OPINI : Mukaddar, Sosok Solutif Untuk Iqra Buru

by
Rektor Iqra Buru Muhammad Mukaddar bersama Suhfi Majid. FOTO : DOK. SUHFI MAJID

SAYA bertemu dengannya,  Kamis pagi (2/3) di Penginapan Wisma Kota Namlea, Kabupaten Buru. Seperti biasa pembawaannya kalem dan murah senyum. Muhammad Mukaddar namanya. Selama dua tahun belakangan, dia telah menjalani amanah baru sebagai Rektor Universitas Iqra Buru (Uniqbu).

Surat Keputusan (SK) Nomor 106/H.21/YMB/XII.2015 tertanggal 23 Desember 2015, menjadikannya resmi dilantik oleh Ketua Yayasan Muslim Buru, Hi. Abdullah Mukadar BA sebagai Rektor Universitas Iqra untuk masa jabatan 4 tahun (2015 – 2019) pada 23/12/2015.

Beban sebagai Rektor diterima saat Universitas Iqra Buru mengalami perkembangan yang memprihatinkan. Puluhan dosen berbulan – bulan tak dapat menerima gaji. Aktifitas perkuliahan di kampus tak normal. Sejumlah infrastruktur kampus tak terawat. Uniqbu dalam kondisi akademik yang memprihatinkan. Warning merah sedang menggelayuti kampus tersebut.

Sebelum terpilih menjadi Rektor, Bupati Buru, Ramli Umasugi memanggilnya secara khusus dan memintanya memimpin Kampus Uniqbu. “Saya meyakini, dia bisa membenahi kampus. Makanya saya minta dia untuk jadi Rektor”, jawab Ramli Umasugi ketika saya tanya kenapa dia yang diusulkan jadi Rektor Uniqbu, Kamis malam (1/3).

Permintaan Bupati Buru tidak serta-merta diterima. “Saya tolak tiga kali. Karena desakan berulang Pak Bupati, saya menyampaikan tiga syarat untuk menjadi Rektor,” kata Mukaddar kepada saya di Kamis pagi itu.

Yang pertama, bantuan hibah untuk peningkatan SDM. Kedua, infrastruktur Kampus Uniqbu harus dibenahi bertahap dan ketiga bantuan riset untuk dosen Uniqbu. Dirinya meminta agar Pemda terlibat. “Deal.. jawab Bupati memenuhi persyaratan yang dia ajukan,” katanya sumringah. Bupati mengiyakan permintaan Mukaddar.

Maka dalam tahapan penyampaian visi – misi saat uji kelayakan calon rektor, dia menyampaikan tiga point selain sejumlah visi memajukan Uniqbu jika dirinya memimpin. Dirinya juga menegaskan jika gaji dosen akan diperjuangkan untuk dibayarkan. “Banyak yang tanya, darimana gaji dosen dan pegawai saya bayarkan? sementara keuangan universitas jauh dari memadai”, sebutnya.

13 suara senat dari 16 senat memilihnya sebagai rektor. Janji membayar gaji dosen dan pegawai dia tunaikan. Dan secara bertahap, gaji berbulan-bulan yang tak dibayar tersebut bertahap diselesaikan. “Pemda Kabupaten Buru mensupport semuanya lewat bantuan hibah”, bukanya. Langkah ini membuat Kampus Uniqbu bergairah.

Pembenahan bertahap infrastruktur Kampus Uniqbu juga dilakukannya. Ide menarik yang juga dimunculkannya adalah hari kreatifitas. “Saya menginisiasi Hari Sabtu sebagai hari kreatifitas kampus. Tidak hanya mahasiswa, Civitas akademik dan keluarganya semua terlibat”, urainya.

Berbagai kegiatan dilaksanakan. Mulai senam, beberapa jenis olahraga maupun kreatifitas lainnya. Ide ini mendorong beberapa Bank di Buru menyumbangkan program CSR-nya dalam bentuk bantuan sarana olahraga.

Program ini memberi inspirasi kepada Rektor UIN Makassar Prof. Dr. Musafir Pababbari, M.Si untuk mengadopsinya. “Inspiring. Ide ini harus diadopsi untuk dilaksanakan di UIN”, kata rektor saat menghadiri wisuda Uniqbu April 2016. Saat itu, Prof Musafir menyampaikan orasi pada acara wisuda tersebut.

Sekarang, gairah akademik menghangat di Uniqbu. Bupati Buru juga menginstruksikan kegiatan-kegiatan SKPD yang melibatkan universitas, maka Uniqbu wajib diikutsertakan. “Ini memberi ruang kontribusi akademik bagi dosen untuk peran pengabdian dan riset”, paparnya. Mewujudkan kampus Uniqbu sebagai center of excelent dan berdaya saing lewat penguatan tridharma PT adalah cita – cita yang selalu menyala dalam dada dan fikirannya.

Muhammad Mukaddar, S,Ag, MA.Pd, sang rektor belia ini telah hadir pada saat yang tepat, ketika Uniqbu sedang jatuh. Bersama Bupati Buru, Ramli Umasugi, S.Pi, MM, keduanya hadir menjadi sosok solutif bagi Universitas Iqra di bumi Buppolo.

Dan Kamis pagi itu, saya berbisik kepadanya : “Jadikan Uniqbu kampus swasta nomor satu di Maluku”. Dia tersenyum sambil mengepalkan tangannya. Memang cita-cita ini tak mudah tapi itu bukan suatu kemustahilan. Bagi saya, Kampus Uniqbu adalah penopang utama (back bone) wajah peradaban dan SDM di Pulau Buru. SEMOGA. ( Penulis Suhfi Majid )