Pasien Covid RSUD Saparua Kabur Tak Terima 4 Rekannya Sembuh Lebih Dulu

by

TERASMALUKU.COM-AMBON – Seorang pasien covid-19 berinisial AM (56) kabur dari RSUD Saparua, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah saat tengah proses perawatan.

Kepala RSUD Saparua, Vita Nikijuluw, mengatakan AM merupakan pegawai administrasi di RSUD Saparua itu kabur dari ruang perawatan pada Sabtu 19 September 2020 subuh setelah dirawat sejak 5 September.

AM awalnya dinyatakan positif terpapar virus setelah pihak RSUD Saparua melakukan screaning bagi 99 orang pegawainya pada 28 Agustus lalu.

Pada 3 September malam, hasil pemeriksaan swab diterima pihak RSUD Saparua, dimana dari 99 pegawai, 6 diantaranya positif covid termasuk AM. Pada 4 September, 5 pegawai langsung dirawat di RSUD Saparua. Sementara AM baru dirawat pada 5 September sekembali dari Ambon.

“AM pulang dari Ambon 5 September. Dia tidak percaya hasil, katanya konspirasi, dia tidak terima karena dia tidak rasa apa-apa. Saat kita kasi tunjuk hasil dia izin pulang. Kita koordinasi dengan Satgas Kecamatan dan Raja dikawal sampai masuk ke RS. Tanggal 8 September mulai pengobatan, setelah diperiksa dia (AM) punya gula darah tinggi 300 mg/dl, waktu dapat pengobatan tanggal 8-9 di-swab lagi follow up, hasilnya keluar 13 September yang 4 negatif, AM masih tetap positif gula darahnya 250 mg/dl sekian, masih tinggi,”jelasnya saat dikonfirmasi via seluler Senin (21/9/2020).

Karena tidak terima rekannya-rekannya dinyatakan sembuh sementara dia belum, AM akhirnya kabur. Padahal kata Vitta, AM masih terlihat ada di ruangannya pada 18 September malam.¬†“Jam setengah 6 pagi 19 September, saya dapat telepon dari supervisor kalau AM ini sudah tidak ada, kabur. Padahal sebenarnya AM dijadwalkan harus di swab lagi tanggal 20-21 September,”ungkapnya.

Loading...

Saat dirinya mengecek, AM sempat protes dan mengatakan tidak terima hanya dirinya belum sembuh. Bahkan kata Vita, AM pun tidak terima jika Covid-19 dan penyakit gula yang dia derita ada hubungannya.

“Beliau bilang mana ada hubungan corona dan sakit gula, saya sampaikan itu kan faktor komorbid, saya bilang bersabar saja, ada pasien yang Oma-oma saja dengan penyakit gula kita rawat sampai 35 hari bisa sembuh. Makanya saya bilang kalau tidak percaya saya, saya bikin rujukan ke Ambon. Beliau jawabnya pikir-pikir dulu. Tapi paginya (Minggu), beliau kabur,”sambungnya.

Dia pun menyayangkan kejadian ini. Apalagi, pasien ini merupakan orang yang sudah berkecimpun di dunia kesehatan meskipun di bagian adminsitrasi. PAdahal, masyarakat umum saja masih bisa taat kepada petugas medis.

“Kalau antara dokter dan pasien sudah tidak ada kepercayaan pasti susah. Ini kekecewaan saja karena teman-temannya sudah keluar dia belum, lalu orang ini tidak terima kalau dia punya penyakit dan memang beliau ini orangnya keras kepala susah diatur,”bebernya.

Diakuinya juga, kaburnya AM ini tidak terlepas dari kelalaian petugas ruangan dan penjaga (Satpam) yang berjaga di malam AM kabur. Alhasil, kedua seorang petugas ruangan dan sekurity langsung diberi sanksi berupa pemutusan kontrak kerja.

Yang pasti, kejadian kaburnya pasien covid ini menjadi bahan evaluasi pihaknya agar tidak terulang lagi.¬†“Pasti jadi bahan evaluasi kita. Pembenahan mulai Sabtu kemarin sampai tadi dilakukan lagi pemantapan dan pembinaan bagi petugas di RSUD Saparua,”tandasnya. (RUZADY ADJIS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *