatan
  • Bila warna daun Nampak berada diantara dua standar warna, ambil rata-rata dari keduanya sebagai pembacaan warna daun.

Penggunaan BWD berdasarkan kebutuhan riel tanaman

Berikan pemupukan N awal sebesar 50-75 kg Urea/ha sebelum 14 HST, tak perlu menggunakan BWD saat ini. Pembacaan BWD mulai sekitar 25 HST bagi padi pindah tanam. Lanjutkan pengambilan/pembacaan pada interval waktu 7-10 hari sampai 50 HST, atau sampai 10% pembungaan pada hibrida dan padi tipe baru (PTB). Nilai warna kritis untuk pemupukan N adalah 4, bila pembacaan BWD kecil dari 4 berikan pupuk N pada tanaman padi. Pada hasil harapan sebesar 5 t/ha berikan 50 kg Urea/ha, dan bila hasil harapan tanaman lebih tinggi maka pupuk N yang diberikan juga harus lebih tinggi; berikan lagi tambahan 25 kg Urea/ha untuk setiap ton hasil harapan yang lebih tinggi dari 5 t/ha.

Penggunaan BWD berdasarkan stadia fenologi

Pada padi sawah, direkomendasikan pemberian pupuk N tiga kali untuk efisiensi yang lebih tinggi. Yang pertama adalah pada waktu tanam atau sebelum 14 HST, yang kedua pada stadia anakan aktif (21-28 HST), dan yang ketiga pada stadia primordia bunga (50 HST). Pada hibrida dan padi tipe baru (PTB) diberikan yang keempat sekitar 10% berbunga. Dengan cara ini pembacaan BWD hanya 2-3 kali selama pertumbuhan tanaman. Berikan pemupukan N awal sebesar 50-75 kg Urea/ha sebelum 14 HST, kali ini tak perlu digunakan BWD.

Pada waktu pemupukan kedua dan ketiga (dan keempat pada hibrida dan PTB) bandingkan warna daun dengan BWD; Bila nilai BWD rata-rata 3,0 atau kurang, berikan 75 kg Urea/ha pada hasil harapan sebesar 5 t/ha. Tambahkan lagi 25 kg Urea/ha untuk setiap satu t/ha lebih tingginya hasil harapan. Bila rata-rata nilai BWD antara 3,5 dan 4,0; berikan 50 kg Urea/ha pada hasil harapan sebesar 5 t/ha. Tambahkan lagi 25 kg Urea/ha untuk setiap ton/ha lebih tingginya hasil harapan. Bila rata-rata nilai BWD antara 4,0 dan 4,5; tak perlu memberikan pupuk N bila hasil harapan hanya 5-6 t/ha. Tambahkan 50 kg Urea/ha bila hasil harapan lebih dari 6 t/ha.

Pada tanaman padi, suatu faktor pertumbuhan paling penting yang membatasi respons tanaman terhadap pupuk N yang diberikan adalah air. Respons terhadap pemupukan N terbatas bila ketersediaan air kurang, dan musim tertentu cendrung memberikan hasil lebih tinggi dalam setahun. Respons terhadap N juga tergantung pada baik buruknya suplai unsur hara yang lainnya. Tanpa pemberian P dan K respons hasil terhadap peningkatan N lebih rendah dibanding bila P dan K diberikan dalam jumlah yang cukup.

Disamping itu, respons terhadap pemberian P dan K adalah lebih besar bila suplai N banyak. Dobermann and Fairhurst (2000) menyatakan bahwa bila N yang diberikan ke tanaman cukup, maka kebutuhan terhadap unsur makro lain seperti P dan K bertambah. Devlin and Witham (1983) menyimpulkan bahwa bersamaan dengan kekurangan N, kekurangan P dapat menyebabkan daun gugur sebelum waktunya dan terjadinya pigmentasi antosianin bewarna jingga atau merah. Dobermann and Fairhurst (2000) juga mengingatkan bahwa gejala-gejala kekurangan S dan Fe agak meragukan dengan kekurangan N.

Penulis adalah staf Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Maluku