Penanganan Pasca Banjir Di Papua Oleh : Pdt John Ruhulessin

by

Papua, surga kecil yang jatuh ke bumi. Ini suatu metafor yang indah. Tapi tak terelakan bahwa beberapa waktu lalu, terjadi bencana alam, banjir bandang yang menimbulkan korban jiwa, harta benda dan pengungsi. Tidak ada jalan lain, masyarakat harus segera ditolong dalam sebuah pendekatan penanganan yang integratif, koordinatif dan permanen dengan melibatkan seluruh komponen baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, tokoh agama (gereja-gereja) dan tokoh adat/masyarakat serta pemangku kepentingan (stakeholders) terkait lainnya.

Dalam kunjungan lapangan, Selasa, 23 April 2019 ke lokasi bencana di seputar danau Sentani, dan mendengar arahan Ketua BPNP RI Letjen TNI Doni Monardo, serta pada hari Rabu, 24 April beliau memberi Ceramah pada Musrembang Inspirasi Provinsi Papua 2019, maka sebagai bagian dari rombongan pemerintah pusat, berikut ini saya kemukakan beberapa catatan informatif-reflektif sebagai berikut:

Pertama, Pentingnya pendekatan yang integratif, koordinatif dan permanen. Menyikapi kondisi objektif di lapangan, maka pendekatan pasca banjir bandang di Jayapura tidak bisa dilakukan parsial dan insidentil. Semua pihak baik pemerintah pusat maupun daerah serta masyarakat (tokoh agama dan tokoh adat) perlu terus bersinergis, berkoordinasi dalam penanganan yang permanen. Dengan model pendekatan tersebut, maka penanganan pasca banjir tidak semata tanggungjawab pemerintah melainkan menjadi komitmen semua pihak yang tergerak untuk saling berbelarasa dan mewujudkan pemulihan masyarakat dan alam. Dalam kaitan itu, apresiasi patut diberikan kepada pemerintah daerah, lembaga agama-agama (gereja-gereja) maupun tokoh adat yang telah berinisiatif dan berperan sejak terjadinya banjir hingga pasca banjir.

Kedua, Penataan Kawasan Ekologis. Hal ini berkaitan dengan tiga segmen yakni (1) Pemulihan kawasan cagar alam Siklop, (2) Penataan daerah aliran air dan (3) penataan danau Sentani. Ketiga segmen ini harus dikoordinasi secara terintegrasi dan paripurna. Selain itu berkaitan dengan berkaitan dengan rencana khusus penataan danau Sentani beliau bertemu dengan tokoh-tokoh adat Papua untuk mendengarkan pikiran mereka tentang penataan danau Sentani, mendengar pandangan mereka tentang bagaimana pembangunan rumah-rumah pengungsi dan bagaimana penataan danau secara permanen dan komprehensif. Keberadaan gunung Siklop dan Danau Sentani selain merupakan dua icon kabupaten Jayapura, tetapi juga memiliki korelasi alamiah.

Pendekatan integrasi gunung-danau sebagai satu kesatuan menjadi penting diperhatikan. Olehnya, kajian lintas-ilmu, baik dari aspek geologi, kehutanan, landscape, dan sebagianya perlu melihat keterhubungannya dengan kesatuan ekologis Gunung-Danau. Dalam kaitan tersebut maka kondisi objektif gunung Siklof perlu ditangani secara benar, demikian pula keberadaan danau Sentani dapat ditelaah dalam sebuah skenario yang berkelanjutan. Pengembangan danau Sentani sebagai objek pariwisata alam, juga menjadi arena pemberdayaan masyarakat di sekitar danau. Dalam konteks ini, relasi alam dan manusia (masyarakat) dilihat dalam satu keutuhan yang saling menghidupkan.

