Pemilik Lahan Tuntut Nusa Ina Group Bayar Bagi Hasil

by
Semy Balkewan

AMBON-Masyarakat adat  pemilik lahan kelapa sawit di wilayah Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah  mendesak pimpinan  PT. Nusa Ina Group, Sihar Sitorus membayar  bagi hasil panen. Perjuangan mereka untuk mendapatkan hak-hak tersebut  dilakukan  sejak akhir 2014 silam, nanum hingga kini belum juga terealisasi.

Pemegang kuasa warga adat pemilihan lahan,  Semy Balkewan menyatakan berdasarkan perjanjian PT.  Nusa Ina Group dengan warga pemilik lahan, selaku mitra, seharusnya bagi hasil  dilakukan setelah lahan yang ditanaman pohon kelapa sawit itu panen.

Namun kenyataannya meski sudah panen sejak 2014 silam, hingga kini  perusahan belum juga memenuhi kewajiban mereka, bagi hasil panen dengan warga. Dalam bagi hasil disebutkan pemilik lahan mendapat 30 persen sedangkan 70 persen diberikan  ke peruasahan.

Semy menyatakan, pada  15 November 2014, Sihar berjanji akan membayar bagi hasil setahun kemudian. Namun hingga kini belum juga direalisasikan.

“Sihar Sitorus pada 15November 2014  berjanji setahun kemudian akan membayar bagi hasil panen. Namun hingga saat ini belum merealisasikan janjinya, padahal seharusnya dibayar November 2015  sesuai janjinya. Dan lahan kelapa sawit sudah panen sejak 2014,” kata Semy dalam keterangan pers di Ambon, Kamis (14/4).

Akibat belum dipenuhinya tuntutan  bagi hasil tersebut, warga adat  pemilik lahan  sejak akhir  Maret lalu menutup  lokasi lahan kelapa sawit  di wilayah  I dan II wilayah Seram Utara. Yakni  meliputi  Aki Ternatem ,Wahakaim, Seti , Maneo dan Kabuahari hingga wilayah Kobi.

Semy menyatakan,  wilayah dengan luas sekitar   20 ribu hektare itu ditanami kelapa sawit  namun  ia mengakui yang  panen sekitar 5.000 hektare. Warga tidak akan membuka penutupan lahan sebelum tuntutan mereka dipenuhi.

“Tuntutan kami, saudara Sihar, pimpinan Nusa Ina Group harus membayar  bagi hasil panen kelapa sawit kepada kami selaku mitra, pemilik lahan dengan perjanjian 30 persen ke kami dan 70 persen ke peruasahan, jika menolak membayar kami tidak akan buka penutupan lokasi hutan kelapa sawit sampai selamanya,” katanya.

Saat ini lahan kelapa sawit yang ditutup itu sementara panen. Ia mengakui untuk mencegah bentrokan antar sesama warga dan aparat keamanan, sejumlah lokasi yang ditutup dibuka untuk panen hasil dengan pengamanan ketat aparat keamanan.

Selain masalah bagi hasil,  pemilik lahan juga minta Sihar dapat merubah sistem pengelolaan manajemen  di perusahan itu. Karena seharusnya menurut Semy, selaku mitra, pemilik lahan juga berhak masuk  di manajemen perusahan sehingga bisa mengetahui dan mengawasi apa yang terjadi di perusahan.  “Kami mendesak Gubernur Maluku dan Bupati Maluku Tengah memanggil PT.Nusa Ina Group, melihat masalah yang kami hadapi ini, jika mereka tidak memenuhi kewajibannya maka sebaiknya izin usahanya dicabut saja,” kata Semy. ADI