Pengerjaan Drainase di Kota Ambon Temukan Banyak Sendimentasi

by
Pengerukan drainase di Jalan A.M Sangadji Kota Ambon, (3/2). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,AMBON, –  Pihak PUPR Cipta Karya Provinsi Maluku tengah mengerjakan drainase di jalan Kota Ambon. Pengerjaan itu untuk memaksimalkan fungsi saluran yang selama ini minim peremajaan.

Pengerjaan itu menyasar saluran drainase di sepanjang jalan-jalan utama kota. Seperti di Jalan Kakialy, Jalan Pattimura, Jalan Slamet Riyadi, Jalan A.M. Sangadji, Jalan Yos Sudarso Jalan A.Y Patty.

Loading…

Kasi Perencanaan Cipta Karya Dinas PUPR Provinsi Maluku, Linley Jerry Pattinama mengatakan pengerjaan yang masuk tahun anggaran 2021 itu digarap selama sekitar sebulan. Terhitung dari Januari hingga Februari.

“Pengerjaan ini dari Januari dan upayakan selesai Februari atau Maret. Dia punya nilai pengerjaan juga beda-beda,” jelasnya kepada wartawan melalui sambungan telepon pagi, (3/2/2021).

Nilai pengerjaan drainase beserta rabat beton (lapisan atas saluran dari beton) berbeda-beda. Seperti di Kelurahan Uritetu – Hunipopu senilai Rp 7.970.866.000, kecamatan Nusaniwe Rp 10.059.056.000, Urimerssing Pelabuhan Yos Sudarso Rp 3.880.030.000, drainase Aster-Tantui Rp 6.720.000.000.

Drainase kawasan Mardika Rp 6.167.886.000, drainase Pohon Pule –Jalan Baru – A.Y.Patty Rp 7.775.948.000, drainase Pulo Gangsa Rp 2.375.100.000, drainase Passo Rp 1.739.663.000 dan drainase Kelurahan Tihu Rp 1.920.000.000. Total panjang drainase yang dikerjaka di kota Ambon sekitar 5 kilometer dengan lokasi berbeda-beda.

Dari pantauan wartawan di Jalan A.M Sangadji misalnya sebuah eskavator tengah mengeruk saluran depan deretan pertokoan yang berseberangan dengan Masjiid Agung Al-Fatah Ambon. Sebuah truk juga bersiap mengangkut sendimentasi dan sampah yang dikeruk dari dalam saluran.

Sendimentasi merupakan salah satu penyebab banjir dan genangan yang lama di sejumlah ruas jalan di Ambon. Ketidakmampuan saluran menampung debit air ini mengakibatkan luapan ke jalan. Belum lagi sampah yang dibuang masyarakat ke dalam got atau saluran di atas pedestrian.

Rabat beton di Jalan Slamet Riyadi Kota Ambon

Hanya, kata Linley, persoalan sendimentasi cukup menonjol dari hasil pengerjaan drainase ini.  “Pengerjaan drainase dalam kota harus bongkar dan itu banyak sendimentasi. Misalnya di jalan depan pelabuhan saja katong sampai angkat hampir 300 ret,” terangnya kepada

Sendimentasi yang mereka temui biasanya bersumber dari pembangunan gedung, pengerukan, pembuangan saluran rumah tangga atau pun saluran pembuangan restoran yang tidak semestinya.

Seperti yang mereka jumpai di depan pelabuhan Yos Sudarso. Saat hujan reda, jalan depan pelabuhan sering tergenang dengan durasi yang cukup lama.

Warga sekitar pun mengakui jika saluran got atau drainase di kawasan itu sudah sangat lama tidak dikeruk. “Menurut sumber yang tinggal di situ hampir 30 tahun tidak pernah ada maintenance,” jelasnya singkat.

Dari pengerjaan ini dia berharap, warga kota lebih peka akan lingkungan. Misalnya dengan menempatkan saluran pembuangan yang tepat, tidak membuang sampah di saluran maupun limbang pembangunan ke saluran pembuangan. (PRISKA BIRAHY)