Ketiga, Pendekatan Kesejahteraan. Kepala BNPB memberi sebuah perspektif harapan bagi Papua dalam memperjuangkan kesejahteraan; yaitu dengan penataan potensi sumber daya pertanian maupun potensi lautan. Pendekatan ini terkenal dengan istilah “emas Biru” (kelautan) dan “Emas Hijau” (pertanian). Sebagai contoh di bidang pertanian dikembangkan sagu, kopi, buah matoa, begitu pula potensi laut seperti ikan tuna, dll. Terkait dengan pengembangan potensi ikan tuna, kepala BNPB akan mengirim 10 orang nelayan ke Ambon untuk belajar pengelolaan ikan tuna di Ambon.

Keempat, Penanganan pengungsi yang memberdayakan. Keberadaan para pengungsi saat ini memerlukan penyikapan yang serius dan berbasis pada realitas objektif masyarakat. Pengungis menjadi kelompok rentan yang keberadaannya mesti diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Perlu dipertimbangkan dan diperhitungkan faktor-faktor yang saling terkait dalam menjawab kebutuhan para pengungsi pasca banjir. Tujuan jangka panjangnya adalah agar para pengungsi memiliki ketahanan, diberdayakan dan tidak mengalami ketergantungan. Skema penanganan pengungsi di wilayah-wilayah bencana di Indonesia dapat menjadi bahan perbandingan agar persoalan pengungsi dapat dikelola secara bijak dan solutif.

Kelima, Peran strategis agama-agama (gereja-gereja). Dapat dipastikan bahwa agama-agama (gereja-gereja) memiliki kedekatan emosional-psikologis dengan umat dan masyarakat. Para tokoh agama memiliki peran dan tanggungjawab yang besar dalam kehidupan umat, termasuk saat dan pasca bencana banjir bandang tersebut. Olehnya, ruang partisipasi agama-agama hendaknya diapresiasi, dibuka dan diperluas agar sinergis dengan pemerintah, lembaga adat (tokoh adat) dan stakholerds lainnya. Dengan sinergi tersebut maka penanganannya pasca bencana akan makin efektif dan berdaya transformatif.

Keenam, Peran berhikmat tokoh-tokoh adat. Masyarakat Papua adalah masyarakat adat yang perlu didekati dengan mempertimbangkan pranata, nilai-nilai adat yang berlaku. Keberadaan wilayah-wilayah adat-ulayat, termasuk kosmologi masyarakat patut mendapat perhatian dalam upaya-upaya pemulihan dan rekonstruksi masyarapat pasca-bencana. Alam, budaya dan adat istiadat dalam masyarakat Papua tak pernah terpisahkan. Olehnya, ruang pengakuan terhadap eksistensi masyarakat adat, penggunaan kearifan lokal serta partisipasi tokoh-tokoh adat menjadi penting dan mendasar.

Ketujuh, Rencana aksi yang komprehensif. Kunjungan lapangan, masukan dari pemerintah daerah dan masyarakat serta telaah terhadap kondisi yang ada, maka sebuah rencana aksi yang komprehensif perlu disusun bersama dan ditindaklanjuti secara serius serta didukung oleh komitmen yang kuat. Dalam kaitan ini, kehadiran Kepala BNPB bersama rombongan di Jayapura merupakan wujud konkrit keseriusan pemerintah pusat dalam berempati dan terlibat langsung dalam penanganan pasca banjir di Jayapura. Rencana aksi dimaksud bukan hanya terkait hal-hal teknis operasional melainkan juga disertai perspektif (paradigma) pendekatan yang fundamental.

Hal ini berimplikasi jangka panjang dimana masyarakat korban akan menjadi penyintas (survivor) yang tangguh, mandiri dan produktif. Sekali lagi, pentingnya keterlibatan semua pemangku kepentingan untuk secara proaktif dan terlibat dalam pemulihan Papua terutama komponen gereja dan komponen adat. Harapan beliau peran aktif pemerintah daerah provinsi dan kabupaten sangat perlu.
Demikian beberapa catatan yang dapat dikedepankan sebagai bahan masukan dalam rangka penanganan pasca banjir di Jayapura Papua. Kiranya. Terusah merajut solidaritas kemanusiaan yang sejati. (JR)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *