Peluang Usaha, Warga Jual Terpal di Lokasi Pengungsian

by
Warga menjual ragam kebutuhan pengungsi yang tidak kebagian bantuan terpal di Desa Liang (1/10). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,-AMBON,- Di tengah padatnya lokasi pengungsian serta keterbatasan bantuan pemerintah ada saja warga yang cerdas melihat peluang usaha. Salah satunya warga Desa Liang Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah.

Di lokasi pengungsian Dusun Rahban, tenda milik Ismail Sobat dan keluarga salah satu yang ramai. Itu bukan karena penuh anggota keluarga melainkan oleh pembeli.

Ismail Sobat setiap harinya berjualan di toko kelontong di Desa Liang

Ismail menjadi satu-satunya warga yang tidak hanya mengungsi tapi juga melihat peluang bisnis. Kesehariannya, Ismail memiliki usaha jualan toko kelontong yang dikelola bersama istri untuk menghidupi keluarga.

Sejak gempa mengguncang Maluku, mereka terpaksa mengungsi. Nah, di tempat pengungsian itulah Ismail meneruskan usaha berdagangnya. Itu langarna dia melihat ada banyak kebutuhan warga yang tidak terpenuhi.

Ismail menjual ragam kebutuhan tersier bagi warga lain yang mengungsi di situ. Barang-barang yang dia jual merupakan kebutuhan rumah tangga yang digunakan sehari-hari.

Salah satu jualan yang paling laris yakni terpal. Memang pemerintah juga berbagai lembaga sosial membagikan terpal gratis bagi pengungsi. Namun jumlahnya terbatas. Ada warga yang tidak kebagian. Di situlah celah yang dilihat sebagai peluang.

Di lokasi pengungsian Dusun Rahban sudah seperti sebuah kampung. Ada banyak kendaraan dan warga lalu lalang beraktifitas. Mereka umumnya enggan kembali ke rumah karena takut ada guncangan susulan. Sebagian lagi harus rela kehilangan rumah yang rusak parah.

Hidup di tenda pengungsian yang serba terbatas, Ismail dan sang istri memilih untuk membuka lapak kecil berjualan. Seperti saat wartawan menyambangi lapaknya, beberapa warga sementara membeli terpal dan ember.

“Katong di sini mengungsi tapi lihat warga juga ada yang susah seng ada terpal. Karena itu beta jual terpal buat bantu yang memang seng punya,” ujar Ismail kepada wartawan Selasa siang (1/10/2019).

loading...

Barang-barang yang dia jual beragam. Mulai dari ember, termos, gelas, daster, matras hingga terpal. Namun yang paling laris, kata dia adalah terpal. Semua barang itu berasal dari usaha toko kelontong miliknya di Desa Liang.

Dalam sehari Ismail meraup keuntungan kotor minimal Rp 500 ribu. “Katong juga butuh. Dan masyarakat juga butuh beli barang sebab ada yang kurang,” katanya. Dia menjual terpal dua macam. Yakni ukuran 3×3 dijual segara Rp 100.000 an ukuran 4×6 seharga Ro 175.000.

Aisyah Lessy, warga yang kebutulan sedang mencari terpal. Menurut Aisyah, keluarganya tidak kebagian terpal. Alhasil dia hanya bisa menumpang pada tenda milik keluarga lain. Tak ada pilihan lain. Jika haris menunggu bantuan datang, munken dia dan keluarga Sudan kuyup kena hujan saat malam. Sementara tak ada lagi toko terdekat yang menyediakan terpal.

“Katong belum dapat terpal. Ada banyak warga yang seng kebagian. Makanya katong beli terpal bupaya punya tenda sendiri,” ujar Aisyah sambil memilih ukuran tenda yang dia inginkan. Dia juga membeli ember untuk keperluan mandi dan mencuci selama di tempat pengungsian.

Selain Ismail, ada juga dua lapak jualan lain di lokasi pengungsian Dusun Rahban. Bedanya dua lapak itu menjual sembako dan kebutuhan pangan.

Meski begitu Ismail dan keluarga lainnya berharap dapat kembali ke rumah agar bisa beraktifitas normal. Keuntungan yang diperoleh baginya tetaplah tak sebanding dengan kenyamanan di rumah sendiri.  (PRISKA BIRAHY)

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *