Penambang Ilegal Mulai Tinggalkan Gunung Botak

by
Pertemuan masyarakat dan tokoh adat terkait pengosongan lokasi tambang emas Gunung Botak Kabupaten Buru dari penambang ilegal, Jumat (17/3).

AMBON-Para penambang emas  ilegal mulai meninggalkan lokasi tambang emas Gunung Botak Kabupaten Buru, Maluku sejak Jumat (17/3).  Penambang turun dari Gunung Botak  melewati jalur Anahoni maupun jalur H  kawasan  Wamsait Kecamatan Wailata.

Ketua LSM Parlemen Jalanan Buru, Rusman Soamole saat dihubungi  Terasmaluku.com,  Sabtu (18/3) menyebutkan  para penambang  dari berbagai daerah termasuk Pulau Buru itu meninggalkan Gunung Botak setelah masyarakat dan tokoh  adat melakukan sosialisasi kepada penampang ilegal agar secepatnya  meninggalkan lokasi tambang sebelum aparat keamanan mengambil tindakan tegas.

Menurut Rusman,  sebelum  penambang meninggalkan Gunung Botak,  digelar pertemuan masyarakat dan tokoh adat, LSM  yang dipimpin langsung Hinolong Baman, Manaliling Besan di Kubalahin pada Jumat (17/3). Hinolong Baman adalah  pemimpin adat di Dataran Rendah,  wilayah Gunung Botak, Kepala Adat Negeri Kayeli,Jafar Wael, Saniri Negeri Kayeli, Mahmud Hentihu dan Imam Negeri Kayeli  Idris Baiy. Gunung Botak sendiri berada di wilayah petuanan Negeri Kayeli.

Pertemuan tersebut menurut Rusman atau biasa dipanggil Ucok ini,    atas permintaan Kepala Dinas ESDM Maluku Martha Nanlohy, agar masyarakat adat  petuanana Negeri Kayeli ikut membantu Pemerintah Provinsi Maluku dan aparat keamanan untuk mengosongkan Gunung Botak dari penambang ilegal. Hasil pertemuan, warga dan tokoh adat mendukung langkah Pemerintah Provinsi Maluku mengosongkan penambang ilegal dari Gunung Botak.

“Nah setelah pertemuan itu, tokoh adat dan masyarakat adat melakukan sosialisasi, meminta penambang ilegal dari berbagai daerah termasuk dari Buru  meninggalkan Gunung Botak. Penambang kemudian berangsur – angsur mulai meningalkan Gunung Botak. Ini tidak lepas dari peran Kadis ESDM Maluku yang meminta warga adat ikut membantu pemerintah, ” kata Rusman.

Hinolong Baman, Manaliling Besan  menyatakan masyarakat adat memberikan apresiasi yang tinggi kepada Kadis ESDM Maluku karena  perannya dalam penataan Gunung Botak. Martha  tidak mengabaikan warga dan tokoh adat, meminta peran serta  bantuan  warga adat  sehingga penambang ilegal mau turun dari lokasi tambang. Peran masyarakat adat juga untuk mencegah adanya konflik antar warga dengan aparat keamanan saat pengosongan Gunung Botak dari aktivitas penambangan  emas ilegal.

“Kami memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Kadis ESDM Maluku, karena selama ini  berperan dalam menata Gunung Botak agar tidak ada penambang ilegal lagi sehingga tidak terjadi kerusakan lingkungan yang merugikan anak cucu kami,”kata Manaliling.

Ia juga menyatakan,  Martha memiliki  andil yang besar dalam   penataan, pengangkatan sedimen mengandung mercuri dan sianidai di kawasan Anahoni, Gunung Botak sehingga pencemaran  lingkungan dapat diatasi.

Sementara itu Kapolres Pulau  Buru AKBP Leo Simatupang menyatakan, mulai Senin (20/3) pihaknya akan mengambil tindakan tegas kepada penambang yang masih melakukan aktivitas penambangan secara ilegal  di Gunung Botak. Aparat TNI/Polri yang melakukan penertiban penambang ilegal  akan diberangkatkan dari Ambon pada  Minggu (19/3).

“Kami  sudah berkali – kali melakukan sosialisai agar penambang meninggalkan lokasi tambang,  dan  mulai Senin ini kita mengambil tindakan tegas bagi penambang yang masih berada di Gunung Botak,” kata Kapolres.

Penutupan tambang dan penertiban penambang   ilegal di Gunung Botak atas keputusan Gubernur Maluku Said Assagaff. Sebelumnya, pada akhir Februari lalu, Gubernur bersama Pangdam 16 Pattimura Mayjen TNI Doni Monardo, Kapolda Maluku Brigjen Pol. Ilham Salahudin bersama jajaran terkait lainnya membicarakan masalah  Gunung Botak ini, agar ditutup dan dilakukan penertiban penambang ilegal. (ADI)