Pemerintah Negeri Pasang Larangan Berenang Usai Warga Luar Serbu Pantai di Amahusu

by
Salah satu tanda larangan yang dipasang di pantai di Negeri Amahusu untuk celah sebaran Covid-19, (7/4). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Warga Negeri Amahusu Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon memasang sejumlah papan larangan berenang di sepanjang pantai. Cara itu ditempuh lantaran banyaknya orang yang datang berenang dan membuat kerumunan di sepanjang pantai.

Pemasangan papan tanda larangan berenang dan berkerumun itu dilakukan sejak dua minggu lalu. Pemerintah negeri dan jemaat GPM Amahusu sendiri berinisiatif untuk memasang pemberitahuan itu di setiap pantai yang kerap disambangi warga dari luar.

 

Dari pantauan wartawan, paling banyak terpasang di sepanjang jalan menuju ke Hotel Tirta Kencana. Hal tersebut dibenarkan oleh pemerintah negeri. Kepala Bidang Perencanaan John Lekatompessy menyebut hal itu sebagai langkah pencegahan dan melindungi warga negeri dari sebaran virus.

“Orang datang banyak dan katong seng tahu ini dari mana saja. Katong bukan mau larang atau usir tapi kalau bisa jangan datang berkerumun bagitu. Katong seng tahu ini siapa yang sehat dan ada virus,” jelasnya kepada wartawan di kantor pemerintah negeri Amahusu, Selasa siang (7/4/2020).

Loading...

Menurutnya sejak ada himbauan agar warga berjemur, ramai orang berdatangan berenang sekaligus piknik bersama keluarga di pantai Amahusu. Sontak aktifitas itu mendatangkan perhatian. Warga setempat yang hendak berenang pun jadi enggan. Mereka takut kalau-kalau ada dari antara warga pendatang membawa virus lalu menularkan ke warga.

Menurut John berdasar kesepakatan bersama warga dan pemerintah negeri mereka mulai rutin berpatroli juga mengimbau warga untuk tidak lagi berenang dan membuat kerumunan. “Katong jaga katong negeri. Kalau misalnya satu kena satu negeri bisa jadi. Sebab seng tahu dia (pembawa virus) sudah bertemu siapa pegang siapa,” tutur John.

Saat ditemui siang tadi, dirinya tengah lakukan pendataan warga negeri pendatang dari luar daerah. Misalnya para pemuda pelajar yang menempung pendidikan di Pulau Jawa seperti ada yang dari Jakarta, Tangerang, Salatiga dan Solo. Nantinya mereka ini akan diawasi ketat dalam masa karantina mandiri oleh puskesmas dan RT setempat.

Selain pantai, Ruang Terbuka Publik (RTP) yang baru diresmikan pemkot pada 1 Februari jugatutup sementara. Tidak ada lagi aktifitas di situ untuk sementara waktu hingga ada pemberitahuan lanjutan dari warga.

“Di sini kalau sore-sore orang datang banyak. katong serba salah mau larang. Tapi kalau datang banyak-banyak juga katong jadi takut lai,” keluh seorang warga saat melintas di tepi pantai. Dia dan warga Amahusu berharap agar warga dari luar paham akan aturan tersebut. larangan itu hanya berlaku sementara dan diupayakan tidak menciptakan kerumunan.(PRISKA BIRAHY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *