Pengukuhan Jafar Wael, Raja Kayeli, “Penguasa Gunung Botak” Berlangsung Sakral

by
Warga mengantar Jafar Wael ke Masjid Nurul Huda untuk dikukuhkan sebagai Raja Negeri Kayeli pada Senin (10/10).

NAMLEA- Setelah melalui rangkaian proses adat, Jafar Wael akhirnya dikukuhkan sebagai Raja Negeri Kayeli Kecamatan Teluk Kayeli Kabupaten Buru pada Senin (10/10) sore. Pengukuhan berlangsung di Masjid Nurul Huda oleh Imam Masjid Negeri Kayeli Idrus Bai dan disaksikan Imam Adat Gi Fuji Angos Wael, Kepala Saniri Negeri Kayeli Mahmud Hentihu. Selain itu para petuah adat dan Kepala Soa Dataran Tinggi atau Norapito, yang terdiri tujuh Kepala Soa dan Kepala Soa Dataran Rendah atau Noropa, empat Kepala Soa menyaksikan pengukuhan itu.
Prosesi pengukuhan berlangsung sakral dan khidmat, sarat dengan nilai – nilai adat setempat. Diawali penjemputan sang raja oleh iman Negeri Kayeli di rumahnya. Sebelum keluar rumah, imam membacakan doa selamat kepada sang raja. Setelah itu, raja kemudian diantar imam negeri, imam adat, saniri negeri, para kepala soa dan warga ke Masjid Nurul Huda.Di halaman masjid, rombongan raja disambut dengan musik tradisional setempat. Raja dan imam negeri masuk ke dalam masjid dan dibacakan doa selamat oleh imam kepada sang raja.
Setelah itu imam menyematkan selendang raja, serta dilakukan prosesi penyerahan tanda kebesaran raja turun temurun yang dibungkus dengan kain putih dari keturunan raja kepada Jafar Wael, selalu Raja Negeri Kayeli. Raja Jafar Wael dikukuhkan menggantikan raja sebelumnya yang wafat. Proses pengukuhan raja disaksikan Camat Teluk Kayeli Ismail Soamole, mewakili Bupati Buru Ramly Umasugi dan unsur Muspika lainnya.
Menurut Kepala Saniri Negeri Kayeli Mahmud Hentihu, sebelum Jafar Wael dikukuhkan sebagai raja, telah dilakukan penunjukan oleh imam negeri lewat musyawarah adat. Setelah itu, imam negeri membawa raja yang ditunjuk tersebut kepada warga di dataran tinggi untuk diumumkan sehingga mereka mengetahui. “Penunjukan Jafar Wael sebagai Raja Negeri Kayeli sudah melalui tradisi dan proses adat turun temurun. Dan terakhir raja dikukuhkan di masjid oleh imam negeri serta dibacakan doa selamat kepada raja,” kata Mahmud Hentihu.
Raja Jafar Wael menyatakan, setelah ini ia akan meluruskan seluruh aturan adat dalam negeri serta batas –batas petuanan Kayeli. Ia berharap dengan pengukuhannya ini warga makin bersatu, dapat mengakhiri segala polemik yang terjadi soal penunjukan raja. “Setelah ini saya akan mengambil langkah – langkah untuk merapikan, meluruskan aturan adat dalam negeri termasuk batas – batas petuanan Kayeli.Saya sanggup melakukannya untuk kemajuan negeri kami,” katanya.
Camat Teluk Kayeli Ismail Soamole menyatakan, seharusnya Bupati Buru Ramly Umasugi menghadiri pengukuhan Raja Negeri Kayeli, namun karena padatnya acara Festival Pesona Bupolo dan rangkaian HUT Kabupaten Buru, ia ditugaskan untuk mengantikan serta memberikan sambutan. “Atas nama Bupati, saya menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran beliau dan saya diminta mewakili beliau menyampaikan arahan karena begitu padat kegiatan bupati terkait agenda HUT Kabupaten Buru,” katanya.
Dalam kesempatan itu, camat juga menyatakan pihaknya siap bekerjasama dengan raja dalam rangka mendukung kegiatan raja sehingga situasi keamanan di Kayeli tetap terjaga. Usai pengukuhan, warga kemudian mengantar raja kembali ke rumahnya dengan musik tradisional. Sejumlah warga juga histeris saat mengantar raja kembali ke rumahnya, mereka tak kuasa menahan haru dan sedih atas pengukuhan raja Kayeli itu. Warga juga menggelar cakalele, tarian khas Negeri Kayeli.
Posisi Raja Kayeli sangat strategis karena wilayah kekuasannya sangat luas, termasuk wilayah tambang emas Gunung Botak Kabupaten Buru. Atas keputusan raja, warga bisa memasang sasi, tanda larangan di areal tambang emas Gunung Botak, serta memberikan izin terkait tambang tersebut. Karena Itulah pengangkatan raja penuh dengan polemik diantara mereka, dan sarat isu campur tangan pihak lainnya terkait tambang emas Gunung Botak. ADI