Paskah Bahari Amahusu, Rayakan Kebangkitan Yesus di Atas Laut

by
Perayaan Kebangkitan Yesus Kristus yang diadakan Jemaat GPM Imanuel Amahusu di Pantai Waitatei Amahusu Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon Minggu (1/4) dini hari. FOTO BIR (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Maluku, pulau di Timur Indonesia yang dikelilingi laut. Laut jadi sumber kehidupan, mata pencarian serta perayaan sukacita bagi orang Maluku. Alam yang indah berpengaruh pada tiap sendi kehidupan. Bahkan alam pulalah yang turut memperkaya kearifan lokal orang Maluku.

Salah satunya tercermin dari perayaan Kebangkitan Yesus Kristus yang diadakan Jemaat GPM Imanuel Amahusu, Minggu (1/4) dini hari. Subuh subuh benar, lautan di Pantai Waitatei Amahusu begitu meriah. Gelap dan dingin pecah dengan hamparan ratusan obor yang mengapung di atas laut.

Dari kejahuan kobaran api membuat ribuan pasang mata yang memadati pantai terbelalak. Salib itu merupakan lambang dosa yang kini takada artinya. Sebab Sang Juru selamat bangkit mengalahkan maut. Usai salib terbakar habis, sebuah salib besar dengan nyala pendar nan terang seperti menguasai gelapnya laut.

“Ini salib kemuliaan. Salib yang menandakan Yesus bangkit dengan segala kemuliaan melawan maut,” jelas Pendeta Wempi Ayal, Ketua Majelis Jemaat Amahusu. Dua salib yang diatur mengapung itu jadi main attraction subuh tadi. Menurutnya, perayaan sukacita kebangkitan tahun ini memang dirancang berbeda dan mengesankan.

BACA JUGA : 17 Tahun Dicambuk, Eusebius Sempat Minta Dipaku

Laut jadi bagian penting bagi warga Amahusu. Di situ ada nasib dan kehidupan warga, Pantai Amahusu juga menjadi pusat berbagai kegiatan bahari berskala internasional. Karena itu Paskah Bertema Bahari kali ini jadi pengingat betapa laut itu penting. “Saya ingin ingatkan jemaat tentang pesan moral dan lingkungan dari perayaan Paskah,” lanjutnya.

Saat laut dianggap penting, maka sudah seharusnya kita – manusia menjaganya. Baginya menjaga laut agar bersih merupakan cara manusia menghargai karya tangan Tuhan. Sama halnya dengan hati, sikap yang beradab mencerminkan hati yang bersih.

Pendeta Sammy Titaley

Pendeta Sammy Titaley, selaku penggagas Paskah Bahari 2018 di Amahusu juga mengungkapkan hal senada. Alam tak boleh dipandang hanya sebagai objek eksploitasi tanpa perlu merawatnya. Sammy yang juga menggagas Natal Bahari di Hukurila pada 2017 itu menyebut, selain perayaan kebangkitan, jemaat perlu diingatkan tentang pentingnya lingkungan. Pasalnya keimanan kita terwujud dari cara kita berinteraksi dengan alam sekitar.

“Karena itu beta bikin perayaannya di atas laut. Cahaya-cahaya ini juga gambaran gelap yang kalah dari terang,” kata mantan Ketua Majelis Jemaat pertama di Amahusu itu. Warga jemaat diberikan sebuah visualisaai yang ril tentang Terang yang dibawa Yesus mengalahkan maut atau kegelapan.

Sammy menyebut Salib bagi orang Korintus adalah sebuah kebodohan. Salib, merupakan cara yang dipakai untuk menghukum orang berdosa yang keji. Namun Yesus membuktikan dirinya sebagai orang suci yang bangkit dan kalahkan maut. Karena itu salib dibakar dan berarti tak ada apa-apa lagi.

Sedangkan Cahaya terang salib kemuliaan yang lebih besar adalah bukti iman percaya orang Kristen. Nah, salah satu cara untuk memuliakan Tuhan yakni dengan cara hidup kita menjaga lingkungan. Unsur spiritual itu yang coba dia kawinkan dengan alam di Amahusu.

Tak ketinggalan kearifan lokal setempat turut memperkaya malam perayaan kebangkitan. Seperti bunyi tahuri sebagai pertanda akan dimulainya acara, perahu milik nelayan yang dipakai sebagai transportasi menuju ke mimbar tengah laut, lalu ada sekitar 300 obor yang dibuat dari bambu dan gaba-gaba. “Kalau obor-obor itu untuk estetis atau keindahan laut saat malam. Biar bagus,” lanjut Sammy yang mengenakan toga hitam dan berkotbah di atas mimbar apung tengah laut itu.

Bagi sebagian warga yang hadir di Minggu subuh itu, Paskah Bahari mengingatkan mereka pada apa yang dilakukan Yesus ribuan tahun silam. Yaitu saat Yesus berada di tepi Pantai Genasaret, dia mendapati perahu nelayan berlabuh. Dia lalu meminta mereka mendorongnya ke tengah laut dan mulai mengajar orang banyak dari atas perahu. Karena paskah adalah perihal kemenangan, dan iman orang percaya tak akan sia sia.(BIR)