Patahan Aktif Penyebab Gempa di Maluku Ada di Daerah Ini

by

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Kepala BMKG RI, Dwikorita Karnawati mengungkapkan, patahan aktif menjadi faktor penyebab terjadinya gempa tektonik di Maluku.

BACA JUGA : Kepala BMKG RI: Maluku Termasuk Daerah Rawan Gempa dan Tsunami

Dijelaskannya,  kejadian gempabumi di Maluku sendiri meningkat pada tahun 2019 lalu yang catatkan 5.101 kali gempa dalam satu tahun dengan berbagai kekuatan. Namun di tahun berikutnya, 2020, alami penurunan.

Kepala BMKG RI, Dwikorita Karnawati didampingi Plh Sekda Maluku, Sadli Ie saat saat rapat bersama Pemerintah Provinsi Maluku, Kota Ambon dan instansi terkait di ruang rapat lantai enam kantor Gubernur Maluku, Ambon, Kamis (2/9/2021). Foto “: terasmaluku.com

“Tapi trennya saat ini masih alami peningkatan sehingga kami ingin cek sudah siapkan Maluku, Kota Ambon atau kota lainnya melakukan mitigasi secara tepat. Apalagi bulan sebelumnya terjadi gempa di Pulau Seram,”jelasnya memaparkan saat rapat bersama Pemerintah Provinsi Maluku, Pemkot Ambon dan instansi vertikal di kantor Gubernur Maluku, Ambon, Kamis (2/9/2021) malam usai sebelumnya meninjau enam lokasi rawan gempabumi dan tsunami di Kota Ambon.

BACA JUGA : Kepala BMKG Tinjau Sejumlah Daerah Rawan Bencana di Maluku

Wanita yang akrab disapa Rita pun membeberkan faktor penyebab gempabumi tektonik di Maluku ini disebabkan patahan aktif. “Hasil riset yang dilakukan beberapa pakar gempa, sumber pembangkit gempa di Maluku adalah patahan aktif,”ungkapnya.

Patahan aktif ini di Utara Pulau Buru dan Buru dan juga Selatan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). “Patahan aktif di Buru, Buru Utara capai kekuatan 7,4 mgnitudo, pergerakannya 5 mili meter pertahun, kemudian di sebelah selatan Flores bisa mencapai 7,5 (magnitudo) bisa menjadi sumber gempa bagi Provinsi Maluku,”bebernya.

Jika patahan aktif ini bergeser kata Rita lebih lanjut, maka bisa terjadi tsunami. “Sumber gempa itu apabila garis merah (patahan) alami pergeseran, terutama kalau pergeserannya naik, itu ada bagian lantai dasar laut naik maka apabila kekuatannya mencapai tujuh bisa menjadi tsunami,”terangnya seraya memperlihatkan peta patahan bergaris merah yang ditampilkan lewat proyektor.

Apalagi paling dominan sambung Rita, kekuatan gempa ini akibat patahan aktif ini mencapai 7 hingga 7,5 magnitudo sehingga pantai di Provinsi Maluku ini perlu dimitigasi agar tidak ada korban jiwa.

“Kebanyakan kekuatannya mencapai 7 hingga 7,5 itu cukup kuat sehingga perlu diwaspadai apakah bangunan-bangunan kita yang ada di Provinsi Maluku sudah didesign tahan terhadap gempa sebesar itu,”tandasnya.

Misalnya saja lokasi berdirinya RSUP dr. Johanes Leimena yang dibangun diatas endapan pasir lunak di kawasan Rumah Tiga, Kecamatan Teluk Ambon seperti yang telah ditinjaunya Kamis siang. “Misalnya tadi kita kunjungi rmah sakit yang di tepi pantai (RSUP), itu di endapan yang lunak, pasir halus. Ini juga mohon dipastikan desainya perlu dicek apakah desainnya mampu untuk gempa 7,5 atau tidak,”ingatnya.

Jika belum memenuhi syarat, maka perlu solusi agar memenuhi syarat bangunan tahan gempa. “Kalau belum memenuhi persyaratan, ada rekayasa untuk memenuhi persyaratan, jadi ada solusi, bukan hanya takut. Dan yang pakar itu PUPR atau departemen di Universitas,”pungkasnya. (Ruzady)