Pasar Dadakan dan Kemandirian Pangan Warga Kota Ambon

by
Pengdara roda dua yang melintas menyempatkan membeli petatas dari pedagang pasar dadakan di Farmasi, (4/6/2020). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Masyarakat Kota Ambon mulai beradaptasi pengan pola hidup baru. Beberapa wilayah ada pasar-pasar dadakan yang dibikin mandiri oleh warga atau pedagang. Bahan pangan yang dijual pun ada yang dari kebun sendiri. Seperti pasar dadakan kawasan Farmasi Atas, Kota Ambon.

Ada sekitar 20 lebih pedagang yang berjual di sisi kanan dan kiri jalan. Baru dua minggu mereka berjualan di sana. Rerata mereka merupakan para pedagang Pasar Mardika juga beberapa warga di kawasan itu.

Dari pantauan Terasmaluku.com di lapangan, mereka berjualan sejak pagi hingga sore. “Katong dari jam 06.00 sampai sore. Sekarang seng ke pasar lagi, jadi bajual di sini biar warga juga seng perlu turun ke pasar to. Tadi juga bapa RT ada yang datang data katong,” jelas Fani salah seorang pedagang pasar dadakan Farmasi Atas, Kelurahan kudamati Kecamatan Nusaniwe Ambon, Kamis (4/6/2020) sore.

Cabai merah kecil dari kebun pedagang di Siwang

Fani menjual sayur, bumbu dapur dan beberapa hasil kebun. Itu semua diperoleh dari pedagang besar di Mardika. Sedangkan sebagian lagi berasal dari kebunnya sendiri di Siwang. Seperti cabai merah keriting dan ubi. Ada juga yang menjual ikan segar dari Seri atau Eri Kecamatan Nusaniwe.

Para pedagang di situ menyadari di tengah pandemi kerumunan adalah hal yang mengkhawatirkan. Mereka harus memilih tetap berjualan di pasar Mardika dengan risiko ada kemungkinan tertular. Atau memilih tempat lain yang bebas kerumunan dengan risiko minim pembeli.

“Tapi namanya hidup katong kan mancari. Sejak corona katong seng turun (ke Pasar Mardika) lai,” ujarnya. Pagi adalah waktu paling ramai pembeli. Selepas itu hanya satu dua warga atau pengendara yang kebetulan melintas di situ.

Loading...

Tak jauh dari situ, ada juga beberapa warga yang membuka lapak pasar dadakan. Tapi tak lebih dari lima orang. Lokasinya dekat pemancar salah satu stasiun televise swasta. Mereka umumnya adalah warga yang bukan pedagang pasar.

Lantaran kondisi yang susah, mereka putuskan untuk berjualan bahan makanan sekaligus membantu tetangga dan warga sekitar agar tidak perlu ke pasar. “Beta biasanya jual sayur masak, tapi setelah corona ni katong mancari sambungan hidup. Ya jual sayur sedikit, supaya jangan turun ke Mardika lai. Katanya mau jualan di Pasar Wainitu tapi seng tahu, syaratnya bagaimana,” aku Ros. Ada juga penjual ikan segar di kawasan Eri yang berdekatan dengan tempat pendaratan ikan.

Inisiatif ini lahir dari kondisi covid-19 di Kota Ambon. Tidak mungkin orang menghindar keramaian di pasar. Ada yang tak punya pilihan lain dan tetap berjualan, sedang sebagian mencari lokasi lapak lain yang dinilai aman bagi mereka.

 

Hal ini sejalan dengan yang pernah di sampaikan Pemerintah Kota Ambon. Ada upaya untuk memecah kerumunan di pasar dengan membuat aturan berjualan ganjil genap. Juga memindahkan sebagian pedagang ke beberapa lokasi pasar milik Pemkot Ambon yang masih kosong. Namun kini warga berharap adanya bantuan tenda jualan dari Dinas Perindustrian Dan Perdagangan Kota Ambon untuk mendukung kegiatan usaha warga.

Wakil Gubernur Maluku, Barnabas Nathaniel Orno dalam wawancara terbatas di kediamannya pekan lalu pun menyampaikan hal serupa. “Lebih baik ada pasar di tiap-tiap wilayah. supaya tidak perlu lagi turun ke Mardika. Misalnya di Nusaniwe dengan ikan-ikan segar. Itu untuk memacah kerumunan,” usulnya.

Langkah itu selain untuk mengatur aktivitas belanja, juga mendukung terlahirnya ketahanan pangan. Menurut Orno jika warga di tiap wilayah dapat mengupayakan bertanam lalu menjual hasilnya di kawasan itu, maka rantai ekonomi tercipta. Tidak perlu harus menunggu bantuan pemerintah, tapi dalam waktu bersamaan mandiri pangan. (PRISKA BIRAHY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *