Pecinta Alam Maluku Tolak Stigma Pembunuh

by
Organisasi Pecinta Alam (PA) se-Maluku

 

AMBON – Sedikitnya 18 organisasi Pecinta Alam (PA) se-Maluku menolak stigma, mahasiswa pecinta alam (Mapala) adalah pembunuh. Sikap tersebut disampaikan menyusul insiden meninggalnya tiga anggota Mapala Universitas Islam Indonesia (Unisi) Yogyakarta, saat mengikuti The Great Camping XXXVII Mapala Unisi Yogyakarta, belum lama ini.  Para aktivis lingkungan dan pegiat alam bebas ini mengancam akan menggelar aksi solidaritas dan teatrikal bertepatan dengan kunjungan Presiden RI Joko Widodo ke Ambon, dalam rangka perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari 2017.

“Kami mendukung proses evaluasi internal Mapala Unisi serta menghargai seluruh proses hukum yang sedang berlangsung, namun kami juga menyatakan sikap dengan tegas menolak adanya stigmatisasi bahwa Mapala itu pembunuh,” tegas Koordinator Solidaritas Keluarga Besar Pecinta Alam Maluku (SKB-PAM) Fathul Kwairumaratu saat menyampaikan pernyataan sikap bersama sejumlah aktivis PA dari perwakilan organisasi KPA, Mapala dan Sispala di Ambon, Selasa (7/2).

Selain menyampaikan belasungkawa dan duka cita kepada keluarga korban yang meninggal, masing-masing Muhammd Fadhly, Syait Arsyam dan Ilham Nurfadmi Listia Adi, serta keluarga besar Mapala Unisi Yogyakarta, pihaknya juga mendorong agar ada upaya pendampingan terhadap proses hukum yang sedang dijalani sejumlah anggota Mapala Unisi.

Loading...

“Kami meminta agar Polres Karang Anyar dan Polda Jawa Tengah menjalankan prosedur hukum secara baik, benar, dan professional, sekaligus mendukung agar rekan-rekan Mapala Unisi tetap menjalankan roda organisasi dan menjalankan program-program kegiatannya,” pintanya.

Pihaknya mendorong agar para pemegang otoritas dan lembaga terkait lainnya dapat membuka ruang-ruang dialog yang terbuka, serta tidak mengeluarkan kebijakan kontra produktif terhadap sistem pendidikan Pecinta Alam di Indonesia. Di tempat yang sama, aktivis Darussalam Mahasiswa Pecinta Alam (Darmapala), M. Ali Salampessy, berharap agar pihak kepolisian dapat menangani perkara ini dengan profesional dan transparan. Dia menegaskan, apabila perkara ini tidak ditangani dengan baik, pihaknya akan mengkonsolidasikan potensi pecinta alam seluruh Indonesia untuk melakukan advokasi, baik advokasi litigasi maupun non litigasi.

“Kami akan melakukan advokasi litigasi maupun non litigasi, serta mengkonsolidasi seluruh kekuatan pecinta alam di Indonesia apabila proses hukum tidak berjalan dengan baik dan profesional. Kami juga menolak segala bentuk stigmatisasi bahwa pecinta alam adalah pembunuh, apalagi Presiden kita Joko Widodo juga adalah anak Mapala Silvagama UGM,” ujarnya.

Mantan Ketua Umum Darmapala ini menambahkan, pihaknya berencana akan melakukan aksi solidaritas dan dukungan terhadap Mapala Unisi, dan berencana menyampaikan sikap langsung kepada Presiden Joko Widodo saat berkunjung ke Ambon tanggal 9 Februari nanti. J “Kami berharap Pak Presiden dapat menerima aspirasi kami,” tandasnya. (IAN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *